[Tapak Tilas] Perang Qadisiyyah dan Babak Akhir Kekuasaan Imperium Persia


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.co, TAPAK TILAS — Qadisiyyah adalah nama salah satu kota kecil di kawasan Irak dekat Al-Hirrah. Namun, nama ini menjadi terkenal dan dicatat dalam sejarah karena pernah menjadi medan tempur antara pasukan muslim dengan kekuatan Persia pada tahun 636 M.

Pertempuran ini bukan pertempuran biasa. Melainkan pertempuran yang menandai babak akhir kekuasaan adidaya Persia di dunia. Karena setelahnya, seluruh kawasan pengaruh Persia benar-benar tunduk pada kekuasaan Islam. Hingga seluruh wilayahnya, termasuk kawasan Irak, menjadi tanah kharajiyah milik kaum muslimin.

Tak Mudah Ditundukkan

Beberapa tahun sebelum itu, tepatnya tahun 633 M, kekuasaan Persia di Irak sebenarnya sudah lumpuh di tangan pasukan Khalid bin Walid melalui beberapa kali pertempuran.

Di antara pertempuran yang paling penting adalah Pertempuran Rantai, Pertempuran Sungai, Pertempuran Walaja, dan Pertempuran Ullais.

Di pertempuran Ullais inilah, kota-kota penting Persia, termasuk Al Hirrah berhasil ditundukkan. Kota ini merupakan ibu kota kekuasaan Persia di Irak, sekaligus menjadi tempat istana-istana pembesar Persia berada.

Namun, meski Al-Hirrah telah berhasil dibuka, masih terjadi beberapa kali pertempuran besar. Di antaranya pertempuran yang terjadi di Kota Ayn al-Tamr. Juga pertempuran di wilayah Firaz yang merupakan wilayah perbatasan kekuasaan Persia dengan Romawi Timur.

Di pertempuran Firaz inilah pasukan Khalid harus menghadapi pasukan gabungan dari militer Persia, Romawi Timur, dan Arab Kristen. Namun, ia dan pasukannya berhasil mengalahkan musuh. Bahkan, seluruh wilayah kekuasaan Persia di Irak pun takluk pada kekuasaan Islam, kecuali Kota Madain atau Ctesiphon.

Saat Irak Kembali Direbut Persia

Tak lama setelah penguasaan Irak, tepatnya tahun 634 M atau sekitar tahun 13 Hijriah, Khalifah Abu Bakar wafat. Beliau radhiyallahu ‘anhu digantikan oleh Khalifah Umar bin Khaththab dengan amanah melanjutkan misi dakwah yang sudah diasas sebelumnya.

Hanya saja, upaya dakwah dan pembebasan Irak dari kekuasaan Persia memang mendapat tantangan yang kuat. Terlebih ketika Persia yang saat itu dipimpin oleh Yazdegerd III melakukan aliansi dengan kekuatan Romawi melalui jalan pernikahan politik.

Saat itu, Yazregerd III yang merupakan cucu Kisra (Khasrau) II, menikah dengan cucu Heraklius. Keduanya lalu bersepakat untuk menghadapi kekuatan Negara Islam secara bersama-sama. Heraklius berusaha mempertahankan wilayah Syam, sementara Yazdegerd berupaya merebut kembali Irak.

Pada awalnya, upaya Yazdegerd kalah kuat dibanding pasukan Romawi. Butuh waktu lebih lama baginya untuk merebut kembali Irak dari tangan kaum muslimin di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Sementara pasukan Heraklius masih bisa melakukan perlawanan.

Kuatnya perlawanan Romawi ini mengharuskan Khalifah Umar memobilisasi pasukan muslim dari berbagai tempat, termasuk memerintahkan pasukan Khalid bin Walid yang ada di Irak untuk bergerak menuju Syam.

Maka, bergeraklah sebagian pasukan Khalid ke daerah Syam, lalu turut terjun dalam Perang Yarmuk yang terjadi pada 636 M. Perang yang terjadi sangat dahsyat ini melibatkan 50.000 tentara terbaik Heraklius melawan 25.000 pasukan muslim.

Kondisi politik inilah yang membuat situasi di Irak menjadi labil kembali. Jumlah pasukan yang ditinggalkan Khalid untuk menjaga wilayah Irak, ternyata tak cukup untuk benar-benar membungkam sisa-sisa kekuatan Kisra di sana. Kondisi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Yazdegerd untuk merebut kembali Irak ke pangkuan rezim Persia.

Ketika berita ini sampai kepada Khalifah Umar, beliau pun segera memobilisasi pasukan baru. Beliau mendaulat Sa’ad bin Abi Waqash untuk memimpin ekspedisi mempertahankan kekuasaan kaum Muslim di wilayah Irak.

Berawal dari Dakwah yang Ditolak

Pada tahun 636 M, Sa’ad dan 3.000 pasukannya pun berangkat dari Madinah menuju Irak. Atas perintah Khalifah, ia berhenti di kampung bernama Qadisiyyah yang posisinya dekat Al-Hirrah, sekira 30 mil dari Kuffah atau lebih dari 1.000 km dari Madinah.

Di Qadisiyyah, Sa’ad tak langsung melakukan penyerangan, melainkan mengirim utusan setidaknya dua kali kepada Yadzergerd dan panglimanya, Rustum, untuk mengajak mereka masuk ke dalam Islam.

Jika mereka tak mau masuk Islam, mereka pun diberi pilihan: Apakah tunduk dalam pemerintahan Islam dengan membayar jizyah, atau jika menolak, berarti mereka menabuh genderang perang.

Namun, seruan-seruan ini malah disambut dengan cara yang sangat buruk. Rustum dan Yadzergerd justru mengejek dan menghina sang utusan dengan mengatakan bahwa kaum muslim datang ke Irak hanya karena lapar dan telanjang.

Maka, meski berat hati dan dalam kondisi sakit, Sa’ad pun memutuskan untuk melakukan peperangan. Hingga terjadilah Perang Qadisiyyah yang sangat fenomenal.

Sekira 30.000-40.000 pasukan muslim  yang sebagiannya merupakan pasukan berkuda bertempur melawan 130.000 pasukan Persia yang diperkuat oleh Pasukan Gajah yang menjadi andalannya.

Foto: Tarbawi.my

Sebelumnya jumlah pasukan muslim tak sebesar itu. Sehingga, pada hari pertama dan kedua, pasukan muslim menghadapi situasi yang sangat berat.

Baru pada hari ketiga, pasukan muslim mendapat bala bantuan. Pasukan yang baru saja sukses memenangi Perang Yarmuk diminta Khalifah Umar untuk membantu pasukan Sa’ad di Qadissiyah.

Perang yang Singkat

Perang Qadisiyyah ini berlangsung empat hari saja. Namun, di perang yang sangat tak imbang ini, kaum muslim mendapat kemenangan telak, yakni dengan datangnya pertolongan Allah berupa munculnya badai pasir yang sangat hebat.

Situasi inilah yang digunakan oleh kaum muslim untuk menyerang balik tentara musuh. Hingga banyak di antara mereka yang terbunuh, termasuk Rustum pemimpinnya yang mati di tangan Hilal bin Ullafah.

Dahsyatnya perang ini tampak dari jumlah korban yang jatuh dari kedua belah pihak. Sebagaimana dikutip dari Wikipedia, sekitar 8.500 pasukan muslim mati syahid, sementara dari kalangan pasukan musuh ada 22.000 tentara yang menjemput ajal.

Walhasil, dengan melalui pertempuran Qadisiyyah ini, kekuasaan pagan yang menghalangi dakwah Islam benar-benar telah hancur. Sehingga, pintu-pintu dakwah Islam telah terbuka lebar dan cahaya Islam pun memancar di sana.

Maka, secara berangsur-angsur banyak penduduk Irak yang menerima dakwah Islam dengan penuh kesadaran. Hingga tak tersisa lagi kekuatan para penyembah api di kawasan ini. Bahkan Irak—yakni Baghdad—sempat menjadi pusat Kekhilafahan Islam selama berabad-abad.

Khatimah

Kunci keberhasilan dakwah dan pembebasan wilayah Irak dan yang lainnya sejatinya bukan ada pada jumlah dan kekuatan persenjataan yang dimiliki kaum muslim saja, melainkan pada kualitas kepribadian yang dimiliki para pasukan dan pemimpinnya.

Faktor inilah yang menjadikan mereka senantiasa layak mendapat pertolongan Allah. Terutama di saat seluruh ikhtiar yang mereka lakukan harus berhadapan dengan kekuatan musuh yang secara hitungan akal tak mampu dikalahkan.

Hari ini, umat sedang berada dalam kancah perang peradaban. Namun, dalam perang ini, umat selalu ada dalam posisi yang lemah, bahkan kalah.

Hilangnya institusi Khilafah Islamiah pada tahun 1924 telah menjadikan kuasa kekufuran begitu kuat atas kehidupan umat. Mereka berpecah belah dan tak mampu menangkis berbagai serangan pemikiran dan politik yang masif dilancarkan musuh dalam berbagai bentuknya.

Di tengah kondisi seperti ini, umat sangat membutuhkan hadirnya kembali sosok-sosok dengan kepribadian seperti mereka. Yakni generasi muslim yang bertakwa, yang siap membela dan menjaga kemuliaan Islam dan kaum muslimin dengan segala potensi yang ada, hingga mereka pun layak beroleh pertolongan dari Allah Swt..

Semoga mereka adalah kita, dan atau anak keturunan kita. Aamiin. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan