[News] Lockdown, Skenario Terburuk Tanpa Solusi?

MuslimahNews.com, NASIONAL — Meningkatnya kasus aktif Covid-19 di berbagai daerah menyebabkan dorongan penerapan lockdown menguat. Salah satunya berasal dari Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban yang meminta pemerintah mengganti istilah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro menjadi lockdown alias kekarantinaan wilayah.

“Sudah saatnya pemerintah pusat dan daerah tegas untuk menyesuaikan regulasi mengingat lonjakan kasus positif virus corona sudah membuat keterisian tempat tidur di rumah sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR) melonjak,” ujarnya.

Hanya saja sejumlah pihak ragu pemerintah berani mengambil kebijakan tersebut mengingat dampaknya yang akan sangat buruk bagi perekonomian.

Sebagaimana disampaikan Kepala Departemen Ekonomi CSIS Yose Rizal Damuri, lockdown ibarat obat keras yang punya efek samping. Skenario terburuk dari kebijakan pengetatan tersebut adalah melesetnya proyeksi pertumbuhan ekonomi pemerintah yang pasti juga akan diikuti pertambahan jumlah pengangguran dan angka kemiskinan baru. Akibatnya utang APBN semakin menumpuk.

Prediksinya, jika lockdown dilakukan apalagi sampai selama sebulan, kemiskinan bisa bertambah di atas 500 ribu orang atau setengah dari penambahan penduduk miskin pada periode Maret-September 2020 yang mencapai 1,13 juta orang. “Sedangkan angka pengangguran bisa tembus ke kisaran 8—9%,” ucapnya.

Berawal dari Rusaknya Tatanan Dunia Hari Ini

Kondisi ini dinilai oleh pengamat ekonomi Islam Ustazah Nida Saadah, S.E.Ak., M.E.I. memang akan bergulir seperti ini selama proses penanganan wabah berada dalam kendali korporasi farmasi. Korporasi akan selalu berhitung cost and profit. Dampaknya, wabah tidak kunjung bisa diselesaikan, sementara varian virus makin beragam.

“Di sisi lain, ada faktor pergerakan ekonomi yang ingin dikedepankan. Semuanya menjadi makin tidak jelas lagi, mana ujung dan mana pangkalnya,” terangnya.

Menurutnya, semua berawal dari rusaknya tatanan dunia hari ini. Sehingga, seakan-akan masalah ini memang tidak akan mampu diatasi peradaban mana pun. Namun sejatinya, masalah ini seakan-akan “tiada kejelasan solusi” adalah ketika regulasinya berjalan dalam tatanan sekuler dan role model negara pemegang peradabannya sekarang adalah negara demokrasi sekuler.

Sebelum terjadi wabah global, dunia ketika dihegemoni peradaban sekuler sudah mengalami problem ekonomi akut.

“Kemiskinan dan kelaparan meluas, alam dirusak, pengangguran meluas, bahkan kemiskinan sudah menjadi silent killer. Ketika pandemi covid-19 mengglobal, problem ekonomi akut tentu saja makin parah,” kritiknya.

Ustazah Nida menjelaskan, lantas ketika penguasa berbagai negeri merasa yakin bahwa vaksin menjadi tumpuan solusi, hadirlah varian virus baru. Jutaan dosen vaksin sudah telanjur dan tetap harus didistribusikan. “Tentu dengan berbagai harapan dan doa masing-masing,” imbuhnya.

Bukalah Mata Hati

Ustazah Nida mengingatkan, semestinya situasi dunia hari ini membukakan mata hati kita, mata hati umat manusia, khususnya umat Islam.

“Dalam situasi ini, sesungguhnya siapa telah menguji siapa? Mengapa situasinya seperti ini? Tak adakah jalan keluar yang bisa menyelamatkan semuanya, jalan keluar yang bisa mengadopsi kepentingan semuanya? Tanpa harus memilih antara ekonomi ataukah penyelesaian wabah?” tanyanya retorik.

Maka, Allahlah yang telah mengatur dan menetapkan ini semua. Allah Swt., Sang Maha Pengatur yang telah menetapkan kapan virus ini menyebar di tengah manusia, kapan virus ini mengalami mutasi, dan berbagai hal lainnya.

“Sebelum kehadiran makhluk kecil ini, situasi ekonomi memang sudah parah. Yang paling merasakan dampaknya tentu saja kalangan bawah yang menderita kemiskinan dan kelaparan. Jumlah mereka di dunia ini ada ratusan juta. Namun, tak semua manusia memperhatikan situasi ketakadilan ini,” paparnya.

Ia menyampaikan, ketika virus ini menyebar dan membuat manusia mengurangi intensitas pertemuan sesama mereka, ekonomi makin terpukul, dan semua orang mulai berpikir tentang situasi ini. Ketika korporasi raksasa farmasi menabur harapan umat manusia pada program vaksinasi, Allah uji kembali dengan berkembangnya varian virus yang baru.

“Kemudian ketika situasi makin parah dan tak terkendali. Mestinya manusia makin sadar bahwa ada yang hendak diingatkan pada manusia dalam situasi ini. Manusia diingatkan bahwa dia tidak bisa membuat perencanaan apa pun jika Allah tidak rida,” cetusnya.

Ia melanjutkan, pemegang peradaban hari ini yang berada dalam dominasi negara kapitalis sekuler, membuat berbagai rencana untuk atasi problem kesehatan dan ekonomi, tetapi selalu gagal.

“Karena sifat sombong manusia memang tidak akan berbuah apa-apa selain kehancuran,” tegasnya.

Berbenah dan Bersiap Menjalankan Syariat Islam Kafah

Ustazah Nida berharap, andai umat Islam sadar, segera berbenah, menyiapkan diri mengambil alih kepemimpinan dunia, maka insyaallah situasi dunia hari ini akan berubah. Memimpin perubahan dunia menjadi wajah baru yang mengedepankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Siap menjalankan semua regulasi ekonomi dalam syariat kafah. Siap menjalankan semua regulasi kesehatan saat menghadapi wabah. Siap memberlakukan itu semua dalam institusi politik yang diwariskan Nabi, sistem Khilafah Islamiyah. Di dalamnya tidak perlu memilih kepentingan kesehatan ataukah ekonomi. Justru semuanya berjalan harmoni ketika diatur dengan hukum syariat Islam dalam Negara Khilafah Islam” tukasnya.

Ia menguraikan, negara Khilafah tidak perlu berutang riba karena ada sistem keuangan negara berbasis syariat, yakni baitulmal. Negara Khilafah tidak perlu menggantungkan diri pada korporasi karena negara memiliki perangkat lengkap untuk mengambil langkah di saat wabah.

Negara Khilafah pun akan memobilisasi potensi sumber daya manusia dengan seluruh keahlian yang mereka miliki, yang disumbangkan di saat kondisi genting. Negara Khilafah juga mempunyai kemampuan menggerakkan ekonomi pada saat wabah.

“Semuanya mengacu pada sistem perundangan-undangan sempurna yang berasal dari Islam. Lalu, peristiwa apalagi yang kita tunggu untuk bisa menyadarkan kita?” tutupnya. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan