Sistem Ini Tidak Akan Melindungi Muslim Palestina


Penulis: Sister Fatima Musab


MuslimahNews.com, ANALISIS — Pada Kamis, “Israel” dan Palestina mengonfirmasi bahwa mereka telah menyepakati gencatan senjata dengan suara bulat. Presiden AS Joe Biden menyambut kesepakatan ini sebagai “kesempatan yang baik untuk membuat kemajuan” menuju perdamaian abadi di Timur Tengah.[1] Keesokan harinya, “Israel” menyerang muslim Palestina di Al-Aqsha.

Rangkaian peristiwa ini tentu tidak mengejutkan kita. Gencatan senjata tidak akan menghentikan penindasan yang dihadapi masyarakat Palestina, baik penindasan di masa lalu, di masa kini, atau di masa depan.

Pada tahun 2014, terdapat sembilan gencatan senjata yang disepakati dan dilanggar sebelum konflik berakhir.[2] Rangkaian serangan baru-baru ini menunjukkan bahwa gencatan senjata itu hanyalah pemberhentian sementara.

Janganlah Tertipu dengan Seruan untuk Melakukan Gencatan—Penguasa Saat Ini Mengandalkan Opini Publik yang Mendukung Mereka.

Para penguasa dalam sistem saat ini mengandalkan opini publik yang menguntungkan mereka. Kecaman terhadap “Israel” baru-baru ini belum pernah terjadi sebelumnya. Terdapat seruan dari berbagai penjuru dunia, termasuk situs media sosial yang dibanjiri dengan informasi untuk menyebarluaskan kesadaran tentang situasi di Palestina.

Mereka juga mengkritik media utama karena keliru menggambarkan situasi atau karena berita utamanya yang secara terang-terangan mengalihkan kita dari inti masalah, yakni bahwa rakyat Palestina menderita dan “Israel” dilindungi oleh negara-negara di seluruh dunia.

Seiring dengan berjalannya waktu dan saat kedua negara mulai mengumumkan gencatan senjata dan langkah yang diklaimnya sebagai solusi untuk situasi tersebut, sangatlah penting menjaga agar perhatian kita tidak melemah.

Gencatan senjata selama apa pun tidak akan mengubah situasi ini. Langkah itu tidak akan menyelesaikan masalah, tidak akan menghentikan penindasan terhadap orang-orang Palestina.

Pengeboman mungkin berhenti, tetapi kondisi mereka yang diperlakukan sebagai warga negara kelas dua dan tiga di wilayah yang diduduki Zionis tidak akan berubah.

Baca juga:  33 Resolusi PBB Saja Dicuekin Israel, Apalagi Sekadar Diplomasi Yahya Staquf

“Israel” Menduduki Tanah Palestina dan Mereka Membenci para Penduduknya

“Israel” diberi tanah Palestina pada tahun 1948 sebagai puncak dari janji-janji yang dibuat oleh Inggris (dengan dukungan negara-negara lain) kepada Zionis dalam Deklarasi Balfour.

Seiring waktu, “Israel” menggunakan kekuatan militernya untuk memperluas kendalinya, menetap di tanah Palestina, dan memperlakukan penduduk Palestina dengan sikap permusuhan yang keras. Para pemimpin “Israel” bahkan tidak berusaha menutup-nutupi permusuhan ini.

“Orang-orang Palestina itu seperti binatang, mereka bukan manusia.” (MK Ben Dahan, Mantan Wakil Menteri Pertahanan)

“Pukuli mereka, tidak hanya sekali, tapi berulang kali, pukuli mereka sampai terasa sangat sakit, sampai sakitnya tak tertahankan.” (PM Benjamin Netanyahu)

Para pemimpinnya berulang kali menegaskan bahwa “Israel” adalah Negara Yahudi, dan pemukiman Yahudi di tanah Palestina adalah “nilai tertinggi bagi negara”. Orang-orang Palestina mengalami pengusiran paksa, perampasan tanah, status yuridis yang lebih rendah, dan penahanan.

Inilah kenyataan yang dialami oleh semua orang Palestina, baik di dalam “Israel” atau di wilayah pendudukan.[3] Para pemukim “Israel” di Tepi Barat yang diduduki Zionis diizinkan untuk membawa senjata dan sering menyerang warga Palestina, bangunan, dan lahan pertanian mereka.[4]

Pengeboman Mungkin Telah Berhenti, tetapi Kondisi Kehidupan Orang-Orang Palestina Sangat Mengenaskan

Pada 2012, PBB menyatakan bahwa jika situasinya tidak membaik, Gaza bisa menjadi wilayah tidak layak huni. Sejak itu, situasinya malah memburuk, ¾ tidak membaik.[5]

Jalur Gaza telah “direduksi” menjadi isu kemanusiaan, berupa penderitaan yang parah dan ketergantungan terhadap bantuan dari luar. Selain itu, kapasitas produktivitas Gaza telah dihancurkan oleh tiga operasi militer besar dan blokade udara, laut, dan darat yang melumpuhkan.[6]

Sebuah laporan tahun 2018 mengatakan bahwa hanya ada “sedikit sumber daya untuk pengembangan dan resusitasi ekonomi produktif.” Pendapatan riil saat ini di Gaza, 30% lebih rendah dari pendapatan pada awal abad ini. Perumahan rata-rata hanya mendapat listrik dua jam sehari.[7]

Baca juga:  Rumah Dirampas Israel, Muslim Palestina Huni Gua Sarang Kalajengking

Sebuah laporan baru-baru ini oleh BBC mengungkapkan bahwa blokade yang dilakukan Israel berdampak pada “pergerakan masuk ke dan keluar dari Jalur Gaza serta kemampuan untuk melakukan perdagangan.”

Sebagian besar orang di Gaza menderita kekurangan air dan lebih dari satu juta orang di Gaza digolongkan mengalami “rawan pangan tingkat sedang sampai parah” meskipun banyak di antaranya yang menerima sejumlah bentuk bantuan makanan.

“Israel” membatasi akses ke lahan pertanian dan perikanan. Ini berakibat berkurangnya jumlah makanan yang dapat diproduksi sendiri oleh orang-orang di Gaza. Mereka bahkan tidak diizinkan untuk bertani di “zona penyangga yang dideklarasikan Israel”.

“Israel” juga memberlakukan batas penangkapan ikan yang memengaruhi jumlah makanan dan peluang kerja di Gaza, padahal “Israel” telah melarang penangkapan ikan dari Jalur Gaza secara total selama beberapa minggu terakhir.

Fasilitas kesehatan rusak atau hancur akibat serangan “Israel” selama bertahun-tahun. Di Gaza, atau disebut sebagai “penjara terbuka”, jika pasien memerlukan perawatan di rumah sakit Tepi Barat atau Yerusalem Timur, mereka harus terlebih dahulu mengajukan permohonan yang disetujui oleh Otoritas Palestina, kemudian harus mendapatkan izin keluar yang disetujui oleh pemerintah “Israel”. Pada tahun 2019 jumlah permohonan pasien untuk keluar Jalur Gaza yang disetujui hanya sebesar 65%.” [8]

Kita Tidak Boleh Melupakan Penderitaan Mereka, Kita Juga Tidak Boleh Membiarkan Perhatian Kita Teralihkan

Muslim Palestina tengah menderita, mereka sudah menderita selama beberapa dekade dan akan terus menderita sampai situasi ini terselesaikan. Namun, bagaimana kita bisa mempercayai sistem yang menciptakan masalah itu sendiri untuk memberikan solusi?!

Baca juga:  [News] Berdakwah Membangun Kesadaran Publik untuk Memahami Solusi Hakiki Palestina

“Israel” muncul karena sistem kapitalisme liberal telah memberikan tanah kepada mereka, melegitimasi otoritas mereka atas tanah tersebut, dan secara terang-terangan melindungi mereka dari menanggung akibat tindakannya itu.

Negara-negara dalam sistem ini akan terus melakukannya, bahkan saat mereka “mengutuk” perlakuan “Israel” terhadap kaum pria, wanita, dan anak-anak Palestina.

Lalu, apa yang kita harapkan dari mereka?

[Apakah] ketika sistem kapitalisme mendorong para penguasa untuk “melakukan normalisasi” hubungan dengan “Israel” di mana keuntungan perdagangan dan politik dianggap lebih penting daripada kehidupan pria, wanita, dan anak-anak oleh para pemimpin yang katanya muslim ini?

[Atau] ketika sistem kapitalisme ini meniscayakan terjadinya daftar kekejaman yang sangat panjang, baik di dalam maupun luar Palestina? Daftar kekejaman yang tidak hanya ada dalam sejarah, melainkan masih dialami oleh umat Islam di seluruh dunia hari ini, saat ini juga.

Jika kita serius membantu saudara-saudara muslim kita dan menunaikan fardu untuk melindungi tanah dan darah kaum muslimin, kita perlu mengubah sistem. Karena hanya dengan tegaknya kembali negara Khilafah, muslim Palestina akan mendapatkan perlindungan dan keadilan yang seharusnya mereka terima.

«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ»

“Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung. Maka, jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala; dan jika ia memerintahkan yang selainnya, ia harus bertanggung jawab atasnya.” (HR Muslim) [MNews]

Penerjemah: Arif Susiliyawati


Referensi:

[1] https://www.france24.com/en/live-news/20210520-israel-confirms-unconditional-gaza-ceasefire-agreed-with-hamas

[2] https://www.france24.com/en/live-news/20210520-israel-confirms-unconditional-gaza-ceasefire-agreed-with-hamas

[3] https://www.theguardian.com/commentisfree/2021/may/19/peaceful-coexistence-israel-myth-palestinian-denied-rights?CMP=Share_AndroidApp_Other

[4] https://interactive.aljazeera.com/aje/palestineremix/settlement.html

[5] https://unctad.org/news/economic-reality-occupied-palestinian-territory-bleaker-ever

[6] https://unctad.org/news/economic-reality-occupied-palestinian-territory-bleaker-ever

[7] https://unctad.org/news/economic-reality-occupied-palestinian-territory-bleaker-ever

[8] https://www.bbc.com/news/world-middle-east-20415675

Tinggalkan Balasan