Kisah InspiratifShahabiyah

Fatimah binti Al-Mundzir, Guru bagi Suaminya

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Sebagai generasi ketiga setelah Nabi saw. dan para sahabat dalam hal periwayatan hadis, pada era tabiin, eksistensi perempuan tetap diberikan tempat untuk menindaklanjuti periwayatan-periwayatan hadis Nabi saw..

Hal ini merupakan bentuk perwujudan bahwa perempuan tetap memiliki satu kelebihan pada aspek ilmu pengetahuan, khususnya tentang periwayatan hadis.

Di antara tabiin dari kalangan perempuan yang memiliki banyak periwayatan hadis ialah Fatimah binti al-Mundzir.  Ia merupakan  istri Hisyam bin ‘Urwah, termasuk dalam rawi hadis thabaqah ketiga, yaitu thabaqah al-wustha min tabiin.

Fatimah binti al-Mundzir dibesarkan di lingkungan keluarga pendukung utama Nabi saw.. Kakek dari ayahnya, yaitu Zubair bin Awwam dikenal sebagai sahabat utama Nabi.

Fatimah merupakan penerus keluarga sahabat utama Nabi dalam meriwayatkan hadis. Meskipun ayahnya, al-Mundzir bin Zubair dalam Al-kutub al-Tis’ah hanya meriwayatkan satu hadis.

Ia merupakan pewaris ilmu hadis dari neneknya, Asma binti Abu Bakar.

Suaminya bernama Hisyam bin Urwah bin Zubair bin Awwam. Lahir pada 61 H dan termasuk generasi tabiin senior. Suaminya, Hisyam bin Urwah mengakui keunggulannya dalam hal riwayat hadis, sebab ia lebih tua dalam usia.

Hisyam pernah berkata, “Fatimah binti al-Mundzir lebih tua dariku 13 tahun.” Jika kita tahu bahwa Hisyam lahir tahun 61 H, maka Fatimah lahir tahun 48 H.

Fathimah melahirkan dua anak dari Hisyam. Mereka adalah Urwah dan Muhammad, keduanya menjadi manusia pilihan di masanya.

Berita-berita tentang Fatimah binti al-Mundzir menunjukkan bahwa riwayat-riwayatnya terbatas pada wanita saja. Ia sempat bertemu Ummu Salamah ra.

Saat itu usianya empat belas tahun. Sejak kecil  Fatimah dikenal sebagai anak yang cerdas dan unggul dalam hafalan.

Fatimah tumbuh dalam bimbingan nenek dari ayahnya Asma’ binti Abu Bakar  dan menghafal hadis darinya, umurnya saat itu lima belas tahun. Karenanya ia sangat banyak mendengarkan hadis dan menghafalnya.

Hadis yang diriwayatkan Fatimah dari Ummu Salamah, yakni tentang usia menyusui. Hadis tersebut ditulis At-Tirmidzi dalam kitabnya bahwa Ummu Salamah berkata, susuan yang dapat mengharamkan pernikahan adalah susuan yang susunya sampai ke usus dan bermanfaat bagi pertumbuhan anak.

Hal itu dilakukan sebelum anaknya disapih. Selain itu, Fatimah juga meriwayatkan beberapa pemikiran fikih dari neneknya, Asma binti Abu Bakar.

Meski ia disebut sebagai guru bagi suaminya, hal itu tidak menjadikannya jemawa atau merasa tinggi di hadapan suaminya.

Justru keduanya bekerja sama dengan baik sebagai keluarga ahli hadis terkemuka. Keilmuan hadis keduanya yang sama-sama mumpuni membuat Fatimah dan Hisyam merupakan pasangan yang disegani dalam ilmu hadis.

Keduanya bekerja sama dalam mengajarkan hadis kepada orang lain. Salah satu hadis yang mereka riwayatkan, yaitu tentang infak.

Hadis tersebut berbunyi, “Berinfak dan bersedekahlah dan jangan menunggu kelebihan harta. Sebab, apabila kalian menunggu kelebihan harta, kalian tidak akan dilebihkan sedikit pun. Dan apabila kalian bersedekah maka kalian tidak akan mendapatkan rasa kekurangan.”

Hingga akhir hayatnya, Fatimah meriwayatkan 400 hadis. Ia dan suaminya mengukuhkan diri sebagai keluarga muslim yang tumbuh dalam lingkungan pembelajar dan pewaris ilmu dari generasi sahabat Nabi saw.. [MNews/Chs-Juan]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *