[Sejarah] Larangan Islam terhadap Nasionalisme (Bagian 3/3)

Sambungan dari Bagian 2/3

MuslimahNews.com, SEJARAH NASIONALISME — Memerintah sesuai dengan hukum Islam hanya dapat dilaksanakan di dalam suatu negara dan dengan satu orang khalifah. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Abdullah bin Amr bin al-Ash menceritakan bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ باَيَعَ إِماَماً فَأَ عْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنِ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ اخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَهِ الآ خَرِ

 “Siapa yang membaiat kepada seorang Imam lalu ia memberikan jabatan tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah menaatinya. Jika datang seorang yang lain hendak merebut kekuasaannya, maka penggallah leher orang tersebut.”

 Abu al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الآخَرَ مِنْهُمَا

“Jika baiat diberikan kepada dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir.”

Arfaja berkata bahwa ia mendengar bahwa Rasul saw. bersabda,

مَنْ أَتَاكُمْ وَ أَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرّْقَ جَمَاعَتَكُمْ فَقْتُلُوهُ

Jika seorang datang kepadamu ketika kamu bersatu di bawah pimpinan satu orang, dan ia hendak menghancurkan kekuatanmu dan memecah persatuanmu, maka bunuhlah.” (HR Muslim)

Persatuan umat Islam sangatlah diutamakan hal ini tampak pada piagam yang ditulis oleh Rasulullah saw. ketika beliau mendirikan Negara Islam Madinah. Dengan piagam ini yang ditujukan untuk mengatur hubungan antara orang muslim dan non-muslim di dalam negara Islam, Rasulullah mengatakan tentang orang muslim sebagai berikut,

وَأَنَّ ذِمَّتَ اللّٰهِ وَاحِدَة يَجِيْرُ عَلَيْهِمْ

“Perjanjian Allah di antara mereka adalah satu.”

dan

وَأَنَّ الْمُؤْمِنِيْنَ بَعْذُهُم مَوَالي بَعضٍ

“Orang-orang yang beriman adalah saudara terhadap yang lain.”

dan

وََنَّ سْلْمَ الْمُؤْمِنِينَ وَاحِدَة لايُسَالِم مُؤمِن دُون مُؤْمِن فِي قِتَال فِي سَبِيلِ اللّٰه

“Kedamaian orang-orang mukmin itu tak terbagi. Tidak ada perdamaian terpisah yang perlu dibuat ketika orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa kaum muslimin adalah satu tubuh, bahwasanya mereka tidak dapat diperlakukan secara terpisah-pisah. Selain itu, kewajiban untuk memiliki satu negara dan bukannya banyak negara nasionalistis adalah merupakan hasil dari ijmak para sahabat.

Baca juga:  [Sejarah] Larangan Islam terhadap Nasionalisme (Bagian 2/3)

Ketika Rasulullah saw. wafat, para sahabat berkumpul untuk bermusyawarah menentukan khalifah pengganti beliau di perkampungan Bani Sa’idah. Seseorang telah mengusulkan bahwa orang Anshar harus memilih pemimpinnya sendiri.

Namun, kemudian Abu Bakar membacakan satu hadis yang melarang kaum muslimin memiliki lebih dari satu pemimpin, sehingga para sahabat tidak pernah setuju adanya lebih dari dua pemimpin, dan kesepakatan mereka merupakan dalil paling kuat bagi kita.

Karena itulah, Islam tidak menyisakan ruang bagi Negara Saudi, Negara Mesir, Negara Malaysia, Negara Iran, maupun Negara Pakistan. Islam menyerukan adanya satu negara dengan satu pemerintahan yang seluruh umat Islam di dalamnya diikat dengan ikatan akidah, yaitu akidah Islam.

Demikianlah, Islam telah mengatur dan kita pun harus mengikutinya, sebab Allah Swt. telah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat: 13)

Ayat ini turun seketika setelah Rasulullah saw. memasuki Kota Makkah dengan kemenangan yang besar. Setelah mengumumkan pernyataan pembebasan atas orang-orang Quraisy, Rasulullah saw. memerintahkan Bilal mengumandangkan azan.

Pada saat itu terdapat tiga orang muslim baru yang mengamati kejadian disuruhnya Bilal untuk mengumandangkan azan tersebut. Seorang dari mereka menyatakan betapa bahagianya dia karena dia tidak melihat orang tuanya hadir di situ menyaksikan pemandangan yang menjijikan itu.

Satu orang lagi, yaitu Haris bin Hisyam, mengomentari bahwa Rasulullah saw. tidak lagi dapat menemukan orang yang cocok selain seekor burung gagak hitam untuk mengumandangkan azan.

Baca juga:  [Sejarah] Nasionalisme di Saudi Arabia dan Negara Teluk

Sedangkan orang yang ketiga, yaitu Abu Sufyan, abstain dan memilih untuk tidak memberikan komentar. Dia menyatakan bahwa jika dia mengatakan sesuatu, Allah Swt. pasti akan menurunkan wahyu kepada Muhammad saw. berkenaan dengan pernyataannya.

Allah Swt. kemudian mengirimkan Jibril as. untuk memberikan informasi kepada Rasulullah saw. tentang percakapan yang baru saja terjadi di antara ketiga orang itu. Lalu Rasulullah saw. bertanya kepada mereka tentang percakapan mereka tersebut. Rasulullah hendak mengonfirmasikan apa yang telah disampaikan Jibril. Demikian ayat Al-Qur’an itu diwahyukan.

Karena ketiga orang Quraisy tersebut membedakan dirinya dari Bilal ra., maka Allah Swt. mewahyukan ayat-Nya. Ayat itu menyebutkan bahwa satu-satunya kriteria yang digunakan Allah untuk menilai seseorang adalah ketakwaannya.

Ketakwaan itu telah dimiliki oleh Bilal, sedangkan ketiga orang itu justru belum memilikinya. Ayat ini menyerang dasar nasionalisme dalam Islam.

Pada bagian awal ayat, Allah mewahyukan bahwasanya seluruh umat manusia berasal dari satu pasangan Adam dan Hawa. Pernyataan ini juga menolak anggapan orang bahwa manusia berasal dari binatang melalui proses evolusi.

Potongan ayat, “… dan menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal…” biasanya diartikan sebagai bangsa-bangsa dan suku-suku untuk menjustifikasi adanya perbedaan-perbedaan yang telah dibuat dengan memasang sekat-sekat wilayah, khususnya di dunia Islam.

Sayangnya lagi, salah pengertian tersebut justru dimanfaatkan untuk menyusupkan rasa kebangsaan dalam dada kaum muslimin dengan afiliasi-afiliasi kesukuan semacam ini.

Sungguh sangat disayangkan bahwa kaum muslimin secara terburu-buru membuat kesimpulan tanpa melihat apa yang telah difirmankan oleh Allah Swt.. Pemahaman yang menyimpang terhadap ayat ini dimanfaatkan untuk melegitimasi keadaan umat Islam saat ini yang berada dalam banyak negara—terbagi-bagi dan tanpa kekuatan—sebagai hasil dari dihancurkannya Khilafah Islamiah pada 3 Maret 1924 oleh seorang antek kafir, Mustafa Kemal.

Baca juga:  Demokrasi Setengah Hati Atasi Derita Muslim Rohingya

Lebih lanjut lagi, salah paham tersebut memberikan legitimasi terhadap pembagian wilayah yang terus berlanjut di negeri kaum muslimin yang telah terbagi-bagi. Hal ini terjadi di sepanjang abad 20.

Anak benua India terbagi menjadi India, Pakistan, dan Kashmir. Pakistan kemudian terpecah lagi dengan dibentuknya Bangladesh dan menjadi tempat penyewaan para pemecah belah wilayah Khilafah Islam oleh agen Inggris Sykes dan agen Prancis Picot selama Perang Dunia I.

Pada saat itu mereka hanya menggunakan pensil dan penggaris untuk membagi dan memecah belah umat Islam.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak (pula) bagi perempuan yang beriman, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan dan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 36)

Kepada mereka yang masih mempertahankan nasionalisme, ingatlah firman Allah berikut ini,

لَّا تَجْعَلُوا۟ دُعَآءَ ٱلرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَآءِ بَعْضِكُم بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian yang lain. Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS An-Nur: 63) [MNews/Rgl]

Sumber: Sejarah Nasionalisme di Dunia Islam, Shabir Ahmed dan Abid Karim

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *