Sikap Duduk Rasulullah


Penulis: Shezan Adzkayra Gerung


MuslimahNews.com, PRIBADI RASULULLAH –  Menelusuri jejak kisah Rasulullah saw. tak hanya membuahkan rasa rindu dan menambah kecintaan kita pada beliau. Membaca kisah beliau menimbulkan keinginan dan motivasi untuk senantiasa mengikuti segala hal yang beliau lakukan.

Para sahabat adalah orang-orang yang senantiasa berupaya untuk melakukan segala hal yang dilakukan Rasulullah, tak terkecuali dalam perkara sikap duduk Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Abd bin Humaid dari ‘Affan bin Muslim dari ‘Abdullah bin Hasan dari kedua orang neneknya yang bersumber dari Qabilah binti Makramah ra dikemukakan bahwa Qabilah melihat Rasulullah saw. di masjid sedang duduk qurfasha. Qabilah berkata, “Manakala aku melihat Rasulullah saw. sedang duduk dengan khusyuk, maka aku pun dibawa oleh perasaan takjub karena wibawanya.”

Duduk qurfasha adalah duduk sambil bertumpu pada pinggul, kedua paha merapat ke perut dan tangan memegang betis.

‘Abbad bin Tamim berkata bahwa pamannya bercerita, sesungguhnya ia melihat Rasulullah saw. berbaring telentang di masjid dan salah satu dari kakinya ditumpangkan pada kaki yang lainnya.

Diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib dari ‘Abdullah bin ibrahim al-Madini dari Ishaq bin Muhammad al-Anshari dari Rabih bin ‘Abdurrahman bin Abu Sa’id dari bapaknya yang bersumber dari kakeknya (Abu Sa’id al-Khudri ra) Ia mengatakan bahwa apabila Rasulullah saw. duduk di masjid, maka ia duduk secara ihtiba dengan kedua tangannya.

Baca juga:  Mengenal Pribadi Rasulullah ﷺ

Ihtiba sendiri adalah duduk qurfasha sambil bersandar.

Tempat Bertelekan Rasulullah saw.

Diriwayatkan oleh ‘Abbas bin Muhammad ad-Dauri al-Baghdadi dari Ishaq bin Manshur dari Isra’il dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah ra. bercerita bahwa aku pernah melihat Rasulullah saw duduk bertelekan pada sebuah bantal di sebelah kirinya.

Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari ayah Abdurrahman (Abu Barkah Nafi’ bin al-Harits) dikemukakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Inginkah kalian kuberitahu tentang dosa-dosa yang paling besar?”

Para sahabat menjawab, “Tentu saja wahai Rasulullah!”

Rasulullah saw. bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua!”

Abu Bakrah Nafi bin an-Harits menerangkan, “Rasulullah saw. duduk sambil bertelekan.”

Kemudian beliau (Rasulullah saw.) bersabda lagi, “Dan kesaksian palsu atau ucapan keji.”

Abu Bakrah Nafi bin al-Harits bercerita lagi, “Maka terus diulang-ulang tentang kesaksian palsu, sehingga kami berkata (dalam hati), ‘Mudah-mudahan beliau berhenti mengatakan itu!'”

Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Juhaifah ra. dikemukakan bahwa Rasulullah bersabda, “Adapun aku tak mau makan sambil bertelekan.”

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar dari Abdurrahman bin Mahdi dari Sufyan dari Ali bin al-aqmar yang bersumber dari Abu Juhaifah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Aku tak mau makan sambil bertelekan, aku tak mau makan sambil bertelekan.”

Baca juga:  [Pribadi Rasulullah] Cara Bicara Rasulullah ﷺ

Jabir bin Samurah mengemukakan, “Aku melihat Rasulullah saw. duduk bertelekan pada sebuah bantal.”

Cara Bertelekan Rasulullah saw.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abdurrahman dari Amr bin ‘Ashim dari Hammad bin Salamah dari Humaid yang bersumber dari Anas ra mengemukakan bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. sedang dalam keadaan sakit. Beliau keluar (dari rumahnya) dengan bertelekan kepada ‘Usamah bin Zaid. Waktu itu beliau memakai kain Qithri (buatan Qatar) yang diselempangkan. Kemudian beliau salat bersama mereka (para sahabat).

Al-Fadlal bin Abbas bercerita: Aku masuk ke rumah Rasulullah saw., tatkala beliau sedang sakit yang membawa ajalnya. Di kepalanya ada balutan kain kuning. Kepadanya kuucapkan salam, kemudian beliau bersabda, “Wahai Fadlal, apa kabarmu?” Aku menjawab, “Baik wahai Rasulullah!”

Ia bersabda, “Kuatkan balutan yang ada di kepalaku ini!”

Fadlal meneruskan ceritanya, maka kulakukan perintah Rasulullah saw itu. Kemudian beliau duduk, lalu meletakkan tangannya di atas bahuku, kemudian beliau berdiri lalu masuk ke masjid.

Kisah selanjutnya terdapat dalam hadis-hadis perihal wafatnya Rasulullah saw. Wallaahu a’lam bish shawwab [MNews/Juan]

Referensi: Asy-Syamailul Muhammadiyyah karya Imam At-Tirmidzi

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!
Baca juga:  [Pribadi Rasulullah] Cara Tertawa Rasulullah ﷺ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *