[Nafsiyah] Pandai dan Bodoh Tidak Ditentukan oleh Banyaknya Ilmu Saja, Tapi Juga Keberpihakan


Penulis: Ustaz Azizi Fathoni


MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Banyak ilmu “ulama”, tetapi mendukung kezaliman penguasa menerapkan hukum jahiliah. Maka, orang tersebut tidak pandai, bahkan tergolong manusia terbodoh.

Al-Imam Abu Bakr Taqiyuddin al-Hishni asy-Syafi’i (w. 829 H) rahimahullah dalam kitab beliau Kifâyatul Akhyâr tepatnya bab “Wasiat”, menjelaskan siapakah manusia “terpandai” dan “terbodoh” itu.

Bahwa manusia terpandai adalah yang zuhud. Sedangkan terbodoh adalah:

الفقهاء الذين يُؤازرون أُمراءَ الجَورة. لأَنهم يقرونهم على أَحْكَام الْجَاهِلِيَّة إِذْ يلْزم من السُّكُوت اندراس الشَّرِيعَة المطهرة

“Aku (Al-Imam Taqiyuddin Al-Hishni) katakan: berdasarkan pendapat ini, maka harta tersebut lebih tepatnya diwasiatkan kepada “ulama” yang membela para penguasa zalim. Sebab mereka mendiamkan penerapan hukum-hukum jahiliah. Di mana diamnya mereka (terhadap penerapan hukum jahiliah) itu menyebabkan sirnanya penerapan syariat Islam yang suci.”

Taqiyuddin, Abu Bakr al Hishni. 2009. Kifâyatul Akhyâr. Cet. 2. (Jeddah: Darul Minhaj) hlm. 465

Kenapa terbodoh? Karena jika orang melakukan kesalahan lantaran tidak tahu kalau itu salah, maka masih lumrah karena memang tidak tahu (bodoh biasa). Seperti orang awam memasukkan tangan ke moncong buaya yang sedang menganga, mengiranya aman lalu digigitnya.

Yang tidak lumrah adalah seseorang melakukan kesalahan atau mendukung kesalahan, sedangkan dia tahu kalau itu salah (bodoh luar biasa). Seperti yang dilakukan pawang buaya satu ini, pertunjukannya berubah petaka. Wallahu a’lam. [MNews/Gz]

Sumber artikel: FB Ustaz Azizi Fathoni

Tinggalkan Balasan