Laju Covid dan Bahaya Hilangnya Generasi


Penulis: Vidia Gati


MuslimahNews.com, FOKUS — Data dari Worldometer pada 21/6/2021 melaporkan jumlah korban jiwa karena Covid-19 tercatat sejumlah 3.888.306 orang. Jumlah yang meninggal di Indonesia sejumlah 54.956 jiwa. (Kompas.com, 21/06/2021).

Sementara, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi negara tertinggi untuk kematian anak karena Covid-19, satu dari delapan positif kasus Covid-19 adalah anak-anak. (Merdeka.com, 21/06/2021).

Kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan. Sayangnya, di masyarakat kita masih saja memperdebatkan pandemi Covid-19 sebagai bagian konspirasi, menganggap penyakit yang tidak berbahaya, atau malah tidak percaya sama sekali dengan keberadaannya.

Pandemi yang memakan jumlah korban sangat besar pernah terjadi di dunia seperti wabah besar London yang membunuh 20% penduduk. Selain itu ada Flu Spanyol, Flu Asia, Flu Babi, Flu Hongkong, serta HIV/AIDS. HIV/AIDS sendiri, sejak kemunculannya tahun 80-an, telah mengakibatkan 25 juta orang meninggal dunia.

Namun, sekalipun jumlah meninggal karena Covid-19 belum sebanyak pada HIV/AIDS, tetapi laju penyebarannya selama setahun lebih ini sangat mengkhawatirkan. Penyebaran virus saat ini begitu kencang karena mobilitas manusia yang juga nyaris tanpa batas.

Gelombang Covid-19 jilid dua yang tampak nyata di India dan di beberapa negara lainnya seharusnya membutuhkan kebijakan cepat untuk segera menutup arus masuk warga asing ke dalam negeri. Di sisi lain juga perlu pengencangan kembali protokol kesehatan, mengingat virus ini belum betul-betul hilang.

Situasi liburan panjang, dibukanya akses pariwisata, masih terbukanya pintu masuk bagi orang asing, membuat lonjakan drastis yang dikhawatirkan para tenaga kesehatan betul-betul terjadi.

Keadaan menjadi serba sulit, ada kepala daerah yang mengumumkan akan me-lockdown wilayahnya, tetapi sejurus kemudian segera dibatalkan karena merasa tidak mampu membiayai kebutuhan masyarakat selama lockdown diberlakukan.

Sementara, jika kondisi ini dibiarkan, akan ada ancaman besar mengingat beberapa rumah sakit sudah mengumumkan kondisi penuh pasien Covid, dan masih banyak lagi yang mengantre di unit gawat darurat karena tidak kebagian kamar inap.

Baca juga:  Merindu Sistem yang Efektif Atasi Pandemi

Kekhawatiran akan hilangnya banyak generasi plus tenaga medis yang sangat dibutuhkan orang banyak pun menjadi menjadi ancaman di depan mata.

Upaya Pengendalian

Sudah banyak saran, masukan, tulisan yang berbicara mengenai bahaya pandemi Covid-19. Yang menjadi persoalan, apakah masukan yang ada diterima dan diimplementasikan dalam bentuk kebijakan?

Sebagai seorang muslim, kita tidak dapat melepaskan bahasan apa pun dari Islam sebagai solusi. Tulisan ini—sekali lagi—menjadi pengingat kita semua bahwa Covid-19 itu ada dan ikhtiar kitalah yang akan dinilai dalam menyikapi pandemi ini.

  1. Memutus rantai penyebaran.

Upaya ini bisa dilakukan sejak level individu, komunitas dan pemilik kebijakan (negara). Adalah Khalifah Umar bin Khaththab ketika dalam perjalanan menuju Syam namun harus memutuskan untuk kembali karena adanya wabah di wilayah Syam.

Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR Al-Bukhari)

Cara paling dekat dan mudah yang bisa dilakukan semua orang adalah melaksanakan protokol kesehatan secara ketat. Tidak keluar rumah jika tidak betul-betul penting untuk memutus rantai penyebaran hingga menghentikan kegiatan yang bisa melibatkan interaksi banyak orang.

Acara seperti pernikahan sudah seharusnya disederhanakan menjadi akad nikah saja tanpa diikuti resepsi atau menggelar pesta pernikahan. Pemberitahuan kepada keluarga maupun rekan sudah mencukupi. Setiap orang hendaknya tetap disiplin mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak.

Baca juga:  Mewujudkan Keluarga Tangguh, Antistres

Dalam lingkup kontrol sosial, dibutuhkan kesiapan dan kesediaan untuk menegur siapa saja yang tidak memahami protokol ini. Ada pula peran yang harus dimainkan oleh pemilik kebijakan yaitu sikap tegas menutup tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan kerumunan. Tempat hiburan, wisata untuk sementara harus ditutup.

Begitu juga ada upaya tracing untuk memisahkan yang sehat dan yang sakit, sehingga tidak terjadi kondisi aktivitas ekonomi yang lumpuh total. Yang sehat masih bisa terus bekerja dan menggerakkan roda perekonomian, sementara yang sakit memang harus diisolasi supaya tidak menularkan pada yang sehat.

Agar penerapan aturan dapat dilaksanakan dengan baik, dibutuhkan juga sanksi bagi para pelanggarnya, tentunya dengan sanksi yang adil bagi semua

  1. Transparansi informasi.

Kebutuhan transparansi informasi mengenai kondisi suatu wilayah apakah hijau, kuning, merah, atau justru hitam. Sehingga, bagi masyarakat di daerah merah atau hitam, dengan kesadaran penuh tidak berusaha keluar dari wilayahnya agar tidak terjadi perluasan sebaran penyakit.

Transparansi dan ketegasan akan dipandang oleh masyarakat sebagai edukasi yang efektif. Namun, ketika terjadi kontradiksi seperti mudik dilarang tetapi wisata dibuka dan warga negara asing tetap boleh masuk, hal ini menimbulkan ambigu, yang selanjutnya akan mendorong ketakpercayaan masyarakat dan perlawanan terhadap aturan yang diterapkan.

  1. Mengerahkan bantuan.

Pandemi ini adalah musibah yang menimpa semua manusia. Dibutuhkan uluran tangan, saling membantu bagi sesama yang sedang mendapatkan musibah.

Dalam Islam, terdapat ajaran mulia untuk saling berbagi, memberikan sedekah, juga memperhatikan tetangga yang kekurangan. Sikap ini masih terasa ada di masyarakat, terlihat ketika awal terjadi pandemi secara spontan masyarakat memberikan donasi untuk membantu kebutuhan APD di rumah sakit, memberi support untuk para tenaga kesehatan, sampai bergiliran memberikan bantuan makanan kepada yang sedang sakit atau isolasi mandiri.

Baca juga:  Kasus Covid Naik, Prestasi atau Kontroversi?

Kecenderungan untuk mengutamakan nyawa dan memberi bantuan akan lebih terasa ketika pemerintah juga melakukan hal yang sama. Namun, telah terjadi hal yang melukai 270 juta rakyat Indonesia manakala dana bantuan sosial justru dikorupsi oleh pejabat negara. Anggaran kembang kempis di bidang kesehatan pun ternyata harus berbagi dengan pembangunan infrastruktur yang saat ini justru mengalami kemacetan.

Selain itu, dibutuhkan backup keuangan yang tangguh untuk bisa bertahan dan melakukan penyelamatan terhadap seluruh rakyat. Uniknya dalam sistem Islam tidak bertumpu pada pajak, tetapi ada 12 pos yang dapat diandalkan untuk membiayai keuangan negara.

Kecukupan keuangan ini juga akan dapat dilaksanakan di tangan para pemimpin yang amanah, yang hanya takut kepada Allah, bukan takut kepada partai pengusungnya atau malah mencuri kesempatan memungut remah-remah harta rakyat. Naudzubillahi min dzalik.

Dalam pandangan Islam, skala prioritas dalam kondisi penyelamatan kemanusian dan ekonomi adalah harus mengutamakan manusianya. Kehilangan materi tidak akan berarti apa-apa jika dibandingkan dengan hilangnya sumber daya manusianya.

Terhitung hingga Januari 2021, sudah 647 tenaga kesehatan yang gugur terpapar Covid-19. Padahal, butuh waktu yang tidak sebentar untuk mencetak seorang dokter, perawat, laboran, bidan, apoteker, dan lain sebagainya.

Tidak sedikit pula dari kalangan intelektual, birokrat, ulama yang juga wafat karena terpapar Covid-19. Generasi adalah aset bangsa, dibutuhkan upaya penyelamatan segera untuk melindungi yang tersisa.

Cara pandang kapitalis menimbang segala sesuatu dengan untung rugi sudah seharusnya dihentikan dan dihilangkan. Gunakan cara pandang Islam bahwa upaya memelihara kehidupan seorang manusia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan