[Tapak Tilas] Mengenal Mesir, Bumi para Nabi

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Peradaban Mesir sudah muncul sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Menurut sejarah, masyarakat Mesir hidup di bawah kekuasaan para Firaun dengan beragam tipikal kepemimpinan mereka.

Foto: Peta Mesir sebelum masa Islam. Wikipedia.org

Saat itu kemajuan materi sudah dicapai masyarakat Mesir dalam kadar yang cukup tinggi. Tanahnya yang sangat subur menjadikan Mesir sebagai daerah yang kaya hasil bumi.

Inilah yang mendorong munculnya berbagai kemajuan di berbagai bidang. Mulai dari sistem pertanian, sistem administrasi pemerintahan, seni, budaya, bahasa, matematika, teknologi dan sebagainya.

Sayangnya, kemajuan ini tak dibarengi dengan ketinggian taraf berpikir dalam aspek ketuhanan. Masyarakat Mesir justru terjerumus dalam budaya mistik dan paganisme, termasuk pengakuan Firaun sebagai Tuhan.

Foto: okezone.com

Mesir, Bumi Kinanah

Selain Palestina, Mesir juga dikenal sebagai negeri para nabi, karena di sini tempat lahir Nabi Idris, Nabi Musa, dan Harun.

Tempat ini juga pernah ditempati oleh beberapa Nabi, seperti Nabi Saleh, Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi Yakub, dan Nabi Isa. Bahkan makam Nabi Saleh pun ada di sini.

Karena Mesir merupakan bumi para nabi, maka Mesir pun dikenal sebagai Bumi Kinanah, yakni negeri yang dijaga atau mendapat penjagaan dari Allah Swt. melalui adanya para nabi.

Mesir Jadi Negeri yang Terjajah

Pada masa kekuasaan Cleopatra VII, yakni sekira tahun 31 M, Mesir menyerah kalah pada kekuatan Romawi Barat. Lalu pada 476 M, kekuasaan Romawi Barat hancur. Mesir pun beralih ke tangan Romawi Timur yang beragama Kristen Ortodoks.

Selama dijajah, masyarakat Mesir hidup dalam kesengsaraan. Wilayahnya yang sangat subur justru menjadi sumber penderitaan mereka.

Penjajah menerapkan berbagai kewajiban pajak yang semena-mena. Bahkan tak hanya untuk orang hidup, orang mati pun dipatik pajaknya.

Sebagai daerah jajahan, posisi Mesir pun sangat tergantung pada kondisi politik kekuasaan Romawi Timur. Saat itu Romawi Timur dalam posisi bersaing dengan kekuasaan adidaya lainnya, yakni imperium Persia atau Sassanid. Keduanya memang selalu berperang satu sama lain.

Pada tahun 616—629 M, Mesir sempat berada di bawah kekuasaan Persia (Kisra II). Namun kemudian Raja Romawi Timur, Heraklius, berhasil merebut kembali Mesir ke dalam kekuasaannya hingga kemudian ditaklukkan oleh pasukan kaum muslimin.

Baca juga:  Ketika Dada Sesak Saat Kezaliman Merajalela, Baca Ayat Ini

Pasukan Muslim Membuka Mesir

Berawal dari surat Umar kepada Amr bin Ash yang saat itu sedang berposisi di wilayah Jabiyah,

“Jika Engkau mampu menaklukkan Mesir, sesungguhnya ia akan menjadi kekuatan dan pertolongan bagi Umat Islam. Karena sumber daya alamnya amat melimpah, namun penduduknya tak berdaya untuk berperang.”

Surat inilah yang menjadi pendorong bagi Amr bin Ash dan pasukannya untuk segera bergerak menuju Mesir. Terlebih jauh sebelumnya, Baginda Rasulullah saw. pun pernah mewasiatkan tentang wilayah Mesir ini.

Beliau saw. bersabda,

“Sepeninggalku nanti, adalah kewajiban kalian untuk membebaskan Mesir. Maka, perlakukanlah penduduknya dengan baik karena mereka masih punya ikatan dan hubungan kekeluargaan dengan kita”.

Misi pembukaan Mesir sendiri sebetulnya dimulai saat misi penaklukan wilayah Syam dari kekuasaan Romawi dan Irak dari kekuasaan Persia sedang berlangsung. Saat itu pasukan yang dikomandoi Amr bin Ash merupakan salah satu pasukan yang diminta memperkuat pasukan Khalid bin Walid dalam misi penaklukan Syam.

Namun, misi penaklukan Irak justru berhasil terlebih dulu. Tak perlu waktu lama daerah ini direbut dari kekuasaan Persia. Diawali misi penaklukan oleh Khalid tahun 633 M, hingga takluk seluruhnya tahun oleh pasukan Sa’ad bin Abi Waqash tahun 636 M.

Sementara itu, misi penaklukan wilayah Syam dimulai tahun 634 M atas perintah Khalifah Abu Bakar dan dilanjutkan oleh Khalifah Umar. Ada beberapa pasukan yang dikirim, termasuk pasukan yang dikomandoi Khalid bin Walid. Wilayah ini akhirnya bisa dibebaskan seluruhnya dari kekuasaan Romawi Timur tahun 640 M.

Saat detik-detik penaklukan Syam seluruhnya berhasil inilah, Amr bin Ash mulai mengarahkan pasukannya ke wilayah Mesir. Hal ini dikarenakan wilayah Mesir masih dalam cengkeraman Romawi Timur, padahal posisinya sangat strategis bagi dakwah dan kekuasaan Islam.

Menaklukkan Benteng Babylon

Khalifah dan para komandannya memahami betul bahwa jika Mesir bisa ditaklukkan, sumber kekuatan Imperium Romawi di kawasan Mediterania akan dipotong. Itu berarti wilayah jazirah Arab akan terlindung dari serangan Romawi sewaktu-waktu. Bahkan, penaklukan Mesir akan menjadi pintu pembuka penyebaran dakwah Islam ke wilayah Eropa dan dunia pada umumnya.

Baca juga:  Asiyah binti Mazahim, Ratu Mesir Pemeluk Cahaya
Foto: Fortress of Babylon. Wikipedia.org

Penaklukan wilayah Mesir ini memang terbilang cukup sulit. Pasukan Amr bin Ash harus menghadapi taktik perang gerilya pasukan Romawi yang sering bersembunyi di balik Benteng Babylon yang dikenal sangat tangguh. Sampai-sampai, banyak pasukan beliau yang gugur dalam misi yang cukup alot ini.

Hingga pada tahun 640 M, Khalifah Umar mengirim beberapa pasukan tambahan di bawah kepemimpinan para sahabat yang tak kalah hebat.

Mereka adalah pasukan Zubair bin Awwam, Ubadah bin Shamit, Miqdad bin Aswad, Maslamah bin Mukhalad, dan Kharjan bin Khudzafah radhiyallaahu ‘anhum. Mereka bergabung untuk berperang di bawah komando Amr bin Ash.

Memang, dengan datangnya pasukan tambahan ini, akhirnya berbuah baik. Terlebih saat itu Amr bin Ash menerapkan taktik perang yang sangat cerdik. Alhasil, pasukan Romawi dengan mudah bisa dihancurkan dan seluruh wilayah Mesir akhirnya ditaklukkan. Amr bin Ash pun diangkat sebagai wali bagi Khalifah Umar.

Mesir dalam Pangkuan Islam

Saat pasukan muslim datang, ada tiga tawaran yang diajukan pasukan Amr bin Ash: Menerima Islam, membayar jizyah, atau memilih perang. Ternyata, Mesir memilih perang. Namun, meski masuk dalam kekuasaan Islam melalui perang, penduduk Mesir akhirnya memilih Islam sebagai keyakinan dan jalan hidup mereka.

Foto: Masjid Jami Amru bin Ash. MINAnews.net

Pelan tapi pasti, masyarakat Mesir mampu meraih kemuliaan hakikinya di bawah naungan kepemimpinan Islam. Di bawah kekuasaan Islam, mereka diperlakukan sama dengan kaum muslimin yang lainnya. Bahkan, posisi mereka setara dengan kaum muslimin yang hidup di pusat Daulah Khilafah di Madinah. Setara pula dengan mereka yang masuk Islam tanpa perang.

Terlepas dari pergantian dinasti-dinasti kekuasaan Islam, Mesir pada masa-masa selanjutnya mampu tampil sebagai salah satu pusat peradaban. Di antara yang terkenal adalah tampilnya kota baru bernama Kairo (Al-Qahirah) pada 969 M.

Foto: misbahululum.ac.id

Pada masa Dinasti Fatimiyyah, kota ini dijadikan sebagai pusat kekuasaan mereka. Kota ini pun dikenal sebagai salah satu kota modern yang dikelilingi benteng tangguh dan fasilitas umum yang memadai. Sekaligus sebagai kota pendidikan yang ditandai dengan berdirinya Universitas Al-Azhar yang terkenal dari zaman ke zaman, bahkan hingga sekarang.

Baca juga:  [Nafsiyah] Para Pewaris Firaun
Foto: Universitas Al Azhar. inews.id

Mesir Saat Jauh dari Islam

Saat dimulainya era penjajahan Eropa atas Afrika, jauh sebelum Khilafah terakhir runtuh pada 1924 M, wilayah Mesir sudah menjadi sasaran konspirasi Inggris untuk dipisahkan dari kekuasaan Islam yang kala itu dipegang Dinasti Utsmani dan berpusat di Turki.

Inggris mendapatkan peluang itu dari lemahnya hubungan penguasa wilayah Mesir yang rakus akan kekuasaan dengan pusat pemerintahan Islam. Maka, melalui perang Inggris-Mesir pada tahun 1882 M, jatuhlah Mesir menjadi daerah jajahan Inggris.

Hal itu terus berlangsung hingga Mesir dimerdekakan pada 1952 M. Tentu saja, sudah dalam kondisi jauh dari Islam. Bahkan, negara baru ini berdiri atas dasar konsep kebangsaan dengan menjadikan paham sekularisme, sosialisme, dan kapitalisme sebagai asas kekuasaan.

Maka, rezim demi rezim pun silih berganti memimpin rakyat Mesir hingga sekarang. Namun, tak ada satu pun yang mampu mengembalikan Mesir pada kemuliaan sebagaimana saat mereka ada di bawah pangkuan Islam.

Mesir menjadi negeri muslim yang rentan konflik dan tak memiliki posisi internasional selain menjadi pengekor peradaban Barat. Hingga untuk kasus pendudukan Israel atas Palestina pun, Mesir justru bergandengan tangan dengan Barat, mendukung pendudukan melalui sikap diam dan pura-pura netral.

Khatimah

Sejatinya, di mata Islam, Mesir adalah sebuah harapan. Ia ditaklukkan bukan untuk dihinakan, tapi untuk dimuliakan. Itu terbukti saat Mesir ada dalam pangkuan Islam selama belasan abad.

Mesir, sebagaimana negeri muslim lainnya, akan tetap dalam posisi terjajah jika masih enggan mengambil Islam sebagai sistem kehidupan. Sekularisme dan nasionalisme yang mereka kukuhi akan menjadi faktor pelemah yang terus memecah belah kekuatan.

Foto: Kota Kairo hari ini. kumparan.com

Sudah saatnya kaum muslim Mesir dan di negeri lain berjuang bersama mengembalikan sistem politik Islam. Yakni sebuah sistem yang akan menyatukan seluruh potensi kekuatan umat Islam di bawah satu kepemimpinan.

Dengan cara itulah umat Islam bisa kembali tampil sebagai satu kekuatan, umat terbaik  yang mampu menghancurkan sebagai bentuk kekufuran, termasuk hegemoni kapitalisme global. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan