Pergaulan Rasulullah saw. dalam Keluarga, sehingga Tercipta Kehidupan Keluarga yang Harmonis


Penulis: Najmah Saiidah


MuslimahNews.com, KELUARGA — Rasulullah Muhammad saw. adalah sosok mulia yang dipilih Allah Swt. sebagai teladan terbaik bagi umat manusia dalam segala aspek kehidupan. Mencintai Rasulullah saw. adalah meneladani dan melaksanakan semua syariat yang dibawa Rasulullah saw. tanpa kecuali.

Dalam urusan rumah tangga pun keluarga muslim harus menjadikan Rasulullah saw. sebagai teladan terbaik. Yaitu tentang bagaimana beliau memperlakukan istrinya, anak-anaknya, dan memupuk keharmonisan dalam rumah tangga. Hal ini tampak dalam interaksi Baginda Rasul dengan semua anggota keluarganya.

Rasulullah saw. sangat menekankan pentingnya menjaga keharmonisan keluarga karena pada hakikatnya baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Saat seseorang memiliki keluarga yang harmonis, maka dia akan bekerja dengan tenang. Ketenangan di luar itu cermin dari rumah tangga yang damai.

Keharmonisan ini terwujud dengan interaksi yang baik dan intens dengan seluruh anggota keluarganya. Seperti apa Rasulullah mencontohkan pergaulan yang makruf untuk kita semua?

Pergaulan Rasulullah di Tengah Anggota Keluarga

Rasulullah saw. sangat mencintai keluarganya, beliau merupakan pribadi yang penyayang, dikenal sebagai sosok pelindung keluarganya. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, Rasulullah saw. bersabda,

«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ ِلأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ ِلأَهْلِي»

”Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya. Sesungguhnya aku sendiri adalah orang yang paling baik di antara kalian dalam memperlakukan keluargaku.” (HR Ibnu Majah)

Hadis ini menegaskan bagaimana perlakuan dan perhatian beliau terhadap keluarga sangatlah besar. Beliau penuh dengan cinta kasih, akhlak terpuji, dan kebijaksanaan yang menaungi keluarga. Hadis lainnya, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lemah lembut terhadap keluarganya.” (HR Bukhari Muslim)

Banyak pula periwayatan yang menggambarkan bahwa Rasulullah bergaul dengan sangat baik kepada keluarganya, bersenda gurau dan lemah lembut terhadap mereka. Rasulullah sering kali bercakap-cakap sebentar dengan keluarganya selepas salat Isya, sebelum beliau tidur dengan percakapan yang menyenangkan.

Baca juga:  Rumahku Surgaku

Pergaulan Rasulullah dengan Anak-Anak dan Cucunya

Rasulullah saw. adalah sosok penyayang dan ramah kepada anak-anak. Hal ini diakui langsung oleh Anas bin Malik yang kesehariannya lebih banyak mendampingi Rasulullah saw. Anas bin Malik berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih sayang kepada keluarga, selain Rasulullah.”

Keakraban beliau kepada keluarga terlihat jelas dalam berbagai kesempatan dan diabadikan dalam hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi. Contohnya, pernah pada suatu ketika Rasulullah mencium salah seorang cucunya, yakni Hasan bin Ali.

Kejadian itu disaksikan langsung oleh al-Aqra‘ bin Habis yang kemudian diriwayatkan ke dalam hadis oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Al-Aqra‘ pun berkomentar: “Aku memiliki sepuluh orang anak, tapi tak ada satu pun yang biasa kucium.” Rasulullah saw. menoleh ke arahnya dan menjawab, ”Siapa yang tak sayang, maka tak disayang.”

Begitu juga saat beliau memperlakukan cucu-cucunya. Ketika Rasul bersujud saat melaksanakan salat, cucunya, Hasan dan Husein, bermain di punggungnya. Rasulullah tidak bangun sampai mereka puas bermain.

Bentuk lain kasih sayang dan kelembutan Rasulullah kepada anak-anak adalah tidak membebani mereka di luar kemampuannya. Disebutkan, pada saat perang Uhud, beliau didatangi sejumlah anak yang ingin ikut berperang.

Namun dengan lembut, beliau menolak keinginan mereka lantaran usia mereka yang belum cukup, alias masih kecil. Adapun anak-anak yang datang kepada Rasulullah itu antara lain Abdullah bin Umar bin Khathab, Usamah bin Zayd, Usaid bin Zhuhair, Zayd bin Tsabit, Zayd bin Arqam, Arabah bin Aus, Amr bin Hazm, Abu Said al-Khudri, dan Sa‘d bin Habah.

Pergaulan Rasulullah dengan para Istrinya

Allah telah memerintahkan agar suami bergaul dengan istrinya dengan cara yang makruf, sebagaimana layaknya seorang sahabat secara sempurna. Inilah yang Rasulullah lakukan terhadap istri-istrinya. Memberikan hak-haknya, nafkah, dan mahar baginya, tidak bermuka masam di hadapan istrinya, dan tidak menampakkan kecenderungan kepada wanita lain.

Baca juga:  Rumahku Surgaku

Firman Allah, “ … Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisaa’: 19)

Rasulullah saw. teladan terbaik, bergaul dengan makruf kepada keluarganya. Dari Muawiyah al-Qusyairi, Nabi pernah ditanya,

“Apakah hak seorang wanita atas suaminya? Rasulullah menjawab, ‘Engkau memberinya makan jika engkau makan dan engkau memberi pakaian jika engkau berpakaian. Janganlah memukulnya pada wajah, jangan mencaci maki dan jangan menjauhinya, melainkan dalam rumah.’(HR Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Kehidupan pernikahan yang penuh persahabatan dengan istri-istrinya telah Rasulullah contohkan pada kita semua. Hal ini tampak dari bagaimana tingkah laku, sikap, dan kata-kata yang beliau sampaikan terhadap istri-istrinya. Tidak ada satu hadis pun yang menyebut bahwa Rasulullah pernah memukul atau mengumpat pada istrinya.

Rasul menyapa istrinya dengan sapaan hangat dan baik. Rasul menyapa Khadijah dengan sebutan “Ya habibi, wahai kekasihku”. Begitu juga dengan Aisyah yang disapa dengan “Ya Humaira, wahai wanita yang pipinya kemerahan”.

Sebuah kisah yang selalu kita ingat bagaimana pergaulan Rasulullah mengajak istrinya Aisyah lomba lari. Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya untuk mempersilakan mereka berjalan lebih dulu. Kemudian Rasulullah berkata kepada Aisyah, ” Ayo kemarilah. Kuajak engkau adu cepat lari.” Aisyah dengan gesit lari dan berhasil mengalahkan Nabi.

Waktu terus berlalu. Beberapa tahun kemudian Aisyah kembali menemani beliau dalam sebuah perjalanan. Beliau kembali mempersilakan para sahabatnya untuk berjalan lebih dulu. Lalu, beliau berkata kepada Aisyah, ” Ayo kemarilah! Kuajak engkau adu cepat lari.”

Baca juga:  Rumahku Surgaku

Aisyah tersenyum. Sebab saat itu tubuhnya sudah mulai gemuk. Aisyah bertanya, ” Bagaimana aku bisa beradu cepat denganmu ya Rasulullah, sedangkan badanku begini?” Rasulullah bersabda, “Ayo lakukanlah!”

Lalu Aisyah berusaha lomba lari dengan Nabi saw. Saat itu Nabi berhasil mendahului Aisyah. Beliau pun tertawa riang dan berkata, ” Sekarang aku telah mampu mengalahkanmu.” Demikian romantisnya Rasulullah saw.

Rasulullah pun pernah berpesan kepada para suami agar tetap bersabar menghadapi sikap para wanita (istri) yang kurang disukai. Meski ada hal-hal yang tidak disukai dari gelagat atau sikap istri, hal itu tidak menjadi alasan bagi para suami untuk berlaku kasar.

Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dan Imam Ahmad, “La yafrak mu’minun mu’minatan in kariha minha khuluqan radhiya minha akhara. Yang artinya, “Janganlah marah (laki-laki muslim/suami) kepada seorang wanita musiman (istri). Jika tidak menyukai perangai darinya, maka sukailah perangai lainnya.”

Nabi juga mengajarkan untuk menjaga rahasia keluarga, khususnya rahasia istrinya. “Sesungguhnya, suami merupakan pakaian istri dan istri adalah pakaian suami,” ujarnya.

Rasulullah tidak pernah membuat masalah dengan istrinya. Dia tidak pernah mencela istri ketika makanan yang dimasak istri tidak enak. Pernah ketika pulang ke rumah, istrinya melarang untuk memakan sayur yang dibuat istrinya karena ketumpahan cuka. Rasul pun menjawab dia suka minum cuka dan sayur masam itu pun dimakannya dengan senang hati.

Begitu juga ketika istrinya memanggang roti terlalu lama hingga gosong. Rasul tetap memakannya sambil berkata roti yang dibakar memang akan hangus. Rasul tetap menjaga keharmonisan keluarga.

Demikianlah bagaimana Rasulullah saw. memberi teladan yang sangat indah kepada keluarga muslim bagaimana seharusnya bergaul secara makruf dengan seluruh anggota keluarga, sehingga akan terwujud keluarga yang harmonis, yang penuh dengan ketenteraman dan keberkahan. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan