[Sejarah] Nasionalisme di Malaysia dan Afro-Amerika

MuslimahNews.com, SEJARAH NASIONALISME — Malaysia menjadi suatu negara pada 16 September 1963. Inggris yang mengontrol wilayah yang dulunya bernama Malaya ini sejak tahun 1867. Kekuasaan imperialis tetap di Malaysia bahkan sampai hari ini. Kekuatan yang ditinggalkan Inggris ini bukan dalam bentuk perdagangan dan bahasa, namun dalam bentuk benih-benih nasionalisme yang telah tumbuh menjadi bunga yang mekar sempurna. Semangat nasionalisme tetap dijaga dan dihidupkan oleh penguasa kala itu, yaitu Perdana Menteri Dr. Mahathir Muhammad yang telah mengambil obor nasionalisme dari pendahulunya, yaitu Tun Hussein Onn dan Tunku Abdul Rahman Putra.

Nasionalisme Malaysia telah disuntikkan ke dalam banyak aspek kehidupan dan ditampakkan dalam berbagai bentuk, mulai dari bendera dan lagu kebangsaan sampai kepada media massa dan kehidupan publik. Banyak orang Islam di sana mencampuradukkan nasionalisme Malaysia dan Islam. Lagu-lagu nasionalis muncul beriringan dengan suara azan di televisi. Nama Allah diselipkan dalam lirik lagu-lagu kebangsaan. Adat kebiasaan dan pusaka Malaysia penuh dengan perpaduan antara Islam dan kesetiaan terhadap bangsa. Berperang demi tanah air berarti berperang karena Allah dan berjuang karena Allah berarti demi tanah air. Pengabdian kepada tanah air merupakan sikap umum yang ditunjukkan sebagai sikap pengabdian kepada Islam.

Orang-orang Melayu tidak hanya berada di dalam negara Malaysia, tetapi juga merupakan ras mayoritas di Indonesia, ras minoritas di Singapura, dan juga merupakan penguasa di Brunei Darussalam. Orang-orang Melayu ini begitu bersemangat untuk mengurus dan menghabiskan tenaganya bagi aspek ibadah dalam Islam. Salah satu contoh kasus adalah ketika Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Singapura bersama-sama merukyat hilal dan berusaha memulai dan mengakhiri Ramadan berdasarkan pada kerja sama dan kesepakatan ini, sekalipun aturan Islam menetapkan bahwa posisi hilal di atas dunia Islam akan menghasilkan kesimpulan dimulai dan diakhirinya Ramadan pada waktu yang bersamaan.

Pada sektor politik hanya kelompok bumi putralah yang dapat menduduki kursi penguasa. Dari kenyataan ini kita dapat memahami bahwa konsep ini menghubungkan manusia dengan tanah airnya dengan ikatan patriotisme, berbeda dengan Islam yang mengikat individu berdasarkan ideologi Islam. Visi Malaysia juga melengkapi konsep nasionalismenya. Gagasan Mahathir tentang ‘Wawasan 2020’ atau ‘Vision 2020’ merupakan program untuk membangkitkan semangat sosial-ekonomi nasionalistis untuk memberikan Malaysia sebuah wajah baru, yang akan mendorongnya tumbuh menjadi kekuatan baru yang akan berpengaruh di kawasan Asia Tenggara dan di seluruh dunia pada tahun 2020.

Baca juga:  Komparasi Indonesia - Suriah

Nasionalisme Afro-Amerika

Konsep penyatuan nasionalisme dan Islam -padahal tak akan pernah bisa disatukan- di kalangan orang kulit hitam Amerika, sudah dicoba untuk diperkenalkan jauh sebelum didirikannya Nation of Islam (NOI) oleh Wallace Fard Muhammad. Salah satu pemikir yang mencoba menggabungkan kedua konsep yang sesungguhnya pertentangan tersebut adalah Edward W. Blyden. Pada tahun 1850-an, Blyden meramu dan mengombinasikan antara gerakan Islam, sosialisme Afrika, dan Afrika kulit hitam. Blyden pernah menyatakan bahwa, “Kristen yang telah berusaha untuk mengubah nilai-nilai Afrika, dalam memberikan pengaruh yang merusak dan merugikan orang-orang Afrika.” Dia melihat bahwa Islam sesuai dengan gaya hidup orang-orang Afrika. Tujuannya adalah hendak mendirikan sebuah Republik Negro, yang akan berusaha sedikit demi sedikit untuk mencaplok masyarakat Islam Afrika.

Beberapa dekade berikutnya, semangat nasionalisme kulit hitam telah menjelmakan dirinya dalam dua gerakan, yaitu The Universal Negro Improvement Association (1914) yang didirikan oleh Marcus Garvey dan The Moorish Science Temple of America (1916) yang didirikan oleh Noble Drew Ali. Gerakan yang pertama menimbulkan gema kembalinya Blyden ke Afrika. Sedangkan The Moorish Temple menyuarakan nasionalisme psikologi yang diberi embel-embel simbolisme Islam, Ali menekankan bahwa kebangsaan adalah prasyarat untuk menerima Allah. Karena itulah maka ia membangun organisasi Temple berdasarkan pada pemikiran bahwa orang-orang berkulit hitam di Amerika adalah orang-orang Moor Asiatik yang berasal dari Maroko. Ali telah menerbitkan ‘Kitab Suci Al-Qur’an’ setebal 64 halaman yang memuat pemikiran nasionalismenya dan ia juga menyebutkan di dalamnya bahwa dirinya adalah seorang Utusan Tuhan. Pengurus Temple, sekalipun sampai sekarang masih ada, namun telah mulai luntur sejak tahun 1940-an.

Pada tahun 1930, Wallace Fard Muhammad muncul di Detroit dan menyatakan bahwa ia dilahirkan di Makkah dan merupakan keturunan keluarga istana, anak seorang kaya anggota suku Quraisy. Sebagai seorang pedagang pakaian keliling, dia juga menjalankan ide Islamnya yang sarat dengan hasutan-hasutan rasial. Dia menanamkan ajaran kepada pengikutnya bahwa Allah adalah Tuhan, orang kulit putih adalah setan, sedangkan orang-orang negro adalah orang kulit hitam Asiatik yang merupakan manusia pilihan di planet bumi.

Dia percaya orang kulit putih tidak akan pernah dapat menerima Islam disebabkan warisan sifat keiblisannya dari nenek moyangnya. Sedangkan orang kulit hitam memiliki kecenderungan kecondongan alami untuk menjadi muslim. Salah satu murid andalan Fard adalah Elijah Poole (kemudian disebut Elijah Muhammad). Suatu malam pada tahun 1931, setelah khotbah disampaikan oleh Fard, Elijah berseru, “Saya tahu siapa Anda. Andalah Tuhan itu.” Terhadap hal itu Fard menjawab, “Benar tetapi jangan katakan itu sekarang. Saat ini bukanlah saatnya bagiku untuk dikenal.”

Baca juga:  [Sejarah Nasionalisme] Hubungan Jinnah dengan Inggris dan Ibnu Saud dengan Amerika Serikat

Setelah Fard hilang secara misterius pada tahun 1933 -yang akhirnya menumbuhsuburkan konsep ketuhanan Fard di benak para pengikutnya, yang sampai saat ini pun masih dianggap benar oleh Louis Farrakhan (pemimpin NOI saat ini-editor) dan pengikutnya, sebagaimana dapat dijumpai pada setiap koran Final Call yang diterbitkan oleh Nation of Islam-, maka organisasinya terpecah menjadi dua faksi. Satu kelompok dipimpin oleh Abdul Muhammad, yang menolak konsep ketuhanan Fard dan menyerukan untuk menerima konstitusi Amerika Serikat. Kelompok yang lain dipimpin oleh Elijah Muhammad dan disebut Nation of Islam (NOI). Anggota NOI menyebut kebangsaannya sebagai bangsa Asiatik, dan mereka percaya bahwa mereka adalah keturunan The Great Asiatic. Dalam kelompok ini muncul konsep “The Tribe of Shabbaz” (Kabilah Shabbaz), yang merupakan bagian dari kerajaan Islam diyakini berasal dari Afrika. Selain itu juga mereka percaya bahwa Lembah Sungai Nil dan Makkah adalah tempat yang terbaik di seluruh planet Bumi.

Elijah memperkuat konsep bahwa orang-orang kulit putih adalah setan, ketuhanan kulit hitam dan pemisahan kedua ras itu, sehingga orang kulit hitam dapat menempati negara mereka sendiri di wilayahnya Amerika Serikat. Elijah berpidato bahwa zaman dahulu seorang ilmuwan Makkah yang bernama Yakub telah menciptakan ras kulit putih dari kulit hitam selama enam abad sebagai bagian dari rencana yang penuh dendam terhadap penguasa Makkah yang telah memenjarakan ia di pulau Patmos. Pengikut NOI percaya bahwa tahun 1930, Allah telah menampakkan dirinya di Detroit dalam rupa Wallace Fard Muhammad. Dia adalah perwujudan Messiah bagi orang-orang Kristen dan Imam Mahdi bagi orang-orang Islam. NOI melarang percampuran ras, seperti perkawinan antar-ras. Mereka menolak integrasi, percaya kepada reinkarnasi mental (dan bukannya fisik), dan bahwa Hari Pengadilan akan dimulai di Amerika.

Baca juga:  [Sejarah Nasionalisme] Uqair 1922, Konferensi yang Membelah Timur Tengah

Salah satu minister (gelar semacam pastor) yang paling berpengaruh dalam NOI adalah Malcolm X (Malik al-Shabbaz). Namun setelah kepulangannya dari ibadah haji, Malcolm meninggalkan NOI dan membuang filsafat hidupnya selama ini. Setelah kembali dari Makkah, ia mendirikan organisasi Organization of Afro-American Unity (OAAU). Meskipun akhirnya Malcolm kembali kepada ajaran Islam Sunni, OAAU menyerukan Pan-Afrikanisme, dan memproklamasikan bahwa orang-orang kulit hitam harus bersatu tanpa harus memandang agamnya, dan berdasarkan pada filosofi sosial, ekonomi, dan politiknya mendirikan bangunan nasionalisme kulit hitam.

Saat ini NOI dipimpin oleh Minister Louis Farrakhan yang berpidato seperti konsep yang telah disebarkan oleh Elijah. Konsep Islam Farrakhan juga mengandung syirik yang ada sejak permulaan berdirinya NOI. Pemikiran-pemikiran sesat, rasial dan nasionalistik yang dibungkus dengan jargon-jargon keislaman telah disebarkan melalui ajaran-ajaran Farrakhan. Mereka didukung oleh ribuan orang yang melakukan aksi di jalanan di Washington DC pada tanggal 16 Oktober 1995. Sayangnya, mereka yang bahkan bukan orang Afro-Amerika (kulit hitam, -editor) tetapi muslim justru malah dengan emosional mendukung NOI hanya karena melihat semangat nasionalistiknya itu.

Seruan nasionalisme Afro-Amerika ini tidak terbatas pada NOI saja. Seruan ini meluas sampai kepada seruan Afro-Amerika, sebagaimana orang Arab mengajak kepada nasionalisme Arab, orang Turki menyeru kepada nasionalisme Turki, dan orang Kurdi mengajak kepada nasionalisme Kurdi. Sampai saat ini Pan Afro-Americanisme Marcus Garvey masih tetap ada di hati banyak kaum muslimin.

Percampuran antara Islam dan nasionalisme tidak menghasilkan apa-apa selain konsep yang kacau dan harapan kosong bagi kaum muslimin. Hanya ikatan ideologi Islamlah -yang tidak dicampuri oleh ikatan nasionalisme yang bersifat instingtif, berbau kebinatangan dan kabur- yang akan mampu memimpin manusia ke arah kemajuan substansial, kemuliaan dan kebangkitan yang benar.

Pada akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa nasionalisme tidak akan pernah dapat memberikan arti bagi kaum muslimin. Nasionalisme tidak menjadikan kaum muslimin bersatu, juga tidak membawa mereka ke arah kemajuan, bahkan justru menjadikan kaum muslimin terpecah belah, tidak stabil dan menjadi tergantung pada negara dan organisasi asing semacam PBB. [MNews/Rgl]

Sumber: Sejarah Nasionalisme di Dunia Islam, Shabir Ahmed dan Abid Karim

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *