Menjerat ASEAN sebagai Mitra Amerika Serikat


Penulis: Fatma Sunardi


MuslimahNews.com, ANALISIS — Wakil Menteri Luar Negeri AS, Wendy R. Sherman, telah melakukan tur diplomatik 11 hari (25 Mei—4 Juni 2021) termasuk di tiga negara Asia Tenggara. Menurut siaran pers Departemen Luar Negeri AS, ini perjalanan pertama pejabat senior AS ke Asia Tenggara sejak pemerintahan Biden. Sherman berhenti di Brussels dan Ankara, berlanjut ke Jakarta, Phnom Penh, dan Bangkok.

Selama kunjungan ke Indonesia, Wendy Sherman bertemu dengan Sekretaris Jenderal ASEAN Le Luong Minh untuk bertukar pandangan tentang tantangan keamanan regional dan membahas prospek reformasi untuk memperkuat Piagam ASEAN dan Sekretariat ASEAN.[1]

Sekaligus menegaskan kembali komitmen mendalam Amerika terhadap kawasan ini, pada tatanan internasional berbasis aturan, terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka (Free and Open Indo Pacific/FOIP), hak asasi manusia, dan demokrasi.[2]

Amerika menganggap tatanan internasional berbasis aturan sedang menghadapi ancaman dari entitas lain terutama Cina. Kementerian Luar Negeri AS dan Cina telah melakukan dialog di Alaska-AS (18/3/2021) di mana Menlu AS Anthony Blinken mengatakan, “Tindakan Cina mengancam sistem berbasis aturan yang menjamin stabilitas.”

Ancaman ini telah ditantang dengan kekuatan militer. Komandan Jenderal Kenneth Wilsbach, pusat komando Angkatan Udara Pasifik (PACAF) AS dalam briefing via telepon (4/6/2021), menyatakan institusinya akan menjaga kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, dan bersaing dengan Rusia, Korea Utara, dan Cina. Karena itu, kegiatan PACAF di sekitar kawasan dimaksudkan untuk mematuhi tatanan internasional berbasis aturan dan hukum internasional, [juga] untuk menantang pernyataan Korea Utara, Rusia, dan Cina, sehingga AS dapat mewujudkan kebebasan dan membuka Indo-Pasifik.[3]

Upaya mewujudkan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, mengharuskan AS menyegarkan dan memodernisasi aliansi dan kemitraan di seluruh dunia, termasuk merevitalisasi mitra di Asia Tenggara-ASEAN. Ini adalah bagian dari prioritas strategi keamanan nasional Amerika untuk melindungi kepentingan rakyat AS menghadapi ancaman.[4]

Mengukuhkan Hegemoni AS

Kemitraan Amerika-ASEAN tidak hanya dilandaskan pada kepentingan ekonomi, tapi juga geopolitik-keamanan kawasan. Wendy Sherman menggambarkan Asia Tenggara sebagai bagian Indo-Pasifik yang sangat penting.

Sepuluh negara ASEAN digabungkan mewakili 650 juta orang, populasi terbesar ketiga di dunia, dan 60% populasi berusia di bawah 35 tahun. Jadi, bagian dunia ini akan makin memainkan peran penting dalam membentuk arah peristiwa global untuk generasi mendatang.

Amerika memandang ini baik dan telah bermitra dengan kawasan ini selama 70 tahun terakhir, menciptakan dan mendorong tatanan internasional berbasis aturan yang diklaim telah memunculkan pertumbuhan perdamaian dan kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indo-Pasifik.[5]

Kemitraan AS-ASEAN salah satunya terformalisasi dalam dialog tahunan AS-ASEAN. Dialog AS-ASEAN ke-34 (5/5/2021) telah membahas kerja sama di bawah kemitraan strategis.

Dalam dialog tersebut, Duta Besar AS Atul Keshap menegaskan komitmen Pemerintahan Biden-Harris untuk menghidupkan kembali kemitraan multilateral AS dan terhadap sentralitas ASEAN (berdiri di tengah dan tidak berpihak pada negara tertentu). Sentralitas dan kesatuan ASEAN dibutuhkan dalam arsitek regional di kawasan Indo-Pasifik dalam menjaga kestabilan dan keamanan.

Sentralitas dan kesatuan ASEAN saat ini sedang dihadapkan pada perpecahan internal. Isu yang bisa dibuktikan, salah satunya adalah lambatnya penunjukan duta ke Myanmar karena perbedaan pandangan Indonesia dan Thailand tentang siapa dan berapa orang utusan ke Myanmar. Kondisi ini menjadi tantangan bagi AS—jika AS ingin ASEAN menjadi mitranya dalam isu keamanan kawasan—terutama menghadapi tumbuhnya pengaruh Cina.

Menyadari realitas perpecahan internal ASEAN, Amerika segera menguatkan diplomasi dengan menjadwal pertemuan khusus dengan tiga negara kunci saat ini, yakni Indonesia, Thailand, dan Kamboja.

Indonesia adalah mitra baik Amerika. Sherman berterima kasih kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar atas komitmen Indonesia terhadap demokrasi dan pluralitas, serta upayanya mengembalikan Burma ke jalan pemerintahan sipil dan demokratis.

Thailand adalah teman lama AS, Sherman bertemu Perdana Menteri Prayut Chan-ocha dan Wakil Perdana Menteri Don Pramudwinai, berbicara tentang isu-isu kunci bersama, termasuk aliansi AS-Thailand, mengatasi tantangan ekonomi dan keamanan, dan demokrasi dan HAM. Diplomasi AS ke Indonesia dan Thailand berjalan hangat.

Namun, AS masih mendapat tantangan dari Kamboja yang condong ke Cina. Bertemu Perdana Menteri Hun Sen, Sherman mengomplain kehadiran Cina di pangkalan angkatan laut Ream (kawasan yang dibangun atas biaya Amerika), memberi catatan HAM dan antidemokrasi Kamboja.

Sherman mendesak Pemerintah Kamboja untuk melindungi dan menghormati kebebasan berekspresi dan berserikat, serta untuk membuka kembali ruang politik bagi masyarakat sipil menjelang pemilu lokal 2022 dan pemilu nasional 2023.[6]

Diplomasi AS masih menyisakan PR, terlebih Kamboja akan memimpin ASEAN tahun 2022. Kin Phea, direktur Institut Hubungan Internasional Akademi Kerajaan Kamboja mengatakan hubungan Kamboja-Cina begitu komprehensif, sedangkan hubungan Kamboja-AS belum mulus dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, kunjungan Sherman dipandang sebagai kesempatan untuk meningkatkan hubungan bilateral dengan tujuan menetapkan agenda masa depan. [7]

Dialog Tripartit AS-ASEAN-Republic of Korea (ROK) dan G7

Diplomasi Amerika ke ASEAN masih tersendat, AS berniat menarik ASEAN pada dialog tripartit bersama Korea Selatan. Gagasan ini muncul dalam rangkaian dialog AS-ROK tentang visi AS untuk Indo-Pasifik dan Kebijakan Selatan Baru Republik Korea pada 12/5/2021 lalu.

Amerika dan Korea Selatan berkomitmen untuk memperluas kerja sama di Asia Tenggara dan Indo-Pasifik dalam mendukung sentralitas ASEAN dan Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik.[8]

Korea Selatan-sekutu sejati AS akan menjadi mediator kuat untuk merealisasikan dialog tripartit ini. Sebelumnya, ASEAN telah menjalin kerja sama dengan platform ASEAN Korea Center (AKC). Bagi Amerika, dialog ini bagian geopolitik memenangkan persaingan dengan Cina di kawasan yang dekat-Laut Cina Selatan.

The Straits Time menurunkan analisis bahwa dialog tripartit akan memungkinkan AS secara sah memasuki pintu gerbang Laut Cina Selatan, sehingga memberikan AS peluang bersaing secara geopolitik dan menguasai Cina.[9]

Dialog tripartit AS-ASEAN-ROK akan menjadi tali penarik yang besar bagi ASEAN ke arah Amerika. Kondisi ini menjadikan negara-negara ASEAN akan didorong lebih solid melangkah bersama Amerika.

Langkah diplomatik lain yang membuka peluang AS mengikat ASEAN adalah melalui sekutu Group of Seven (G7). ASEAN diundang sebagai tamu pertemuan negara-negara G7 yang terdiri dari Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat (AS).

Undangan ini menunjukkan bagaimana G7 berusaha memperdalam hubungan dengan kawasan Indo-Pasifik, memperlihatkan betapa pentingnya kawasan tersebut dalam mereformasi dan menjaga tatanan internasional, masyarakat terbuka, dan ekonomi yang berkembang.[10]

Para Menlu G7 memulai pertemuan dengan fokus pada cara-cara untuk mencapai Indo-Pasifik bebas dan terbuka serta tindakan mengekang pandemi virus Corona. Pertemuan itu diharapkan dapat menunjukkan persatuan negara-negara demokratis dalam menangani isu-isu global, teguran nyata untuk Cina dan Rusia yang dicap Joe Biden sebagai rezim autokrasi.[11]

ASEAN maupun G7 memiliki kepentingan yang sama di kawasan Indo-Pasifik, yakni keamanan regional dan global sebagai jaminan bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Indo-Pasifik dan dunia.

Berbagai diplomasi AS akan mendorong sentralitas ASEAN (tidak berpihak pada Cina ), kemudian menarik ASEAN bersama tripartit dan G7 ke blok pendukung tatanan Internasional berbasis aturan dan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Tanpa ragu lagi, ASEAN akan menjadi mitra Amerika yang andal.

Tantangan Dakwah Islam di Rengah Diplomasi AS

Amerika akan kembali memimpin dunia dengan tatanan Internasional berbasis aturan tatanan liberal, dengan demokrasi dan penguatan nilai-nilai HAM. Ini akan menjadi alat penghukum entitas yang mengancam kepentingan AS.

Narasi demokrasi dengan semua pilarnya—nilai-nilai liberal, pers yang bebas, dukungan pada minoritas, dan penguatan peran masyarakat sipil—akan menjadi agenda diplomasi yang kuat.

Dakwah Islam, terutama di negeri ini, akan menghadapi dua gelombang besar. Moderasi beragama yang mencerabut nilai-nilai Islam dan depolitisasi Islam dari rezim lokal akan bertemu dengan arus kuat demokratisasi dan nilai-nilai HAM dari rezim global. Dua gelombang ini siap menghempas umat Islam, mewujudkan ekosistem yang tandus bagi penanaman nilai-nilai dan aturan Islam.

Namun, umat harus mampu membalik kondisi menjadi menguntungkan dakwah politik Islam. Ruang diskusi publik yang sesak dengan narasi demokrasi dan pembelaan HAM harus menjadi kendaraan untuk berbincang sistem tatanan global Khilafah.

Opini Khilafah harus mampu memunculkan gelombang balik bagi warga dunia, menciptakan atmosfer hangat untuk diskusi demokrasi vs. Khilafah dalam menyelesaikan isu-isu global.

Kesengsaraan dunia dan konflik di berbagai negara tidak akan pernah selesai dengan pendekatan demokrasi dan HAM. Dunia butuh Khilafah untuk menegakkan nilai dan aturan yang pas bagi manusia. Ini membutuhkan kolaborasi dakwah lokal dan global yang hanya bisa diwujudkan oleh partai politik Islam sejati. [MNews/Gz]


Catatan Kaki:

  1. https://asean.usmission.gov/under-secretary-for-political-affairs-visits-asean-secretariat/.
  2. https://www.state.gov/briefing-via-telephone-with-wendy-r-sherman-deputy-secretary-of-state/
  3. https://www.state.gov/briefing-via-telephone-with-general-kenneth-wilsbach-commander-pacific-air-forces-pacaf/
  4. https://www.whitehouse.gov/wp-content/uploads/2021/03/NSC-1v2.pdf.
  5. idem 2
  6. idem 2
  7. https://www.phnompenhpost.com/national-politics/us-no2-diplomat-visit-kingdom
  8. https://asean.usmission.gov/u-s-rok-pledge-to-increase-cooperation-on-asean-and-southeast-asia/.
  9. https://www.straitstimes.com/asia/east-asia/how-about-a-south-korea-us-asean-tripartite-partnership-korea-herald-contributor
  10. https://www.wartaekonomi.co.id/read340382/ketua-asean-ikut-diskusi-kelompok-g7-ini-poin-poin-pembahasan-utamanya?utm_source=direct
  11. https://www.thejakartapost.com/news/2021/05/04/g-7-foreign-ministers-start-talks-focus-on-indo-pacific-covid-19.html

Tinggalkan Balasan