Cegah Kejahatan Digital Sebelum Mewabah


Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq


MuslimahNews.com, OPINI — Siapa yang tidak kenal dengan Korea Selatan? Artisnya melegenda mengarungi samudra. Filmnya merajai bumi Nusantara. Hingga makanannya pun menggema seantero jagat Indonesia.

Masih ingat dengan fenomena BTS Meal yang sempat membuat gaduh menimbulkan kerumunan bukan? Tak hanya itu, life style-nya pun sukses mengaduk-aduk “ghirah” para pemujanya.

Korean wave saat ini memang sedang digandrungi. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa menyukai. Apalagi sekarang di televisi juga ada film Korea setiap hari. Emak-emak siap duduk manis, menonton, dan menikmati. Cerita cinta, persahabatan, dan perjuangan menghiasi. Namun siapa sangka, gemerlap cerita film Korea tidak seindah kehidupan mereka yang asli.

Korea Selatan dalam Dekapan Kriminal

Dilansir dari tempo.co (16/6/21), penduduk di negeri ginseng itu kini tengah dilanda kecemasan. Kejahatan seksual melalui teknologi sedang marak di negeri BTS itu. Pelaku menggunakan alat digital kamera kecil untuk mengintai korban yang sedang telanjang, buang air kecil, ataupun berhubungan seks. Semua itu dilakukan dengan kamera tersembunyi.

Menurut data Institut Kriminologi Korea, tindak kejahatan digital naik 11 kali lipat dalam kurun 2008—2017. Lembaga riset Human Right Watch (HRW) juga menemukan akibat dari kejahatan tersebut, para korban banyak yang memutuskan bunuh diri atau meninggalkan negara. Mereka merasa tertekan dengan kondisi ini yang terutama dialami para perempuan, baik dewasa/anak-anak yang menjadi korban penjarahan seksual.

Matang di Luar, Mentah di Dalam

Sungguh miris. Di dunia, Korea Selatan sedang menjadi perbincangan hangat. Peradabannya menjadi contoh panutan para remaja. Tak jarang yang rela mengorbankan harta, waktu, dan tenaga hanya untuk menikmati sensasi all about Korea. Namun, di dunia nyata justru mengalami digital crime (kejahatan digital).

Korea Selatan menjadi salah satu contoh negara maju yang berhasil menggaet dunia, terutama di bidang hiburan, teknologi, hingga makanan. Dari luar, Negeri Ginseng ini terlihat “wah”, megah, dan gagah. Kenyataannya, di dalam justru sedang kolaps, keropos, dan hampir roboh.

Dengan kondisi seperti itu, setiap orang dilingkupi rasa waswas dan saling curiga. Mereka tidak dapat hidup tenang bahkan ketika berada di rumah pribadi sekalipun. Sementara itu, pelaku tak lagi mengindahkan hukuman, apalagi takut ditangkap. Semua itu dilakukan dengan berani demi kepuasan diri.

Standar Kebahagiaan yang Keliru

Mengapa masalah terus terjadi, padahal Korea Selatan termasuk negara maju? Perlu diketahui, sebutan negara maju berstandar dari cara pandang Barat. Bagi mereka, kategori maju manakala negara tersebut memiliki teknologi yang tinggi, pola pikir sekuler, dan tidak memakai agama sebagai aturannya. Intinya, mengambil kapitalisme sebagai standar pembuatan aturan.

Kapitalisme sendiri merupakan paham yang memiliki pandangan hidup materialisme. Sekularisme atau pemisahan antara agama dan dunia menjadi acuannya. Seseorang dinilai berhasil dan akan bahagia ketika mendapatkan materi (kebahagiaan duniawi). Tidak ada aturan halal dan haram, yang ada menguntungkan atau tidak.

Dengan demikian, penentu benar dan salah adalah akal manusia. Pemahaman ini dipakai, baik di lingkungan negara maupun masyarakat. Walhasil, rakyat juga bebas menentukan perilakunya, yang penting menguntungkan dan menyenangkan. Tidak ada rem yang benar menyebabkan akal manusia menjadi liar. Mereka terus berpikir bagaimana memuaskan diri dengan melakukan hal-hal baru meskipun membahayakan orang lain.

Kemajuan teknologi yang difasilitasi negara disalahgunakan oleh mereka demi kepuasan pribadi. Pikiran kotor yang sebelumnya sudah menggelayuti, telah membuat akal sehat tak lagi berfungsi. Alhasil, kejahatan digital merajalela, membuat stres korban-korbannya.

Negara sebagai Perisai

Kerusakan moral yang terjadi di Korea Selatan bisa saja menimpa negeri ini manakala negara tidak berperan sebagai perisai. Arus korean wave yang sedang melanda akan mudah menghancurkan para pemuda jika tidak dibendung segera.

Sebagaimana kita lihat di negeri asal Blackpink itu, kala kebebasan berpikir, bertingkah laku, serta kepemilikan dibebaskan, kejahatan menjadi merajalela. Kalau terus-terusan membiarkan budaya itu masuk, apakah kita mau jika kejahatan serupa masuk Indonesia?

Oleh karena itu, negara harus segera melakukan counter terhadap serangan budaya ini, khususnya ide rusak yang memengaruhi para remaja. Apalagi negeri nyiur melambai ini mayoritas beragama Islam.

Budaya Korea yang cenderung mengagungkan kebebasan jelas bertentangan dengan Islam. Menurut Islam, tolok ukur perbuatan terikat dengan hukum syariat. Begitu pun standar kebahagiaannya adalah meraih rida Allah Swt..

Maka, apabila negeri ini masih memakai sekularisme dan menerapkan demokrasi, tidak akan pernah bisa membendung korean wave tadi. Hanya negara yang memiliki visi misi jelas yang dapat menumpas tuntas. Kalau bukan dengan Islam, apalagi yang bisa menghambat segala kerusakan? [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan