[News] Fanatisme kepada BTS Produk Kapitalisme Sekuler, Menganggapnya sebagai “Religion”?

MuslimahNews.com, NASIONAL — Viralnya BTS-Meal mendapat perhatian. Produk yang diluncurkan berbarengan dengan ulang tahun BTS ini mendapat respons berbagai pihak.

Dikutip dari finance.detik.com (10/6/2021), pakar pemasaran Yuswohady menyebut strategi marketing horizontal digunakan pada peluncuran produk tersebut dengan melibatkan komunitas penggemarnya ARMY.

“Jadi dalam konteks McD dan BTS ini, McD itu pintar memanfaatkan ARMY. Karena produknya ini dibikin barengan antara BTS sama McD maka itu kan menjadi tidak hanya punyanya McD kan, tapi juga punyanya BTS. Makanya ARMY ini karena punyanya BTS maka mereka langsung heboh gitu pengin punya,” urainya.

Selain itu yang menjadi istimewa McD membatasi channel penjualan, melalui drive thru, order delivery yang disediakan McD, dan layanan pesan antar lewat ojek online. Ditambah, periode penjualannya juga dibatasi.

“Artinya kalau ini dipersulit maka itu menjadi istimewa, jadi langka. Maka anak-anak itu jadi cepat-cepatan, begitu dibuka langsung pesan. Begitu pesan langsung menerima, dan begitu terima nggak langsung dimakan. Yang paling penting dipotret dulu kemudian ditaruh di IG, lalu dia pamer ke temannya,” tambahnya.

Fanatisme Lahirkan Anggapan BTS Adalah “Religion”

Senada dengan itu akademisi dan praktisi bisnis Rhenald Kasali menerangkan bahwa pangsa pasar BTS adalah remaja. Para kaum muda ini memegang peranan penting dalam konsumsi.

Baca juga:  Jangan Salah Mengelola Cinta (Pelajaran dari Fenomena "BTS Meal")

“BTS itu menggunakan teori psikologi yang sangat kuat. Jadi BTS itu buatan orang-orang marketing di Korea, hasil eksperimen. Lagu-lagunya membaca fenomena sosial yang sangat rentan dihadapi kaum muda. Jadi bukan lagi drakor masa lalu. Mereka sudah masuk kepada tema map of the soul,” jelasnya.

Fanatisme terhadap BTS yang berasal dari Korea Selatan pun tak terbangun secara instan. Semuanya sudah dimulai sejak budaya K-Pop merambah di drama Korea (drakor).

“Karena didukung dengan film-film Korea yang kuat, didukung dengan budaya Korea lewat kosmetika, operasi plastik bedah Korea. Kemudian mereka berhasil menanamkan cowok yang keren itu kayak apa, cewek yang asik kayak apa. Model rambut pirang versi mereka, pakai jaket seperti apa, itu mereka bangun dan itu kan konsumtif sebenarnya, karena itu kan gaya hidup,” tuturnya.

Penggemar BTS, lanjut dia pun ada level-levelnya. Ada yang sampai memperlakukan mereka selayaknya sebuah agama. Tak ayal begitu muncul produk berkaitan dengan BTS langsung diburu.

“Ada level yang lebih dalam yaitu kelompok yang belum matang, itu mereka kelompok yang benar-benar menjadi pejuang, jadi tentaranya yaitu army dalam arti yang sesungguhnya. Jadi mereka ini kelompok yang muncul membela BTS. Bahkan mereka itu beranggapan BTS itu menjadi seperti religion bagi mereka, agama,” cetusnya.

Baca juga:  Korean Wave, “Role Model” Budaya Liberal dari Timur

Menjadi Target Kaum Kapitalis

Konsultan dan trainer keluarga sakinah, Ustazah Dedeh Wahidah Achmad menilai fenomena ini menunjukkan tujuan hidup generasi muda muslim banyak yang sudah terbelokkan ke arah konsep yang ditanamkan kapitalisme sekuler.

“Ajaran agama sama sekali tidak dipedulikan dalam menentukan boleh tidaknya suatu perbuatan itu dilakukan. Yang dominan dalam memilihnya adalah semata meraih nilai materi dan memenuhi keinginan sesaat serta jauh dari harapan mendapat rida Allah Swt.,” ungkapnya prihatin.

Belum lagi, generasi muda ini turut menjadi target para pemilik modal untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. “Jadi sejatinya yang diuntungkan dari fenomena ini adalah para kapitalis,” tukasnya.

“Mirisnya generasi produk kapitalis sekuler jauh dari panduan agama. Hidupnya hanya diperuntukkan untuk meraih kesenangan semu berupa diperolehnya nilai materi. Kebahagiaan hanya sekadar terpenuhinya semua keinginan hawa nafsu sekalipun harus melanggar norma dan aturan agama,” sambungnya.

Padahal, jelasnya, pilihan tersebut akan dipertanggungjawabkannya di akhirat kelak. Allah mengingatkan,

“Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (TQS. al-An’am: 32).

Islam Lahirkan Generasi Pejuang Peradaban Islam

Baca juga:  Membentengi Anak dari Pandemi K-Pop

Ini sangat berbeda ketika hadir institusi Khilafah dengan penerapan syariat Islam secara kaffah yang melahirkan generasi khoiru ummah.

“Pendidikan yang dicanangkan khilafah akan menghasilkan generasi yang memahami tujuan hidupnya sebagai hamba Allah. Mereka menyadari bahwa di pundaknya ada amanah untuk melanjutkan kemuliaan peradaban Islam sebagai khairu ummah yang akan memimpin dunia,” tegasnya.

Lahirnya generasi pejuang ini bukan sekedar harapan, namun sudah dicatat dalam sejarah kegemilangan peradaban Islam. Di antara mereka yang menjadi bukti kebaikan pendidikan Islam seperti Abdullah bin Umar yang ikut antri jihad di medan Badar dan Uhud sekalipun usianya masih belia. Kemudian Muhammad Al Fatih yang menaklukkan Konstantinopel sebagaimana janji Rasulullah ﷺ .

“Ada kesenjangan yang luar biasa besar antara generasi produk kapitalisme sekuler dengan generasi tangguh yang lahir dari rahim sistem Islam. Kesenjangan ini tentu saja tidak boleh dibiarkan karena akan berujung pada kehancuran masa depan generasi muslim,” cetusnya.

Untuk itu Ustazah Dedeh menekankan harus ada perubahan segera yang dimulai dari perjuangan menghadirkan kembali Institusi Khilafah. “Melindungi dan menjaga seluruh rakyatnya agar sejahtera ketika di dunia, dan selamat dalam kehidupan di akhirat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan