[News] Utang Baru (Lagi), Pengamat: Negara Kaya yang Dikelola dengan “Cara Aneh” 

MuslimahNews.com, NASIONAL — Baru saja mengantongi utang baru sebesar US$800 juta atau setara Rp11,36 triliun (kurs Rp14.200 per dolar AS) dari Bank Dunia pada Rabu (16/6/2021), Indonesia kembali mendapat pinjaman utang senilai US$500 juta atau setara Rp7,18 triliun (kurs Rp14.375 per dolar AS) dari lembaga yang sama (19/6/2021).

Utang yang pertama dialokasikan untuk mendanai reformasi kebijakan investasi dan perdagangan, serta membantu percepatan pemulihan ekonomi.

Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Satu Kahkonen menyatakan, pemerintah Indonesia sedang menjalankan program reformasi besar untuk menarik investasi dan meningkatkan daya saing perekonomian Indonesia. Reformasi ini memiliki potensi mendukung transformasi ekonomi untuk beralih dari sektor komoditas kepada sektor dengan nilai tambah yang lebih tinggi. “Ini akan memberikan dorongan yang sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Sedangkan utang yang kedua digunakan untuk program penanganan pandemi virus Corona atau Covid-19, termasuk penguatan sistem kesehatan dan program vaksinasi gratis dari pemerintah.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, pinjaman dari Bank Dunia juga akan digunakan untuk menambah pembiayaan isolasi pasien Covid-19, meningkatkan ketersediaan tempat rawat, pengujian, hingga komunikasi publik dan pengawasan.

“Selain mendukung program vaksinasi gratis pemerintah untuk menjangkau seluruh penduduk dewasa Indonesia, pembiayaan ini akan membantu sistem kesehatan Indonesia menjadi lebih tangguh dan memperkuat surveilans kami melalui pengujian dan penelusuran kasus baru Covid-19, termasuk surveilans genomik untuk varian baru,” urai Budi dalam keterangan resmi Bank Dunia, Sabtu (19/6).

Baca juga:  Awas, Jebakan Utang Cina Ancam Indonesia!

Dikelola dengan “Cara Aneh”

Direktur FAKTA, Yuli Sarwanto, menilai Indonesia adalah negeri kaya yang dikelola dengan “cara aneh”.

“Negeri yang kaya-raya—dengan sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia yang besar, serta pasar domestik yang luas—justru mengandalkan utang untuk “hidup”. Dengan utang, seolah-olah Indonesia bergantung pada asing. Padahal, asinglah yang bergantung pada Indonesia, karena mereka menjadikan utang sebagai sumber pendapatan melalui bunga dan sebagai cara membuka mata pencarian untuk korporasi-korporasi kapitalis,” tukasnya.

Anehnya, sambungnya, jumlah dan beban utang Pemerintah yang besar masih dianggap aman, sehingga sinyal-sinyal bahaya utang diabaikan. Pemerintah juga mengabaikan peringatan para pengamat ekonomi. Pemerintah justru percaya dengan puji-pujian terhadap kinerja ekonomi nasional dari Bank Dunia.

“Pemerintah menggunakan pendapatan negara dalam melunasi cicilan bunga utang yang jatuh tempo. Adapun pinjaman baru baik dalam bentuk pinjaman asing maupun hasil penerbitan obligasi (Surat Utang Negara) digunakan untuk membayar cicilan pokok utang yang jatuh tempo. Jadi dengan cara seperti ini, negara kita selamanya akan terjebak utang dengan jumlah total dan beban pembayaran tahunan yang makin besar,” kritiknya.

Ia memaparkan, hendaknya kita mengambil hikmah dari krisis di Barat. Krisis telah membuka tabir ketakberdayaan pemerintahan Barat dalam memecahkan permasalahan di negara mereka, kecuali sekadar meredam dampaknya sesaat untuk kemudian datang lagi dalam guncangan yang lebih hebat.

Baca juga:  Ribuan Persoalan Silih Berganti, Pengamat: Perlu Perubahan Mendasar, Bukan Sekadar Perubahan Individu di Kekuasaan

“Krisis tersebut juga telah membuka pandangan dunia yang selama ini menjadikan negara-negara Barat dengan ideologi kapitalismenya sebagai kiblat sistem ekonomi, pemerintahan, hukum, dan nilai-nilai kehidupan,” jelasnya.

Akan Dimintai Pertanggungjawaban oleh Allah Swt.

Maka menurutnya, sebuah jawaban diperlukan dalam hal ini, yakni bagaimanakah utang riba menciptakan krisis di Barat? Dengan kejatuhan ekonomi Barat tersebut, bagaimanakah masa depan ekonomi dunia dan siapakah yang akan mengambil-alih kepemimpinan dunia kemudian?

Walhasil, paparnya, menjadi miris jika pengelola negeri ini, termasuk para politisi dan partai politik saat ini, terjebak pada kerusakan sistem liberal Barat dan menjadi pemelihara kerusakan itu sendiri. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka membawa agenda penjajah ataupun kepentingan pragmatis.

Ia menekankan, semua perbuatan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Swt. di dunia dan akhirat, seraya menyitir sabda Rasulullah Saw.,

“Setiap pengkhianat akan membawa bendera pada Hari Pembalasan yang akan dikibarkan sama tinggi dengan (tingkat) pengkhianatannya. Tidak ada pengkhianatan yang lebih besar daripada pengkhianatan (yang dilakukan oleh) seorang pemimpin umat.” [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan