Pemerkosaan dalam Perkawinan (Marital Rape), Bagaimana Islam Memandangnya?


Penulis: Wiwing Noeraini


MuslimahNews.com, FOKUS — RUU KUHP yang mengancam suami 12 tahun penjara karena memerkosa istri menuai kontroversi. Merespons hal tersebut, komisioner Komnas Perempuan Theresia Iswarini mengungkap adanya aduan istri yang mengaku diperkosa suami.

“Berdasarkan Catatan Tahunan 2021, jumlah laporan terkait pemerkosaan terhadap istri adalah 100 kasus untuk 2020. Tahun 2019, data kasus mencapai 192 kasus yang dilaporkan,” ucap Theresia.

Theresia juga menyampaikan bahwa tingginya angka tersebut karena ada anggapan di masyarakat bahwa tidak ada yang namanya pemerkosaan dalam hubungan suami istri. Pandangan itu terus berkembang dan menjadikan istri memaklumi pemerkosaan. [1]

Memahami istilah “Pemerkosaan dalam Perkawinan”

Menurut Muhammad Endriyo Susilo dalam Jurnal Media Hukum berjudul “Islamic Perspective on Marital Rape” (hal. 320), istilah pemerkosaan dalam perkawinan (marital rape) meliputi beberapa bentuk, di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, Battering rape: istri mengalami kekerasan fisik dan seksual sekaligus saat suami memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual.

Kedua, Force-only rape: suami menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk memaksa atau mengancam istri agar mau melakukan hubungan suami istri. Hal ini dilakukan manakala istri sebelumnya menolak.

Ketiga, Obsessive rape: istri atau pasangan mendapat kekerasan seksual dalam bentuk perlakuan sadis dalam melakukan hubungan seksual, seperti suami melakukan kekerasan fisik dengan memukul, menarik rambut, mencekik, atau bahkan menggunakan alat tajam yang melukai istri untuk mendapatkan kepuasan seksual.[2]

Dari ketiga bentuk marital rape tersebut, bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan istilah pemerkosaan dalam perkawinan adalah berkaitan dengan semua tindak paksaan atau kekerasan dalam hubungan suami istri.

Tepatkah tindak kekerasan dan paksaan suami ini dikategorikan sebagai pemerkosaan?

Pemerkosaan, dalam bahasa Arab disebut al wath’u bi al ikraah (hubungan seksual dengan paksaan). Ulama mengategorikan pemerkosaan sebagai tindakan zina. Pelakunya dihukum dengan had zina. Jika dibarengi dengan tindak penganiayaan, akan ada tambahan hukuman. Sedangkan korban pemerkosaan tidak dikenakan hukuman.

Apabila tindak kekerasan suami dianggap sebagai pemerkosaan, maka suami dianggap sebagai pelaku zina. Tentu ini tak sesuai dengan fakta. Suami dan istri terikat akad pernikahan, maka hubungan seksual di antara keduanya tak bisa dikategorikan sebagai perbuatan zina.

Oleh karenanya, Islam tidak mengakui adanya pemerkosaan dalam perkawinan. Mengategorikan sebagai pemerkosaan adalah sebuah kerancuan istilah.

Konsep Marital Rape dalam pandangan Islam

Konsep pemerkosaan dalam perkawinan (marital rape), tidak ada di dalam Islam. Dalam konsep marital rape, hubungan seksual di antara suami istri harus karena keinginan keduanya, bukan karena hal tersebut adalah kewajiban istri kepada suami. Ini artinya, jika istri sedang tak ingin melayani suami, maka ia tak wajib melayani. Jika dipaksa, maka ini adalah bentuk pemerkosaan.

Jelas konsep ini bertentangan dengan Islam. Islam mewajibkan istri untuk taat kepada suami. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam kitabnya An-Nizham al-Ijtimaa’iy fi al-Islam, bahwa taat dan melayani suami adalah kewajiban istri sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

“Jika seorang istri tidur malam meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat akan melaknatnya sampai ia kembali.” (Muttafaq ‘alaih dari jalur Abu Hurairah)

Rasulullah saw. pernah bertanya kepada seorang wanita, “Apakah engkau sudah bersuami?” Wanita itu menjawab, “ya.” Beliau lantas bersabda, “Sesungguhnya ia (suamimu) adalah surga atau nerakamu. (HR AlHaakim dari jalur bibinya Husain bin Mihshin)

Dalam konsep marital rape juga, tak boleh ada paksaan dari suami kepada istri dalam bentuk ancaman. Jika ada, maka itu termasuk pemerkosaan. Bentuk ancaman bisa bermacam macam, bisa dengan ancaman fisik, atau bisa juga dengan ancaman lainnya, misal dengan ancaman bercerai, atau ancaman akan menikah lagi dan sebagainya. [3] Ini artinya, suami tak boleh memberikan sanksi apa pun ketika istri menolak melayani suami.

Maka, ini juga bertentangan dengan Islam, karena Islam mengakui adanya hak suami untuk memberikan sanksi jika istri membangkang (tidak taat), yang di dalam Islam dikenal dengan istilah nusyuz. Sanksi diberikan ketika istri tak bisa dinasihati. Allah Swt. berfirman,

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS AnNisa 34)

Pukulan yang dimaksud di ayat tersebut adalah pukulan yang ringan, yaitu yang tidak membahayakan (menyakitkan) sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

Jika mereka melakukan tindakan tersebut (yakni nusyuz), maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan (menyakitkan).” (HR Muslim dari jalur Jabir r.a.).

Suami hanya diberikan wewenang untuk memberikan sanksi kepada istri yang melakukan perbuatan dosa. Jika istri taat, maka seorang suami tak boleh mengganggunya sama sekali.

Inilah yang dimaksud dengan firman Allah, “Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (QS AnNisa: 34)

Lahir dari Sekularisme Liberalisme

Konsep marital rape adalah produk pemikiran feminisme yang lahir dari rahim sekularisme liberalisme, paham yang membuang jauh aturan agama dari kehidupan dan mengajarkan kebebasan dalam segala hal.

Ide feminisme tak pernah lelah menyerang syariat Islam dengan tuduhan membelenggu kebebasan perempuan dan menciptakan berbagai macam penderitaan bagi perempuan. Syariat tentang kewajiban istri mereka serang, syariat tentang kepemimpinan suami, syariat tentang nusyuz dan masih banyak lagi syariat Islam lainnya yang juga diserang. Semua syariat dianggap sebagai biang penderitaan perempuan.

Padahal, justru sebaliknya, berbagai problem akut menimpa perempuan hari ini karena terseret tipu daya feminisme. Mulai dari kegagalan dalam berkeluarga, kemiskinan perempuan, kekerasan yang tiada hentinya, dan sebagainya. Solusi yang diberikan oleh feminisme sama sekali tak menyelesaikan masalah perempuan.

Lihatlah, RUU KUHP yang menetapkan bahwa suami yang diadukan oleh istri akan dikenakan hukuman penjara maksimal 12 tahun. Jika suami dipenjara, siapa yang akan menanggung nafkah keluarga? Siapa yang akan melindungi dan menjaga keluarga?

Akhirnya, istri yang akan melakukan semuanya sendirian, baik mencari nafkah, mengurus rumah, mendidik dan membesarkan anak, dan seterusnya. Bukankah ini sebuah tindak kezaliman? Demikianlah ketika hukum dibuat oleh manusia, tak akan pernah tuntas menyelesaikan masalah.

Mahabenar Allah dengan firman-Nya,

أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maidah [5]: 50)

Syariat Islam, Solusi Keharmonisan keluarga

Islam adalah kunci keharmonisan keluarga. Islam tak hanya membebani para istri dengan berbagai kewajiban, tapi juga memberi mereka hak hak yang wajib ditunaikan oleh para suami.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam kitabnya An-Nizhaam al-Ijtimaa’iy fi al-Islam bahwa suami punya kewajiban memperlakukan istri dengan pergaulan yang baik.

Allah Swt. berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ

“… dan bergaullah dengan mereka secara baik (makruf).” (QS An-Nisa [4]: 19)

Pergaulan di antara keduanya adalah pergaulan persahabatan. Untuk itulah Allah Swt. menjelaskan bahwa istri memiliki hak-hak dalam konteks suami istri terhadap suaminya, sebagaimana suami juga memiliki hak-hak dalam konteks suami istri terhadap istrinya.

Allah Swt. berfirman,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (QS Al-Baqarah [2]: 228)

Islam telah memerintahkan para istri untuk taat kepada Allah dan menjaga diri ketika tak ada suami bersamanya, sebagaimana firman Allah Swt.:

“… maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS AnNisa [4]: 34)

Ketika istri sudah dalam kondisi sebagaimana ayat tersebut, suami harus bersikap ramah dan toleran, serta lemah lembut dalam meminta sesuatu dari istrinya. Hingga andai suami menginginkan istrinya (untuk berhubungan suami istri), hendaknya ia memilih situasi dan kondisi yang baik.

Rasulullah saw. bersabda,

Janganlah kalian mengetuk pintu wanita (istri) pada malam hari hingga wanita itu (bisa) menyisir rambutnya yang kusut dan wanita yang ditinggal suaminya itu (bisa) mempercantik diri.” (Muttafaq ’alaih dari jalur Jâbir ra.)

Demikianlah, Islam memberi solusi berupa seperangkat hukum yang mengatur kehidupan suami istri, yang begitu terperinci dan sempurna, baik yang menyangkut masalah pernikahan, tugas dan kewajiban suami istri, waris, nasab, perwalian, talak, rujuk, dan lain-lain. Ketika diterapkan, semua itu menjadi kunci keharmonisan keluarga.

Yang tak kalah penting, penerapan hukum Islam dalam keluarga ini membutuhkan peran negara. Dalam Islam, Khilafah akan memastikan suami maupun istri mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Khilafah memastikannya melalui serangkaian mekanisme kebijakan yang lahir dari hukum syariat Islam.

Tak ada marital rape dalam Islam, umat pun tak butuh segala bentuk undang-undang dan peraturan yang berkaitan dengannya.

Umat hanya butuh penerapan syariat Islam secara kafah oleh daulah Khilafah Islamiah, yang selama berabad-abad telah membuktikan bagaimana umat manusia, baik laki laki maupun perempuan, semua mulia dan terhormat dengan Islam dan syariatnya. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews/Gz]


Sumber berita:

[1] https://news.detik.com/berita/d-5605962/komnas-perempuan-ungkap-100-aduan-istri-diperkosa-suami-selama-2020

[2] https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5eda1c5901b7b/pemerkosaan-dalam-rumah-tangga-menurut-hukum-positif-dan-hukum-islam/

[3] https://www.sehatq.com/artikel/marital-rape-adalah-pemerkosaan-dalam-pernikahan

Tinggalkan Balasan