Memimpikan Perdamaian Palestina


Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq


MuslimahNews.com, OPINI — Palestina bumi para nabi yang teraniaya. Mimpi perdamaian di negeri itu bagaikan pungguk Merindukan Bulan. Mau bagaimana lagi, setelah kependudukan Israel Atas Negeri Palestina para penduduk Palestina tak lagi lagi merasakan ketenangan di sepanjang hidupnya. Setiap saat mereka harus berhati-hati karena rudal Israel bisa saja datang menghampiri. Ratusan ribu nyawa pun kini telah melayang, imbas dari Agresi.

Ratusan kali kecaman lahir dari mulut pemimpin Negeri muslim titik bahkan gencatan senjata juga telah dilakukan berulang kali. Namun, tak satupun gencatan senjata yang diindahkan oleh Israel. Negara Zionis itu selalu menjadi yang terdepan dalam melanggar perjanjian. Biarpun demikian ternyata sampai saat ini masih banyak negara yang meminta perdamaian Israel dan Palestina dengan upaya gencatan senjata atau kemerdekaan 2 negara.

Seperti yang dilansir oleh viva.co.id Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi menekankan bahwa Israel dan Palestina harus berada dalam meja perundingan, agar perdamaian terwujud perdamaian di kedua negeri. Pernyataan itu disampaikan di sidang tertutup Sidang Majelis Umum ke-75 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (20/5/21). Akankah usaha tersebut membuahkan hasil?

Israel Tak Akan Berhenti Menyerang

Ajakan kembali pada meja perundingan sepertinya akan sia-sia belaka. Sebagaimana yang telah terjadi sebelumnya, ratusan kali kesepakatan dilakukan, tak satupun diindahkan oleh bangsa Israel. Sepertinya mereka memang tak mengenal bahasa perdamaian. Hal ini telah diabadikan dalan Al Qur’an,

Baca juga:  Pembebasan Masjidilaqsa

“Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina.’ [65]. Maka, Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. [66]” (QS Al-Baqarah [2]: 65—66)

Demikian pula jikalau terjadi perubahan politik di Israel dengan jatuhnya Perdana Menteri Benyamin Netanyahu sebagaimana yang dilansir oleh kompas.com (5/6/21), juga tidak akan merubah nasib Palestina. Kareem Pasimistis, seorang warga Palestina menyatakan telah banyak menyaksikan pergantian pemimpin Israel, tapi kekerasan terhadap rakyat bumi yang diberkahi terus berlanjut.

Bagi Israel, Palestina khususnya Yerusalem merupakan tempat suci yang dijanjikan. Berdasarkan keyakinan ini, mereka akan berusaha menguasai tanah ini. Hingga wilayah itu benar-benar dalam genggamannya. Allah Swt. pun telah berfirman,

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rida kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi Pelindung dan Penolong bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]: 120)

Baca juga:  Warga Gaza: Ini adalah Idul Fitri Tersulit dalam Hidup Saya

Sesat Pandang Solusi Dua Negara

Sejatinya solusi dua negara yang ditawarkan pemimpin negeri muslim adalah hasil pemikiran Barat. Penyelesaian itu lahir dari konsep Nasionalisme yang ditanamkan Barat. Barat sendiri memiliki peran dalam membantu pencaplokan wilayah Palestina. Di satu sisi ia berhasil menanamkan nasionalisme di kalangan bangsa Arab. Paham self determined rights (hak menentukan nasib sendiri) mulai merasuk dalam benak kaum muslimin. Sehingga negeri arab terpecah, mereka memberontak terhadap Khilafah.

Paham nasionalisme merupakan konsep negara modern buatan Barat. Konsep ini berhasil meluluh-lantakkan persatuan kaum muslim. Saat bangsa Arab mabuk dengan paham baru ini, Israel ditanam di Arab.

Namun demikian, konsep bernegara ala Barat ini memiliki standar ganda. Pertama, di saat konsep negara modern ini digaungkan oleh Barat, termasuk untuk Israel, ternyata negara Zionis itu justru tidak mematuhinya. Israel terus menyerang Palestina, hingga menguasai hampir seluruh wilayah tanah para Nabi. Aktivitas ini didukung oleh AS sebagai negara super power.

Kedua, AS sebelumnya telah menanamkan hak menentukan nasib sendiri. Di sisi lain negara adidaya itu mendukung nasionalisme Israel, tapi di lain sisi malah tidak berlaku bagi Palestina. Selain itu ada juga konsep negara bangsa, dan konsep teritorial yang diperjuangkan. Seolah-olah kedaulatan negara itu adalah kedaulatan teritorial. Semua konsep ini merupakan buatan Barat yang tidak sejalan dengan konsep negara dalam Islam.

Baca juga:  [News] Krisis Palestina, Momen Men-challenge Konsep Sekuler dengan Konsep Islam

Optimalisasi Peran Pembebasan Palestina

Bumi para nabi itu tak akan pernah merdeka selama Israel masih berdiri tegak di bawah perlindungan AS. Hanya negara adidaya yang dapat membebaskannya. Siapa lagi negara itu kalau bukan Adidaya Khilafah Rasyidah. Jika saat ini khilafah yang dijanjikan belum ada, maka menjadi kewajiban kaum muslimin untuk mengadakannya.

Sebelum itu sangat penting menyadarkan seluruh negeri muslim dan menyatukan mereka dalam perjuangan membebaskan Palestina. Israel bukanlah  bangsa yang paham retorika, mereka hanya mengerti dengan bahasa senjata. Jikalau di tahun 1962 tentara kawasan Timur Tengah pernah kalah melawan Israel, maka hasilnya akan berbeda jika seluruh negeri kaum muslim mengirimkan pasukannya. Bahkan negara Adidaya AS pun tak akan kuasa menghalaunya.

“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 18). Wallahu’alam. [MNews]

Tinggalkan Balasan