Ibnu Asakir, Guru Shalahuddin al-Ayyubi yang Mencintai Ilmu

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF —  Imam Ibnu Asakir adalah ulama ahli fikih dan hadis dari mazhab Syafi’i. Ia termasuk ulama yang terkenal warak dan tidak menyukai jabatan.

Nama Imam Ibnu Asakir adalah Ali bin al-Hasan bin Habbatullah bin Abdullah bin Husein ad-Dimasyqi asy-Syafi’i. Kunyahnya Abu al-Qasim. Ia dilahirkan pada bulan Muharam tahun 499 H/1105 M di Kota Damaskus.

Beliau belajar ilmu fikih sedari kecil di Kota Damaskus. Ayahnya, al-Hasan bin Habbatullah, adalah seorang guru yang saleh, adil, cinta ilmu.

Beliau teladan bagi para ulama, dan memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu, khususnya bidang fikih.

Lahir dari Keluarga Ulama

Shalahuddin al-Munjid dalam pengantar Tarikh Ibnu Asakir jilid satu mengatakan, “Lingkungan pertumbuhan al-Hafiz Ibnu Asakir memiliki pengaruh besar yang mengarahkan beliau kepada ilmu dan menjadikannya seorang yang cerdas. Ia tinggal di rumah di mana perkara-perkara diputuskan, hadis-hadis dan fikih dikaji. Rumahnya dipenuhi dengan ulama-ulama besar dan hakim-hakim Damaskus. Sejak kecil Ibnu Asakir melihat para ulama dan mendapat pemahaman ilmu.”

Ayahnya seorang ulama saleh. Ibunya merupakan anak dari seorang ulama besar dari suku Quraisy yaitu Yahya bin Ali bin Abdul Aziz, ahli fikih, gramatika bahasa Arab dan pernah menjabat sebagai qadhi (hakim).

Pamannya, Abu al-Ma’ali bin Yahya seorang ahli hadis di Damaskus yang juga pernah menjadi hakim. Kakaknya, Imam Shainuddin Habbatullah adalah ulama ahli bidang fikih, dan hadis, pernah menjabat sebagai mufti.

Saudara laki-laki satunya, Muhammad bin al-Hasan juga ahli hadis. Dari keluarganya inilah, Ibnu Asakir banyak belajar. Terutama di usia mudanya.

Imam Ibnu Asakir dibesarkan dalam keluarga yang berpendidikan tinggi. Beliau mulai belajar ketika berumur 6 tahun kepada kakak laki-lakinya (Syekh al-Sha’in) dalam bidang fikih, dan dalam bidang bahasa dan sastra Arab di bawah bimbingan kakeknya sendiri, Abu Al-Mufaddhal al-Qurasyi.

Sang Pengembara Ilmu

Pada tahun 520 H/1126 Masehi, saat usianya 21 tahun, Ibnu Asakir mengisi waktunya dengan mengajar.

Pengetahuannya yang luas tentang riwayat-riwayat hadis ia dapatkan ketika mengumpulkan matan-matan, sanad-sanad, menghafal, dan membaca. Kesungguhannya ini membuatnya mencapai derajat seorang ahli hadis.

Tak berpuas diri dengan mengajar, ia kemudian melakukan perjalanan ilmu di luar Damaskus. Ia berkelana belajar hadis kepada para ulama dan ahli fikih ternama.

Dalam pengantar Tarikh Ibnu Asakir jilid satu, Shalahuddin al-Munjid mengatakan, “Perjalanannya dalam belajar hadis dan mendengar dari banyak guru memiliki pengaruh yang signifikan. Tak seorang ahli hadis besar pun dalam perjalanannya ia lewatkan. Sehingga ia memperoleh sanad yang tinggi. Pusat-pusat ilmu tersebar di wilayah-wilayah Islam. Banyak ulama dan ahli fikih yang membagi-bagi ilmu mereka. Saat itu halqah-halqah belajar dan diskusi digelar di madrasah-madrasah dan masjid-masjid oleh para ahli fikih, ahli hadis, dan ulama-ulama.”

Kota Baghdad menjadi tempat persinggahan Ibnu Asakir dalam mencari ilmu. Saat itu, Baghdad menjadi pusat ilmu. Kota yang banyak dikunjungi para pencari ilmu dari seluruh penjuru negeri.

Penduduk Baghdad dikenal sebagai orang yang paling bersemangat dalam mempelajari dan menulis hadis.

Al-Khatib al-Baghdadi mengatakan, “Penduduk Baghdad dikenal sebagai orang-orang intelektual dan teliti dalam meriwayatkan hadis dan adabnya. Mereka adalah orang-orang yang paling berhati-hati dalam meriwayatkannya. Mereka dikenal dengan sifat ini.”

Pada tahun 521 H, Ibnu Asakir menunaikan ibadah haji di Mekkah. Dalam perjalanan ibadah haji, ia tidak melewatkan kesempatan untuk mendengar riwayat hadis dari ulama Makkah, Mina, dan Madinah. Di antaranya Abdullah bin Muhammad al-Mishri dan Abdul Khalaq bin Abdul Wasi’ al-Hawari.

Saat kembali ke Baghdad, orang-orang Irak kian takjub padanya. Mereka berkata, “Kami belum pernah melihat orang semisalnya.” Setelah merasa cukup menimba ilmu dari tokoh-tokoh ulama Baghdad, Ibnu Asakir memutuskan untuk kembali ke Damaskus pada tahun 525 H/1131 M.

Pengembaraannya dalam menuntut ilmu tidak berhenti di situ. Ibnu Asakir melanjutkan perjalanannya ke negeri-negeri non-Arab.

Ia berangkat ke Asbahan, Naisabur, Merv, Tabriz, Khosrowjerd, Bastam, Damghan, Ray, Zanjan, Hamadan, Herat, Sarakhs, Semnan, Abhar, Khuwi, Marand, dll.

Perjalanannya di negeri nonarab berlangsung selama empat tahun. Dalam perjalannya ke negeri-negeri nonarab, Ibnu Asakir berhasil bertemu setidaknya 1.300 ulama.

Sebanyak 80 di antara mereka adalah perempuan. Banyak pelajaran yang ia dapatkan dari guru-gurunya. Dan ia pun berhasil menghafal banyak buku.

Ibnu Asakir kembali ke Damaskus di usia 43 tahun setelah mematangkan ilmu yang telah dicapainya.

Ibnu Asakir menyibukkan dirinya dengan mengarang kitab, mengumpulkan hadis dan riwayat, serta mengajar hadis di masjid Umayyah, Damaskus, dan madrasah Dar al-Sunnah yang didirikan oleh al-Malik al-Adil Nur Al-Din Mahmud bin Zanki. Salah satu pahlawan Islam dalam perang Salib.

Sultan Mahmud bin Zanki sangat peduli dengan keilmuan dan pendidikan Islam. Ia sibuk berperang, tapi tak lupakan kaderisasi umat.

Maka, di tengah kecamuk perang, dunia Islam tidak pernah absen dengan ulama-ulamanya.

Kepakarannya dalam ilmu hadis telah menjadi perbincangan hangat para ulama di negeri Syam. Sehingga ia diberi gelar “alHafiz”.

Ia memiliki murid yang menjadi sultan dan panglima besar Perang Salib, yaitu Sultan Shalahuddin al-Ayyubi.

Ibnu Asakir merupakan ulama produktif. Hasil perjalanannya mengembara ilmu ia tuangkan dalam tulisan-tulisannya. Karyanya mencapai lebih dari 60 buku.

Karya yang paling monumental adalah Tarikh Madinah Dimasyq, yang ditulis sampai 105 jilid. Kitab ini memaparkan sejarah kota Damaskus dan mencatat laporan-laporan tentang tokoh-tokoh dan ulama serta penguasa yang pernah mendiami Damaskus.

Pribadi Ibnu Asakir terkenal dengan warak. Ia menolak diangkat sebagai hakim dan pejabat kenegaraan. Kehidupan dan rumahnya sederhana.

Pergaulannya dengan orang lain penuh dengan akhlak. Ibnu Khalkan memuji Imam Ibnu Asakir  dengan berkata, “Beliau adalah ahli fikih mazhab Syafi’i, ahli hadis, pejuang hadis sejati yang pantang menyerah, pencari ilmu, penjaga agama, tutur katanya halus dan sopan.”

Imam Ibnu ‘Asakir meninggal dunia di usia 72 tahun, yaitu pada tahun 571 H bersamaan dengan masa awal pemerintahan Shalahuddin al-Ayyubi. Shalahuddin pun turut sama mengurus jenazah Imam Ibnu Asakir yang menjadi gurunya. [MNews/Chs/Juan]

*Disarikan dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan