Opini

Indonesia Darurat Pinjol, Malapetaka Akibat Riba


Penulis: Nida Alkhair


MuslimahNews.com, OPINI — Tagar #IndonesiaDaruratPinjol menjadi trending topic di Twitter pada Jumat (18/6/2021). Tercatat ada lebih dari 5.000 twit yang membahas topik ini.

Akun @kanseulir mengunggah video pendek yang menampilkan bagaimana seseorang berusaha menjebak temannya melalui pinjaman online (pinjol). Dalam video pendek tersebut diceritakan bahwa dengan mudahnya KTP yang merupakan data pribadi seseorang bisa digunakan orang lain yang tidak bertanggung jawab untuk mendaftar ke akun pinjol(cnbcindonesia, 18/6/2021).

“Tidak bosan-bosan untuk menginfokan jauhi pinjol, jangan sembarangan mengeklik tautan, jangan sembarangan membagikan nomor pribadi, jangan membagikan data pribadi dan sebagainya, fatal dan sengsara akibatnya,” tulis @BossTemlen.

Jerat Rentenir Online

Pinjaman online atau pinjol merebak seiring dengan perkembangan teknologi digital. Peminjam cukup mengisi formulir yang ada di web atau aplikasi perusahaan fintech, permohonan sudah diajukan.

Berbagai iming-iming kemudahan ditawarkan oleh perusahaan fintech, di antaranya proses yang mudah dan cepat, tanpa syarat, tanpa survei, tanpa agunan, dana pasti cair, dan lain-lain. Iming-iming ini terus dibombardirkan kepada masyarakat melalui pesan-pesan yang masuk secara masif ke nomor ponsel. Akibatnya, banyak masyarakat yang tergiur dan mengajukan pinjaman online tanpa membaca secara detail syarat dan ketentuannya.

Padahal, tanpa disadari, ada bahaya besar mengintai nasabah. Bunga yang ditetapkan perusahaan pinjol sangatlah besar. Pada perusahaan fintech yang resmi terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saja, bunga pinjaman bisa mencapai 0,8% per hari atau 24% per bulan. Sedangkan pada perusahaan fintech yang ilegal, bunganya bisa mencapai 30% per bulan.

Selain bunga, biaya administrasi dan denda keterlambatan juga sangat besar. Ngerinya, sistem bunga berbunga menjadikan jumlah pinjaman yang harus dibayar begitu cepat membengkak hanya dalam hitungan hari.

Sudah banyak masyarakat yang menjadi korban pinjol. Jika terlambat membayar cicilan, nasabah akan diteror. Tak hanya nasabah, semua nomor kontak di ponselnya akan diteror juga.

Baca juga:  Pinjol Menjamur, Rakyat Tersungkur, Peran Negara Mandul

Seperti kasus seorang guru di Malang yang terjerat utang Rp40 juta pada 24 perusahaan pinjol. Tempatnya bekerja mengharuskan guru tersebut untuk kuliah. Sementara, gaji bulanan sebesar Rp400 ribu yang diterimanya tentu tak cukup untuk membayar biaya kuliah. Itulah yang menyebabkan ia terpaksa berutang dan akhirnya menerima teror tagihan.

Banyaknya masyarakat yang terjerat pinjol bukan semata disebabkan faktor individu, tetapi juga kondisi ekonomi negara yang kian sulit. Perekonomian Indonesia kian terpuruk. Apalagi sejak pandemi Covid-19 melanda, negeri ini terus terperosok dalam jurang resesi. Harga berbagai barang kebutuhan pokok terkerek naik. Sebaliknya, pekerjaan makin sulit, PHK besar-besaran terjadi di mana-mana.

Di sisi lain, bukannya membantu rakyat dari jerat kemiskinan, pemerintah justru menambah beban rakyat dengan berbagai pajak. Terbaru, pemerintah  akan menetapkan pajak terhadap sembako, sekolah, dan persalinan. Rakyat ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Pemerintah juga menjadi contoh buruk bagi rakyatnya. Tiap tahun pemerintah terus menambah utang hingga mencapai Rp6.527 triliun per April 2021 (detik.com, 1/6/2021). Utang ini terus membengkak hingga APBN tergerus untuk sekadar membayar utang dan bunganya.

Akibat Meninggalkan Syariat

Mahabenar Allah Swt. yang telah mengharamkan riba. Riba telah memunculkan malapetaka, baik pada individu, masyarakat, maupun negara. Hanya segelintir pihak yang diuntungkan praktik riba, yaitu para pengusaha yang menikmati keuntungan dari bisnis ini.

Mirisnya, praktik riba ini dibiarkan dan bahkan dilegalkan oleh negara. Ketika banyak masyarakat yang terjerat pinjol, OJK hanya memberikan imbauan. Sementara di luar sana pinjol ilegal marak dan bebas mencari mangsa tanpa ada sanksi yang menjerakan.

Pemerintah telah melegalkan praktik rentenir alias lintah darat. Dengan alasan investasi di bidang keuangan, perusahaan pinjol dibiarkan ada hingga meneror masyarakat. Jika negaranya saja hobi utang dan melindungi rentenir, bagaimana kita bisa berharap masalah pinjol ini selesai?

Baca juga:  [Editorial] Pinjol Legal dan Ilegal Sama Buruknya

Padahal riba telah diharamkan Allah Swt. sejak 13 abad yang lalu. Allah Swt. berfirman,

وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al Baqarah: 275)

Allah Swt. juga memerintahkan kaum mukminin untuk menghentikan praktik riba. Allah Swt. berfirman,

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوۡا مَا بَقِىَ مِنَ الرِّبٰٓوا اِنۡ كُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِيۡنَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Al-Baqarah: 278)

Ancaman siksa bagi pelaku riba amatlah berat. Allah Swt. berjanji akan memasukkan pelaku riba ke dalam neraka. Allah Swt. berfirman,

 وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا‌ ؕ فَمَنۡ جَآءَهٗ مَوۡعِظَةٌ مِّنۡ رَّبِّهٖ فَانۡتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَؕ وَاَمۡرُهٗۤ اِلَى اللّٰهِ‌ؕ وَمَنۡ عَادَ فَاُولٰٓٮِٕكَ اَصۡحٰبُ النَّارِ‌ۚ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah: 275)

Semua nas tersebut telah menjelaskan tentang keharaman riba. Sikap seorang mukmin adalah menjauhi riba dan segera meninggalkan riba jika telanjur terlibat.

Masyarakat Tanpa Riba dalam Khilafah

Mewujudkan masyarakat tanpa riba tidak bisa dilakukan secara individual. Gerakan beberapa lembaga amal yang membantu para gharimin (orang yang terlilit utang) merupakan aktivitas yang mulia dan berbuah pahala. Namun, sungguh tidak seimbang antara yang dibantu dilunasi utangnya dengan orang yang berutang.

Selama penyedia pinjaman riba masih ada dan keadaan ekonomi masyarakat sulit, akan terus ada orang yang berutang riba. Selama sistem ekonomi yang diterapkan negara masih menghalalkan riba, selama itu pula rakyat akan terjerat riba dan korban riba akan terus berjatuhan.

Baca juga:  Pinjol Legal atau Ilegal, Riba!

Maka, “perang” terhadap riba tak cukup sebatas dilakukan individu-individu, melainkan wajib dilakukan negara. Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang akan menerapkan Islam secara kafah, termasuk ayat-ayat riba. Khilafah akan melarang berdirinya lembaga keuangan riba, baik berupa lembaga fintech, perbankan, leasing, dan lain-lain.

Negara Khilafah tidak akan melakukan utang riba, termasuk utang luar negeri. Jika Khilafah tegak di sebuah wilayah yang punya utang luar negeri, maka akan dibayar pokoknya saja. Utang swasta harus dibayar oleh perusahaan itu sendiri dan hanya dibayar pokoknya saja. Jika dana perusahaan tak cukup, maka bisa dilakukan penyitaan aset untuk melunasinya.

Sedangkan utang riba yang dilakukan individu rakyat, akan dihilangkan klausul ribanya, sehingga cukup membayar pokoknya. Cara penagihan akan diatur agar sesuai akhlak yang islami. Hal ini akan mencegah terjadinya teror pada debitur.

Setelah praktik riba dibersihkan, ketika ada warga masyarakat yang butuh dana, maka akan dipilah. Jika dia fakir miskin, ia berhak mendapat dana zakat dan bantuan dari negara. Bantuan tersebut bisa berupa sembako, pakaian, pekerjaan, modal, maupun pelatihan keterampilan.

Umat Islam juga didorong untuk meminjamkan saudaranya sesama muslim yang membutuhkan pinjaman. Namun, pinjaman ini tanpa riba dan motifnya adalah tolong menolong.

Lembaga negara yaitu Baitulmal akan memberikan bantuan keuangan bagi rakyat yang membutuhkan, baik berupa zakat, santunan, hibah, maupun pinjaman tanpa riba.

Demikianlah sistem Islam mewujudkan masyarakat tanpa riba, sehingga kehidupan menjadi berkah karena diliputi rida Allah. Inilah indahnya hidup di bawah sistem Islam, Khilafah. Wallahu a’lam. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *