[Sejarah] Larangan Islam terhadap Nasionalisme (Bagian 2/3)

Sambungan dari Bagian 1/3

MuslimahNews.com, SEJARAH NASIONALISME — Diceritakan dalam dua riwayat yang berbeda oleh Ibn Al-Mubarak dalam dua kitabnya, Al-Birr dan As-Salah, terjadi ketidaksepakatan antara Abu Dzar dan Bilal.

Abu Dzar berkata kepada Bilal, “Kamu anak seorang budak hitam.” Rasulullah yang mendengar hal ini sangat marah lalu, lalu beliau mengingatkan Abu Dzar dengan bersabda,

يَا أَبَا ءذَار طف الصاع طف الصاع لَيْسَ لِاِبْنِ الْبَيْضَاء عَلَى اِبْنِ اسَّوْدٖاء فَضْل

Ini keterlaluan, Abu Dzar! Orang yang ibunya berkulit putih tidak memiliki kelebihan yang membuatnya menjadi lebih baik daripada orang yang ibunya berkulit hitam.”

Peringatan ini meninggalkan pengaruh yang amat mendalam pada diri Abu Dzar. Ia kemudian meletakkan kepalanya di tanah dan bersumpah bahwa ia tidak akan mengangkatnya sebelum Bilal menginjakkan kakinya di atasnya.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa ikatan kesukuan tidak mendapatkan tempat sama sekali dalam Islam. Kaum muslimin diperintahkan untuk berdiri bersama-sama dan tidak memisahkan diri satu sama lain hanya karena mereka berasal dari suku yang berbeda.

Rasulullah juga bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رواه مسلم)

“Perumpamaan orang-orang yang beriman, dalam kecintaannya, kasih sayangnya, dan persatuan yang kuat, laksana satu tubuh. Ketika satu bagian menderita sakit, seluruh tubuh akan menyambutnya dengan menggigil dan demam.”  (HR Muslim)

لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمٍِّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَ لَا أَسْوَدَ عَلَى أأَبْيَض وَلا لَِبْيَض عَلَى أَسْوَد اِلَّا بِالتَقْوَى النّٗسُ مِنْ آدَم وَ أٓدَمُ مِنْ تُرَاب

Orang Arab tidak lebih baik dari orang non-Arab. Sebaliknya orang non-Arab juga tidak lebih baik dari orang Arab. Orang berkulit merah tidak lebih baik dari orang berkulit hitam kecuali dalam hal ketakwaannya. Umat manusia adalah anak cucu Adam dan Adam diciptakan dari tanah liat.” (HR Ad-Daruquthni)

Baca juga:  [Sejarah] Nasionalisme Sejak Diruntuhkannya Negara Khilafah Tahun 1924

Hal ini berarti bahwa orang-orang Islam, baik keturunan Cina, Afrika, Eropa, maupun Asia merupakan umat yang satu dan mereka tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Seharusnya tidak ada satu pun ikatan kesukuan yang dapat memecah belah kesatuan mereka.

Allah Swt. berfirman sebagai berikut,

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah) hubungan antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.(QS Al-Hujurat: 10)

Dan Rasulullah saw. juga bersabda,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Seorang mukmin satu dengan mukmin yang lain laksana satu bangunan, satu bagian memperkuat bagian yang lain.” (HR Bukhari)

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak menyakiti dan juga tidak disakiti. Jika seseorang membantu saudaranya yang sedang membutuhkan, maka Allah akan membantunya ketika ia membutuhkan, dan jika seseorang menghilangkan kesukaran dari muslim yang lain, maka Allah juga akan menghilangkan kesukaran darinya besok pada Hari Kiamat, dan jika seseorang menyembunyikan air muslim yang lain, maka Allah akan menyembunyikan aibnya pula pada Hari Kebangkitan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi ada beberapa orang yang mengklaim bahwa Rasulullah membenarkan adanya nasionalisme, sebab ketika beliau berpindah ke Madinah, beliau menyebut-nyebut Makkah sambil berlinang air mata,

وَ أنْتِ َحَبُّ بِلَادِ اللّٰهِ إلَيَّ

Engkau adalah bumi Allah yang aku cintai. (HR Abu Ya’la)

Akan tetapi, sebenarnya perkataan beliau ini tidak ada kaitannya dengan nasionalisme. Hal ini dapat diketahui dari ungkapan beliau yang lebih sempurna yang sering tidak diperhatikan oleh banyak orang,

Baca juga:  Untuk Siapa Slogan Nasionalisme?

وَاللّٰهِ ِنَّكَ لَخَيْرُ أَرْضِ اللّٰهِ وَ أَحَبُّ أَرْضِواللّٰهِ إلَى اللّٰهِ

Engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai sebab engkau adalah bumi Allah yang paling dicintai Allah.(HR Tirmidzi)

Rasulullah saw. mencintai Makkah didasarkan pada status istimewa yang telah Allah berikan kepada Kota Makkah, bukan karena beliau telah dilahirkan di sana. Semua umat Islam harus memiliki kecintaan kepada Makkah, sebab ia merupakan tanah yang paling dimuliakan oleh Allah.

Selain itu, seluruh kaum muslimin salat dengan menghadap Ka’bah yang ada di Makkah, pergi ke Makkah untuk menjalankan ibadah haji. Karena itulah perkataan Nabi saw. dan para sahabat dari kalangan Muhajirin mencintai tanah kelahirannya (Makkah) pastilah akan kembali menetap di Makkah ketika Makkah menjadi bagian dari negara Islam di Makkah.

Islam bukan hanya melarang manusia untuk berkelompok atau dasar ikatan nasionalisme, tetapi Islam juga melarang didirikannya lebih dari satu negara di kalangan kaum muslimin, baik negara itu didasarkan atas nasionalisme ataupun tidak.

Satu-satunya negara yang dibolehkan bagi kaum muslimin adalah Daulah Islamiah, yaitu negara yang diatur semata-mata dengan aturan Islam.

Allah berfirman kepada Rasulullah saw. sebagai berikut,

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.

Hanya kepada Allahlah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS Al-Maidah: 48)

Baca juga:  [Sejarah Nasionalisme] Strategi Inggris Menjadikan Arab Lemah dan Berpecah Belah

وَأَنِ ٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ وَٱحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَنۢ بَعْضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَٱعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ لَفَٰسِقُونَ

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.

Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS al-Maidah: 49)

Firman Allah yang ditujukan kepada Rasulullah pada hakikatnya juga merupakan firman untuk sekalian kaum muslimin. Dalam hal ini, tidak ada batasan, sehingga menjadi wajiblah bagi seluruh kaum muslimin untuk menyelenggarakan pemerintahan dengan aturan-aturan Islam.

Memerintah dengan Islam berarti tidak memberikan sedikit ruang pun bagi konstitusi nasionalisme, apa pun bentuknya. Sebab, apa yang diterapkan, serta bentuk dan kriteria penilaian, semuanya berdasarkan pada Kitab Allah Swt. dan Sunah Rasulullah saw.. [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 3/3

Sumber: Sejarah Nasionalisme di Dunia Islam, Shabir Ahmed dan Abid Karim

Tinggalkan Balasan