[Persepsi Berbahaya] Dialog Antaragama (Bagian 1/3)

[Seri buku ideologis, Bagian 3]

MuslimahNews.com, PERSEPSI BERBAHAYA — Berdakwah kepada orang-orang non-Islam untuk memeluk Islam, adalah perkara yang diwajibkan oleh Allah Swt. atas kaum muslimin. Tugas ini telah mereka laksanakan selama 14 abad. Tak henti-hentinya mereka mengajak orang-orang non-Islam untuk masuk Islam, baik golongan Ahli Kitab maupun golongan lainnya.

Allah Swt. berfirman,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah (hujjah) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS An Nahl: 125)

Rasulullah saw. bersabda dalam surat beliau yang ditujukan kepada Heraklius, Raja Romawi,

“…Sesungguhnya aku berseru kepadamu dengan seruan Islam; masuk Islam-lah kamu niscaya kamu akan selamat! Allah akan memberikan dua pahala kepadamu. Tapi jika kamu berpaling maka kamu menanggung dosa para petani (rakyatmu)…” (HR Bukhari)

Jelaslah, bahwa dakwah kita kepada orang-orang non-Islam, adalah dakwah untuk memeluk Islam dan meninggalkan kekufuran.

Adapun ide dialog antaragama yang ramai dijajakan saat ini, adalah ide dari Barat yang sangat keji lagi sangat asing. Tidak ada asal usulnya dalam Islam, sebab ide ini menyerukan untuk mencari titik temu bersama di antara agama-agama.

Bahkan ide tersebut menyerukan untuk membentuk agama baru yang sengaja direka-reka agar kaum muslimin memeluknya sebagai ganti agama Islam, karena penganut ide ini dan para propagandisnya adalah orang-orang Barat yang kafir.

Ide ini mulai muncul secara internasional pada tahun 1932 tatkala Prancis mengutus delegasinya untuk berunding dengan tokok-tokoh ulama Al Azhar (Kairo) mengenai ide penyatuan tiga agama; Islam, Kristen, dan Yahudi.

Kegiatan ini kemudian ditindaklanjuti dengan Konferensi Paris tahun 1933 yang dihadiri oleh para orientalis dan misionaris dari berbagai universitas di Inggris, Swiss, Amerika, Italia, Polandia, Spanyol, Turki, dan lain-lain. Konferensi Agama-Agama Sedunia tahun 1936 merupakan konferensi agama terakhir sebelum Perang Dunia II yang telah membuat sibuk negara-negara Eropa untuk menyelenggarakan konferensi-konferensi serupa.

Pada tahun 1964, Paus Paulus VI menulis sebuah risalah yang menyerukan dialog antaragama-agama. Kemudian pada tahun 1969 Vatikan menerbitkan sebuah buku yang berjudul “Alasan Dialog antara Kaum Muslimin dan Kaum Kristiani”.

Sepanjang dasawarsa 70-an dan 80-an abad ini (abad 20), telah diadakan lebih dari 13 pertemuan dan konferensi untuk dialog antaragama dan antarperadaban. Yang paling menonjol adalah Konferensi Dunia II untuk Agama Islam di Belgia, yang dihadiri oleh 400 delegasi dari beraneka agama yang berbeda-beda, dan Konferensi Cordoba di Spanyol yang dihadiri oleh delegasi-delegasi muslim dan Kristen dari 13 negara. Kedua konferensi ini diselenggarakan tahun 1974. Kemudian diselenggarakan pula Pertemuan Islam-Kristen di Carthage di Tunisia tahun 1979.

Baca juga:  [Persepsi Berbahaya] Dialog Antarperadaban (Bagian 2/3)

Pada dekade akhir abad ini, para propagandis dialog antaragama bergiat mengadakan Konferensi Dialog Eropa-Arab tahun 1993 di Yordania, yang disusul dengan Konferensi Khartoum untuk Dialog Antaragama tahun 1994. Pada tahun 1995 diadakan dua konferensi untuk dialog antaragama, yang pertama di Stockholm, dan yang kedua di Amman (Yordania). Kedua konferensi lalu disusul dengan Konferensi Islam dan Eropa di Universitas Aalul Bait (Yordania) tahun 1996.

Justifikasi Dialog Antaragama

Justifikasi terpenting yang diajukan para peserta konferensi di berbagai konferensi antaragama, adalah untuk membendung kekufuran dan ateisme yang terwujud dalam negara Uni Soviet sebelum negara ini runtuh. Sebab, Komunisme dipandang sebagai ajaran ateis yang mengancam agama-agama samawi, termasuk prestasi-prestasi peradabannya. Justifikasi lainnya, adalah adanya keprihatinan terhadap umat manusia dan pembelaan terhadap orang-orang beriman di muka bumi.

Justifikasi lainnya lagi, adalah perlunya upaya mencari kebenaran yang harus dipandang relatif (nisbi), sehingga tak boleh seorang pun mengklaim telah memonopoli kebenaran, sebab kebenaran harus tunduk pada kaidah demokrasi, yaitu pendapat mayoritas merupakan pendapat yang paling dekat dengan kebenaran.

Rekomendasi-Rekomendasi Peserta Konferensi

Rekomendasi terpenting dari konferensi-konferensi yang diselenggarakan atas nama dialog antaragama dan antarperadaban, serta dialog antara Islam dan Eropa, adalah sebagai berikut :

  • Perlu dicari makna-makna dan dimensi-dimensi baru untuk kata “kufur”, “ateis”, “syirik”, “iman”, “islam”, “moderat”, “ekstrem”, dan “fundamentalisme” sedemikian rupa, sehingga kata-kata itu tidak menjadi faktor pemecah-belah di antara penganut-penganut agama.
  • Perlu dicari titik-temu dari ketiga agama, yang meliputi aspek akidah, akhlaq, dan budaya, untuk menegaskan adanya titik-temu positif di antara berbagai agama dan peradaban, sebab semua Ahli Kitab adalah orang-orang beriman yang sama-sama menyembah Allah.
  • Perlu adanya piagam bersama hak-hak asasi manusia, untuk memantapkan perdamaian dan pola hidup berdampingan secara damai di antara penganut agama-agama. Hal ini dilakukan dengan cara menghilangkan perasaan akan adanya batas-batas prinsipil antaragama, dan dengan menghilangkan persepsi permusuhan dalam budaya berbagai bangsa dan politik berbagai negara.
  • Perlu dilakukan rekonstruksi sejarah dan kurikulum pendidikan, agar jauh dari hal-hal yang dapat membangkitkan kemarahan dan kebencian, serta menganggap bahwa pengajaran agama adalah bagian dari kajian mendasar, yang ditujukan untuk membentuk kepribadian yang terbuka dengan berbagai kebudayaan umat manusia serta mau memahami agama lain. Karena itu, wajib dijauhkan beberapa pembahasan tertentu dalam akidah dan ibadah.
  • Perlu adanya perhatian pada pembahasan tema-tema tertentu dan menetapkan persepsi yang mempersatukan pada tema-tema tersebut. Tema-tema tersebut adalah : “keadilan”, “perdamaian”, “wanita”, “hak asasi manusia”, “demokrasi”, “etos kerja”, “pluralisme”, “kebebasan”, “perdamaian dunia”, “hidup berdampingan secara damai”, “keterbukaan peradaban”, “masyarakat madani” (civil society), dan sebagainya.
Baca juga:  Moderasi Islam di Tengah Pandemi, Lebih Ganas dari Virus Corona

Sarana dan Cara Dialog Antaragama

Setelah orang-orang Barat yang kafir gagal menjauhkan kaum muslimin dari akidah mereka melalui para misionaris dan orientalis, beraneka literatur dan jurnal kebudayaan, serta manipulasi ideologi, politik, dan media, mereka beralih pada lembaga-lembaga resmi di negara-negara mereka dan negara-negara agen-agen mereka.

Mereka mulai mengadakan berbagai konferensi dan seminar, membentuk kelompok-kelompok aksi bersama, dan mendirikan pusat-pusat studi di negeri-negeri mereka ataupun di negeri-negeri Islam, seperti Pusat Studi Islam Universitas Oxford (Inggris), Pusat Studi Timur Tengah Universitas Durham (Inggris), College of Holly Cross (Akademi Salib Suci) di Amerika, Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) di Arab Saudi, Al Majma’ Al Mulki li Buhuutsil Hadlarah Al Islamiyah (Dewan Kerajaan untuk Pengkajian Peradaban Islam), Universitas Aalul Bait (Yordania), Dewan Gereja-Gereja Dunia, dan lain-lain.

Mereka menggunakan bermacam-macam istilah dan kata yang manis-memikat dengan makna-makna yang tidak jelas untuk menyesatkan dan mengecoh kaum muslimin, seperti “pembaharuan”, “keterbukaan terhadap dunia”, “peradaban umat manusia”, “pengetahuan universal”, “keharusan hidup berdampingan secara damai”, “membuang fanatisme dan ekstremisme”, “globalisasi”, dan lain sebagainya.

Mereka merancukan persepsi tentang ilmu pengetahuan/sains (ilmu) dengan kebudayaan (tsaqafah), serta peradaban (hadharah) dengan corak kehidupan fisik (madaniyah). Kerancuan ini lalu dijadikan landasan untuk menyerang orang-orang yang konsisten dengan pandangan hidupnya yang khas, karena dianggap menentang ilmu pengetahuan dan corak kehidupan fisik yang lahir darinya, serta dicap sebagai golongan yang terbelakang dan tertinggal.

Padahal masalahnya, menurut Islam tidaklah seperti yang mereka dakwakan, sebab Islam telah membuka diri terhadap ilmu pengetahuan beserta corak kehidupan fisik yang lahir darinya. Namun, Islam memang menutup diri terhadap kebudayaan dan peradaban apa pun yang bukan kebudayaan dan peradaban Islam, sebab kebudayaan dan peradaban merupakan pemikiran yang berhubungan dengan perilaku manusia yang wajib ditata hanya dengan persepsi Islam tentang kehidupan.

Mereka membagus-baguskan berbagai pemikiran ideologi kapitalisme di hadapan kaum muslimin, serta mempromosikannya sebagai sesuatu yang tidak menyalahi ajaran Islam. Akibatnya, sebagian kaum muslimin mengira bahwa pemikiran-pemikiran itu berasal dari Islam, seperti pemikiran demokrasi, kebebasan, pluralisme politik, sosialisme, dan lain-lain.

Sebaliknya, mereka menyerang sebagian pemikiran Islam dan menyifatinya sebagai sesuatu yang tidak berperadaban dan tidak layak untuk masa sekarang, seperti jihad, hudud, poligami, dan hukum-hukum syariat lainnya.

Baca juga:  Doa Lintas Agama: Bentuk Pluralisme yang Diharamkan!

Mereka menundukkan kajian terhadap nas-nas ajaran Islam di bawah metode berpikir ideologi kapitalisme, yang menjadikan fakta sebagai sumber hukum, bukannya sebagai tempat (objek) penerapan hukum; yang menetapkan kemanfaatan (kemaslahatan) sebagai standar untuk mengambil atau menolak suatu hukum, bukannya standar halal dan haram.

Inilah yang mendorong sebagian kaum muslimin untuk menciptakan beberapa kaidah untuk memahami Islam yang sebenarnya tidak ada sandarannya dari nas-nas syariat, seperti fiqhul waaqi’ (penetapan hukum yang bertolak dari fakta dengan mengesampingkan nas syariat), fiqhul muwaazanaat (penetapan hukum berdasarkan pertimbangan manfaat dan mudarat belaka), adl dlaruuratu tubiihul mahzhuuraat (kondisi darurat membolehkan hal-hal yang diharamkan), dan sebagainya.

Hal ini telah mengakibatkan lunturnya sebagian hukum-hukum Islam serta hilangnya batas-batas pembeda antara ajaran yang palsu dan yang asli, antara kufur dan Islam, sehingga akhirnya riba menjadi mubah dan mati syahid dianggap bunuh diri.

Orang-orang kafir yang mengendalikan dialog antaragama itu selalu berupaya untuk memperumum dan memperluas medan dialog, sehingga dialog tidak hanya terbatas pada pada konferensi dan seminar saja, tetapi juga menjangkau seluruh komponen masyarakat: laki-laki dan perempuan, para intelektual, dan pegawai/buruh; yang dilaksanakan melalui jalur-jalur sekolah, perguruan tinggi, lembaga studi, partai politik, dan asosiasi (buruh, pengusaha, pengacara, pedagang, dan lain-lain).

Jadi, seperti yang diungkapkan oleh para peserta konferensi, kegiatan ini memang merupakan pengintegrasian diri dengan peradaban Barat dalam aspek ekonomi, sosial, politik, pendidikan, dan lain-lain.

Ideologi kapitalisme—seperti yang mereka dakwakan—dengan ide-ide humanisme dan rasionalisme, liberalisme dan demokrasi, dianggap sebagai peradaban modern yang sukses. Adapun Islam, dianggap agama taklid, mengajarkan kediktatoran, dan hanya berkutat pada warisan kebudayaan masa silam. Islam katanya mengajarkan kedaulatan agama, perbudakan, dan poligami. Islam itu tidak berperadaban!

Di antara teknik pengecohan atas kaum muslimin yang terjadi dalam konferensi-konferensi dialog antaragama adalah adanya partisipasi peserta-peserta yang berakidah lain, seperti orang Hindu, Buddha, Sikh, dan lain-lain, di samping orang Islam, Kristen, dan Yahudi. Ini terjadi pada Konferensi Dunia untuk Agama dan Perdamaian di Jepang dan pada sebuah seminar di Beirut (Lebanon) pada tahun 1970.

Tujuannya adalah agar kaum muslimin tidak berpraduga bahwa hanya mereka saja yang menjadi sasaran dialog antaragama. Heran, bagaimana mungkin mereka yang disebut ulama kaum muslimin itu menerima begitu saja Islam disetarakan dengan Buddha dan agama-agama lain! [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 2/3


Sumber: Buku Persepsi-Persepsi Berbahaya untuk Menghantam Islam dan Mengukuhkan Peradaban Barat


 

Tinggalkan Balasan