[Persepsi Berbahaya] Dialog Antarperadaban (Bagian 2/3)

[Seri buku ideologis, Bagian 4]

MuslimahNews.com, PERSEPSI BERBAHAYA — Sesungguhnya pihak Barat yang menyerukan dialog dengan kaum muslimin dan memimpin berbagai konferensi dialog antaragama itu, memandang Islam dengan pandangan permusuhan. Pandangan inilah yang menjadi motif bagi dialog antaragama, yang dijadikan dasar untuk mengontrol dan mengatur kegiatan tersebut.

Dialog Antarperadaban Pandangan Barat yang Hakiki terhadap Islam

Ensiklopedi Kebudayaan Prancis, yang menjadi referensi setiap peneliti, mendeskripsikan Muhammad Rasulullah saw. sebagai “pembunuh, penculik para wanita, dan musuh terbesar bagi akal umat manusia”. Demikian pula halnya mayoritas literatur akademis di Eropa Barat, yang menjelaskan sifat Rasulullah saw., Islam, dan kaum muslimin dengan sifat-sifat yang sangat keji.

Sementara itu, dalam buku The End of History karya pemikir Amerika Francis Fukuyama, terdapat sebuah pernyataan, ”Sistem Kapitalisme adalah babak penghabisan yang abadi bagi umat manusia di bumi. Akan tetapi Islam, meskipun dalam kondisi lemah dan tercerai-berai, sesungguhnya tengah mengancam agama baru yang menang ini (yaitu, Kapitalisme).”

Sekjen NATO Willie Claise pernah mengatakan, “Islam fundamentalis adalah bahaya yang mengancam geopolitik masa depan.”

Sedang orientalis Bernard Lewis menyatakan pandangannya tentang Islam dan Kapitalisme, ”Keduanya bertentangan satu sama lain. Tak mungkin ada dialog di antara keduanya.”

Samuel P. Huntington, profesor ilmu-ilmu politik di Universitas Harvard Amerika, dan direktur Institut John M. Ulin untuk Studi-Studi Strategis di Universitas Harvard berkata,”Sesungguhnya benturan antarperadaban nanti akan mendominasi politik luar negeri. Batas-batas pemisah antarperadaban di masa depan nantinya akan menjadi batas-batas konfrontasi antarperadaban.”

Dia kemudian mengatakan,”Agama telah membedakan manusia dengan amat tegas dan jelas. Seseorang bisa saja setengah Prancis setengah Arab… Tetapi sangat sulit seseorang menjadi setengah Katolik setengah muslim.”

Baca juga:  Jalan Tengah (Sikap Moderat/Kompromi)

Jika demikian halnya pandangan Barat yang hakiki, lalu di mana sebenarnya dialog yang mereka serukan kepada kita dengan sikap permusuhannya itu?

Jika berbagai pernyataan di atas dikaitkan dengan berbagai aksi permusuhan yang dilakukan oleh Barat untuk melawan Islam dan umatnya—seperti Perang Salib, pembasmian umat Islam di Spanyol, penghancuran Khilafah, lalu pendirian negara Yahudi di Palestina, pemberian predikat terorisme dan ekstremisme terhadap Islam dan gerakan-gerakan Islam—niscaya kita akan dapat memahami target-target dari dialog antaragama yang diadakan oleh Barat yang kafir terhadap kaum muslimin.

Target-Target Dialog Antaragama

Sesungguhnya target mendasar yang hendak diwujudkan oleh para kapitalis dari dialog antaragama dan antarperadaban itu, adalah menghalang-halangi kembalinya Islam ke dalam realitas kehidupan sebagai suatu sistem kehidupan yang menyeluruh, sebab sistem ini akan mengancam kelestarian ideologi dan peradaban mereka serta akan dapat memusnahkan segala kepentingan dan pengaruh mereka.

Target-target cabang lainnya untuk merealisasikan target mendasar itu cukup banyak. Misalnya, mereka berusaha untuk mewarnai dunia dengan warna (shibghah) peradaban kapitalisme—utamanya wilayah-wilayah yang menjadi tempat hidup kaum muslimin—untuk menggantikan peradaban Islam sehingga Barat dapat lebih mudah menghapus tsaqafah islamiah dari benak kaum muslimin.

Target ini diupayakan dengan mengguncang kepercayaan kaum muslimin terhadap tsaqafah islamiah beserta sumber-sumber dan asas-asasnya. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan Islam dari medan pertarungan peradaban dengan mengosongkan Islam dari ciri khas terpenting yang membedakannya dari agama-agama lain—yaitu politik—yang karenanya wajib didirikan negara Khilafah yang akan mengatur seluruh urusan rakyat sesuai hukum-hukum Islam dan mengemban risalah Islam kepada seluruh manusia.

Mereka juga berusaha untuk membentuk kepribadian muslim dengan format kepribadian yang baru, yakni pribadi yang tidak akan merasa bersalah bila meninggalkan kewajiban dan mengerjakan keharaman.

Baca juga:  [Persepsi Berbahaya] Globalisasi (Bagian 1/2)

Mereka juga berusaha merusak perasaan Islami pada seorang muslim dan membunuh semangat (ghirah) Islam yang ada dalam jiwanya, sehingga muslim tersebut tidak mampu lagi membenci kekufuran dan orang kafir, serta tidak mau memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.

Mereka bermaksud pula melenyapkan ketahanan budaya dalam tubuh umat Islam—yang dengannya dapat ditangkal setiap unsur pemikiran asing—serta meratakan barikade-barikade berupa pola pikir (aqliyah) dan pola jiwa (nafsiyah) yang berpotensi mengancam eksistensi peradaban kapitalis di negeri-negeri Islam.

Dengan demikian, diharapkan pemeliharaan atas segala pengaruh dan kepentingan mereka dapat berlangsung mudah yang pada gilirannya ini akan dapat menjamin kelestarian dan kesinambungan eksistensi mereka.

Dialog antaragama yang direkayasa oleh kaum kafir dan para penguasa negeri-negeri Islam yang menjadi agen mereka, yang didukung oleh kawan-kawan dekat penguasa tersebut dari kalangan ulama dan intelektual, sebenarnya bermaksud untuk menciptakan agama baru kaum muslimin yang didasarkan pada akidah pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Padahal, akidah ini menetapkan bahwa membuat hukum adalah hak manusia, bukan hak Allah Swt. yang telah menciptakan manusia.

Mengenai para perekayasa dialog antaragama itu, Allah Swt. telah berfirman,

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran) seandainya mereka mampu.” (QS Al-Baqarah: 217)

Demikian pula Allah Swt. berfirman,

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS Al-Baqarah: 120)

Karena peradaban Islam berasaskan akidah islamiah, sementara peradaban kapitalisme berasaskan akidah kapitalisme (pemisahan agama dari kehidupan), maka titik temu di antara keduanya hakikatnya tak mungkin ada.

Baca juga:  [Persepsi Berbahaya] Dialog Antaragama (Bagian 1/3)

Jadi, maksud dialog antaragama yang dipimpin oleh Barat yang kafir itu, adalah agar kaum muslimin melepaskan persepsi-persepsi Islam untuk kemudian digantikan dengan persepsi-persepsi kapitalisme, sebab Barat telah mengerti bahwa mengompromikan dua ideologi yang kontradiktif adalah hal yang mustahil.

Dialog antaragama dan antarperadaban untuk mencari titik temu di antara agama atau peradaban yang ada dan untuk menciptakan sebuah peradaban manusia yang baru, hanyalah sebuah ilusi belaka. Justru yang harus ada adalah pertarungan pemikiran (ash shira’ul fikri) di antara berbagai agama dan peradaban, agar dapat diketahui mana yang hak mana yang batil, mana yang mulia mana yang hina, dan mana yang baik mana yang buruk.

Allah Swt. berfirman,

“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat pada manusia, maka ia tetap di bumi.” (QS Ar-Ra’d: 17)

Dialog antaragama yang diserukan Barat kepada kita sesungguhnya adalah dialog yang bersifat sepihak. Dialog ini diprakarsai oleh musuh-musuh Islam yang bertujuan untuk menghancurkan Islam, peradaban Islam, dan umat Islam itu sendiri. Karena itu, kaum muslimin harus mempersiapkan segala sarana pertarungan yang memadai, yang hanya dapat terwujud dengan kembalinya negara Khilafah.

Negara Khilafah inilah yang akan terjun langsung ke dalam pertarungan fisik/jihad (ash shira’ul maadi), di samping pertarungan pemikiran (ash shira’ul fikri), dalam rangka menyebarluaskan peradaban Islam yang bermutu tinggi dan untuk memusnahkan peradaban kapitalis yang palsu dan bejat. [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 3/3


Sumber: Buku Persepsi-Persepsi Berbahaya untuk Menghantam Islam dan Mengukuhkan Peradaban Barat


 

Tinggalkan Balasan