[Sejarah] Larangan Islam terhadap Nasionalisme (Bagian 1/3)

MuslimahNews.com, SEJARAH NASIONALISME — Nasionalisme merupakan suatu konsep yang sangat asing bagi Islam, sebab ia menyeru kepada persatuan yang berdasarkan pada ikatan kekeluargaan dan kesukuan. Sementara Islam menyatukan manusia berdasarkan pada akidah semata, yaitu keimanan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya saw.., Dengan kata lain, Islam menyeru kepada ikatan ideologis.

Menyatukan manusia berdasarkan ikatan kesukuan jelas dilarang. Diriwayatkan dari Abu Dawud bahwasanya Rasulullah saw. bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada ‘ashabiyyah (nasionalisme/sukuisme), orang yang berperang karena ‘ashabiyyah serta orang-orang yang mati karena ‘ashabiyyah.” (Abu Dawud)

Dalam hadis yang lain, Utusan Allah Swt. ketika menyebut ‘ashabiyah seperti nasionalisme, rasisme, dan patriotisme, bersabda,

دّعُوْهَا فَإِنّهَا مُنْتِنَةٌ

“Tinggalkan karena ia tidak berguna!” (Bukhari dan Muslim)

Dan dalam hadis yang ditulis oleh Misykat al-Masabih, Rasulullah saw. berkata,

مَنْ دَعَا اِلَى عَصَبِيَّةٍ فَكَأَنّمَا عَضَّ عَلَى هَنِّ أبِيْهِ

“Dia yang menyeru kepada ‘ashabiyah laksana orang yang menggigit kemaluan bapaknya.”

Selain itu Rasulullah saw. juga bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud sebagai berikut,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَفْتَخِرُوْنَ بِاٰبَاءِهِمُ اَلَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَهْمُ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُوْنَنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللّٰهِ مِنَ الْجُعَلِ اللَّذِى يُدَهْدِهُ الْخِرَاءَ بِأَنْفِهِ إِنَّ اللّٰهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّتَ الْجَاهِلِيَّةِ إِنََّمَا هُوَ مُُؤْمِنٌ تَقِيٌّ و فَاجِرٌ شَقِيّ انَّاسُ كُلُّهُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ

Orang-orang hendaknya berhenti membangga-banggakan bapak-bapak mereka yang telah mati, padahal mereka hanyalah bahan bakar neraka Jahanam, atau dalam pandangan Allah mereka sungguh lebih hina dari pada kumbang tinja yang menggelindingkan kotoran dengan hidungnya. Ingatlah sungguh Allah telah menghilangkan dari dirimu sikap kesombongan dan kebanggaan jahiliah. Manusia hanyalah (salah satu di antara) orang-orang beriman yang takut kepada Tuhannya atau pendosa yang terkutuk. Semua manusia adalah anak cucu Adam dan Adam diciptakan dari debu.” (Abu Dawud dan Tirmidzi)

Rasulullah saw. juga bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالآبَاءِ مُؤْمِنٌ تَقِىٌّ وَفَاجِرٌ شَقِىٌّ وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ

لَيَدَعَنَّ رِجَالٌ فَخْرَهُمْ بِأَقْوَامٍ إِنَّمَا هُمْ فَهْمٌ مِنْ فَهْمِ جَهَنَّمَ أوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللّٰهِ مِنَ الْجِعْلانِ الَّتِى تَدْفَعُ بِأَنْفِهَا النَّتْنَ

“Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari hati kalian sifat kesombongan jahiliah dan kebanggaan terhadap nenek moyang. Manusia hanya ada dua, mukmin bertakwa atau orang bejat yang celaka. Semua manusia adalah anak Adam dan Adam diciptakan dari tanah. Manusia harus meninggalkan kebanggaan mereka terhadap kaum-kaum (bangsa) mereka karena hal itu merupakan bahan bakar dari api neraka. Atau (jika mereka tidak menghentikan semua itu), maka Allah akan menganggap mereka lebih rendah dari cacing tanah yang menyusupkan dirinya sendiri ke dalam limbah kotoran.” (Abu Dawud dan Tirmidzi)

Ada banyak contoh yang telah disebutkan dalam sirah bahwasanya Rasulullah saw. telah memperingatkan mereka yang memegang teguh nasionalisme.

Pada suatu saat, sekelompok orang Yahudi berusaha memecah belah persatuan kaum muslimin setelah melihat Suku Aus dan Khazraj masuk Islam. Salah seorang pemuda di antara mereka diperintahkan untuk menyusup di antara suku-suku tersebut untuk mengingatkan mereka tentang kejadian Perang Bu’ats, di mana dalam perang itu Suku Aus dapat mengalahkan orang Khazraj.

Penyusup itu pun membacakan sajak-sajak untuk memancing kembali timbulnya api permusuhan di antara mereka. Sebagai akibatnya, orang-orang Aus dan Khazraj pun tersulut dan sampai menyerukan peperangan.

Ketika kabar ini sampai kepada Nabi saw., maka beliau bersabda,

Wahai kaum muslimin, ingatlah Allah, ingatlah Allah. Apakah kalian akan bertindak seperti para penyembah berhala ketika aku hadir di tengah kalian dan Allah telah menunjuki kalian dengan Islam, dan dengan demikian kalian menjadi mulia dan menjauhkan diri dari paganisme, menjauhkan kalian dari kekufuran dan menjadikan kalian bersaudara karenanya?

Ketika mereka mendengar hal ini lalu mereka menangis dan saling berpelukan satu sama lain. Kejadian ini jelas menunjukkan bagaimana Rasulullah melarang berbagai kesukuan. Allah Swt. juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102) وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْداءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْواناً وَكُنْتُمْ عَلى شَفا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْها كَذلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آياتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kalian kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan amarah hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran: 102-103)

Diriwayatkan dari Qatadah berkaitan dengan ayat di atas Ibnu Abi Hathim berkata bahwasanya Allah telah memerintahkan untuk berpegang teguh pada kitab Al-Qur’an, din-Nya, dan juga kepada syahadatnya. Dia juga telah melarang kaum muslimin bercerai-berai dan berselisih satu sama lain.

Dalam kejadian yang lain, Jabir bin Abdullah al-Anshari menceritakan tentang peristiwa pertengkaran di dekat Telaga Al-Muraysi’ yang menyebabkan kaum munafik menyerukan ashabiyah dan mencari-cari jalan untuk memecah belah kesatuan kaum muslimin. Jabir berkata,

“Pada saat itu kita berada dalam suatu peperangan, tiba-tiba seorang Muhajirin menendang seorang Anshar. Orang Anshar tersebut berteriak-teriak, (memanggil rekan sesukunya) dan orang Muhajirin pun berkata, “Wahai Muhajirin tolonglah aku.” (juga memanggil teman sesukunya). Rasulullah yang mendengar lalu beliau bersabda,

َأَبِدَْعوا الْجَاهِلِيّةِ و أنَا بَيْنَ أظْهُرِكُمْ ؟

“Mengapa kalian memperebutkan sesuatu seperti pada masa Jahiliah sedangkan aku masih berada di tengah-tengah kalian?”

Rasulullah tidak menyelesaikan situasi panas ini dengan berkata-kata saja, namun beliau lalu mengajak orang-orang itu untuk berjalan sampai jauh malam, dari malam sampai pagi lagi, dan keesokan harinya sampai matahari menyengat mereka.

Kemudian Rasulullah menghentikan mereka. Dan begitu mereka menyentuh tanah, tertidurlah mereka. Rasulullah melakukan hal ini untuk mengalihkan pikiran kaum muslimin dari peristiwa yang baru saja mereka alami.

Diceritakan oleh Ath-Thabrani dan al-Hakim bahwa dalam suatu insiden beberapa orang membicarakan dan merendahkan Salman Al-Farisi. Mereka membicarakan inferioritas orang Persia dibandingkan dengan orang Arab. Ketika mendengar hal ini, Rasulullah saw. menyatakan dengan tegas,

يَا سَلمَانُ اَنْتَ مِنَّا اَهْلَ الْبَيْتِ

“Wahai Salman, engkau adalah bagian dari kami, ahlul bait (keluarga Rasulullah).” (HR Thabrani)

Pernyataan Rasulullah saw. ini memutuskan seluruh ikatan berdasarkan pada faktor keturunan dan kesukuan. [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 2/3

Sumber: Sejarah Nasionalisme Di Dunia Islam, Shabir Ahmed dan Abid Karim

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *