[Nafsiyah] Urgensi Dakwah Pemikiran

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Rasul saw. pernah bersabda, “Berjihadlah untuk menghadapi kaum musyrikin dengan harta, jiwa, dan lisan yang kamu miliki.” (HR Ahmad)

Berdasarkan hadis tersebut, jihad dengan lisan atau sarana-sarana sejenis merupakan bagian dari dakwah. Salah satunya ialah dakwah pemikiran.

Aktivitas kaum muslimin akan menjadi tepat atau baik karena cara pandang mereka. Jika salah dalam beraktivitas, cara strategis membenahinya adalah dengan meluruskan cara pandang mereka. Inilah urgensi dakwah pemikiran.

Dakwah pemikiran yaitu menjelaskan konsep Islam yang sahih serta cara pandang yang benar terhadap masalah. Kemudian meluruskan pemahaman dan cara pandang yang keliru di tengah-tengah umat.

Dakwah pemikiran harus diprioritaskan, serta harus ada yang menunaikan dengan fokus dan ihsan. Kondisi dan fenomena masyarakat saat ini menjadi sebuah keniscayaan untuk kembali mengikuti sunah Rasulullah saw. tentang tahapan  dalam dakwah pemikiran. Jika tidak dilakukan secara bertahap, akan menghadapi kesulitan untuk melakukan pembenahan pemikiran umat.

Rasul memberikan tahapan sesuai dengan kaidah dan ranahnya, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama ahli fikih.

Para juru dakwah tidak hanya terbatas menjelaskan atau menyampaikan “ini boleh” dan ” ini tidak boleh”, tetapi juga membenahi penyimpangan yang terjadi di tengah umat dengan visi dan risalah, serta memberikan alternatif solusi untuk dilakukan.

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Interaksi Pemikiran dalam Dakwah

Juru dakwah harus meluruskan persoalan dengan penuh hikmah, serta melengkapi dan memperbaikinya. Dengan meluruskan pemahaman, cara pandang, minhaj, serta gambaran yang benar, hal itu akan memudahkan setiap tahapan dakwah pemikiran. Sehingga, setiap orang di tengah umat akan mengemban pemikiran Islam.

Di samping itu, ada pahala yang besar diberikan Allah bagi siapa pun yang menyeru pada kebaikan dan mencegah dari keburukan.

Rasul Saw bersabda,

“Barang siapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR Muslim no. 1893)

Maka, setiap orang yang memberi nasihat berkaitan dengan agama atau dunia, yang bisa mengantarkannya kepada ajaran agama, orang itu adalah penyeru kepada petunjuk.

Dakwah di jalan Allah Swt. merupakan sebesar-besar ketaatan kepada-Nya. Perkataan yang paling baik adalah mengajak manusia ke jalan Allah dan beramal saleh.

Semoga kita tetap istikamah menjadi juru dakwah, menyeru pada kebaikan dan mencegah dari keburukan, serta mendapat Allah rida atasnya. Aamiin allahumma aamiin[MNews/Rnd-Gz]

Tinggalkan Balasan