Ganti Wajah, Israel Tetap Pongah


Penulis: Chusnatul Jannah


MuslimahNews.com, OPINI — Israel punya perdana menteri baru. Rezim Netanyahu resmi tamat setelah Knesset atau Parlemen dengan suara 60:59 menyetujui pemerintahan baru. Penggantinya, Naftali Bennett, disambut oleh pemimpin dunia. Terutama kawan sejatinya, Amerika Serikat.

Dengan berganti pemimpin, apakah nasib Palestina berubah? Apakah wajah bengis dan kekejaman Israel juga turut berubah? Pastinya tidak. Meski berganti wajah, karakter dan kebijakan politik Israel tetaplah sama. Penjajah yang tetap pongah meski dunia menghujatnya.

Kontroversi Bennett

Naftali Bennett adalah mantan anak didik Netanyahu dan pernah memegang sejumlah jabatan tinggi di Partai Likuid. Ia seorang nasionalis Yahudi, jutawan teknologi, dan mantan komandan pasukan khusus Israel.

Sosoknya penuh kontroversial. Dialah orang yang paling getol menyerukan agar Israel mencaplok Tepi Barat, wilayah tersisa yang masih dikuasai rakyat Palestina. Kata-katanya selalu dipenuhi kebencian terhadap Palestina.

Tak beda jauh dengan pendahulunya. Nama dan wajah berbeda tidak lantas menjadikan Israel memiliki kebijakan politik yang berbeda. Dasarnya penjajah, mau diganti rupa polos sekalipun tetap saja mereka penjajah, perampok, dan pembohong besar.

Mengutip laman Kompas (14/6/2021), inilah di antara kontroversi Bennett yang harus diingat kaum muslimin agar tidak mudah teperdaya dengan tipu muslihat Israel.

Pertama, Bennett kerap memberikan komentar yang menghasut. Bennett melontarkan serangkaian komentar pedas tentang Palestina. Pada 2013, dia mengatakan bahwa “teroris Palestina” seharusnya dibunuh, bukannya dibebaskan. Dia juga berpendapat bahwa Tepi Barat tidak berada di bawah pendudukan karena dia menganggap tidak pernah ada namanya negara Palestina.

Kedua, Bennett berulang kali menentang pembentukan negara Palestina di wilayah-wilayah pendudukan. Sebaliknya, ia mengusulkan Israel secara sepihak mencaplok sekitar 60% dari Tepi Barat Palestina, yang berada di bawah kendali penuh Israel di bawah Kesepakatan Oslo.

Baca juga:  Dalam Kecaman dan Kutukan, Netanyahu Senang Dikunjungi Yahya Staquf

Pada 2013 dia menyatakan, “Saya mendukung penerapan kedaulatan Israel atas zona di mana 400.000 (pemukim) tinggal dan hanya 70.000 orang Arab.” Kemudian pada 2014 Bennett menulis di The New York Times berjudul “Untuk Israel, Dua Negara Bukan Solusi”.

Ketiga, Bennett turut menganjurkan peningkatan kontrol Israel atas kompleks Temple Mount, yang juga merupakan situs tersuci ketiga dalam Islam.

Dengan profilnya yang demikian, mustahil Israel melunak di bawah kepemimpinan Bennett. Yahudisasi Yerusalem akan tetap berlangsung. Belum lama, setelah pengambilalihan pemerintahan baru, Israel kembali melancarkan serangan udara ke jalur Gaza.

Setelah serangan udara tersebut, juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum, menyatakan bahwa pengeboman pendudukan terhadap situs-situs perlawanan adalah pertunjukan demonstratif oleh pemerintah baru Israel, yaitu setelah nasionalis sayap kanan Naftali Bennett dilantik sebagai perdana menteri oleh parlemen Israel, pada Minggu. (Muslimahnews, 20/6/2021)

Dukungan Negara Adidaya

Mau Netanyahu atau Bennett, bagi negara adidaya hal itu tak jadi soal. Hal ini tampak dari reaksi pemimpin-pemimpin dunia atas terpilihnya Bennett sebagai perdana menteri baru Israel.

Respons pertama datang dari sekutu abadinya, AS. Presiden AS Joe Biden menyambut baik pemerintahan baru yang dipimpin Naftali Bennett. Ia mengatakan AS tetap berkomitmen menjaga keamanan Israel.

“Israel tidak memiliki teman yang lebih baik daripada Amerika Serikat. Amerika Serikat tetap teguh dalam mendukung keamanan Israel.” kata Biden.

Respons berikutnya datang dari Jerman, Inggris, Austria, dan Kanada. Mereka memberi pernyataan yang sama. Memberi selamat atas pemerintahan baru Bennett dan siap bekerja sama dalam memperkuat hubungan bilateral serta mengamankan perdamaian di kawasan.

Baca juga:  Yahudi Radikal Membobol Masjid Al-Aqsha, Rakyat Palestina Diusir dari Yerusalem

Lihatlah bagaimana pernyataan manis para pemimpin negara adidaya tersebut. Mereka tetap berkomitmen untuk mendukung Israel. Hal yang mereka sebut perdamaian dunia hanyalah isapan jempol semata. Tak ada realisasi sedikit pun bagi negara-negara tersebut untuk membebaskan Palestina dari entitas kolonial zionis.

Pengkhianatan negara adidaya itu sangat tampak tatkala Israel diberi tanah Palestina oleh Inggris dalam Deklarasi Balfour pada tahun 1917. Lalu secara legal, para penyokong penjajah Israel itu mengesahkan berdirinya negara Israel di atas tanah Palestina melalui Deklarasi PBB.

Jadi, secara faktual, merekalah sesungguhnya yang menciptakan benalu di Palestina dengan mendorong kehadiran negara Yahudi di tanah kaum muslimin.

Fakta ini harus diketahui dan dipahami umat. Jangan pernah menggantungkan nasib Palestina dengan meminta bantuan komunitas internasional. Atau mengharap belas kasih negara adidaya untuk Palestina.

Gencatan senjata yang berulang kali terjadi mestinya cukup menjadi pelajaran berharga. Tidak ada kata damai, tidak pula dengan solusi dua negara. Israel hanya bisa ditundukkan dengan kata perang. Palestina hanya bisa dibebaskan dengan hadirnya pemimpin kaum muslimin yang akan mengerahkan tentaranya untuk memerangi Israel, yakni Khalifah yang dirindu umat abad ini.

Adapun solusi dua negara, ia hanya akan menambah derita kaum muslim Palestina. Menyepakati solusi dua negara juga sama halnya mengakui Israel sebagai negara, menyetujui penjajahan, dan membiarkan rakyat Palestina dirundung duka berkepanjangan.

Jihad dan Khilafah, Solusi Palestina

Penderitaan muslimin Palestina tidak akan pernah berakhir jika Israel masih tegak berdiri di sana. Pengeboman mungkin bisa terhenti sementara, tapi derita dan kondisi kaum muslim Palestina akan membekas lama. Tidak ada yang menolong mereka kecuali diri mereka sendiri. Seolah urusan Palestina adalah urusan mereka, bukan urusan kita.

Baca juga:  Perjanjian Abraham, Ditandatangani di Atas Genangan Darah Palestina

Palestina butuh pengerahan militer. Meski bantuan kemanusiaan sudah dilakukan berkali-kali, penjajahan dan perampasan tanah Palestina tetap saja terjadi. Berbagai kecaman tak mempan. Beragam kutukan tak bisa menahan bombardir Israel atas Palestina. Janganlah kita terjatuh dalam lubang yang sama.

Lantas apa solusi nyata bagi Palestina?

Hanya jihad dan Khilafah. Kapan hal itu bisa diwujudkan? Ketika kaum muslim memiliki kesadaran politik Islam, yaitu kebutuhan akan hadirnya sistem Islam kafah. Ketika kaum muslim menyatukan visi misi perjuangan untuk menegakkan kembali Khilafah yang dijanjikan. Tanpa kesadaran politik dan penyatuan visi perjuangan, perubahan tidak akan pernah terjadi.

Jika Fatah dan Hamas menyadari hanya dengan bersatu mereka memiliki kekuatan untuk melawan Israel, maka mestinya kaum muslimin juga memiliki kesadaran yang sama. Pemimpin negeri muslim tak bernyali ketika berhadapan negara adidaya.

Ketika Khilafah masih ada, Palestina terlindungi. Ketiadaan Khilafah menjadi awal mula kemunduran kaum muslim dari peradabannya yang agung. Dengan Khilafah, umat terjaga dan terjamin.

“Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung. Maka, jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala; dan jika ia memerintahkan yang selainnya, ia harus bertanggung jawab atasnya.” (HR Muslim) [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan