Memberi Arah Militansi Remaja


Penulis: Ummu Fairuzah


MuslimahNews.com, KELUARGA — Bagi ARMY, packaging menu BTS Meal McD adalah very special. Warna ungu, logo BTS, aksara Hangul “Borahae”, sweet chili dan saus cajun, seolah bikin remaja “ngidam”.

Dosen Ilkom Unesa mata kuliah Social Media Life membuat soal analisis bagi mahasiswanya. Mengapa BTS Meal di McD diserbu dan menimbulkan kerumunan menurut perspektif teori Social Media Strategy in the Consumer Revolution by Keith Quesenberry?

Inilah ketika dunia telah terbalik. Tontonan menjadi tuntunan, dan tuntunan menjadi tontonan. Emak-emak dan lansia masuk masjid menadaburi ayat-ayat Allah, remajanya malah antre di plaza.

Potensi Militansi

Mencoba menyelami dengan saksama perilaku K-Popers, ada sisi di mana mereka terpengaruh gaya hidup hedonistik si idola. Hanya mengandalkan rasa suka, ingin menjadi sebagaimana orang lain. Demi mengikuti tren dan pola konsumtif kaum sebaya, mereka tak ragu merogoh koceknya. Membeli makanan dengan harga “selangit” yang tak sepadan dengan manfaat yang diberikan pun bakal dilakukan.

Namun, pada sisi lain, mereka boleh dibilang punya militansi yang cukup. Tidak enggan untuk berkorban demi mengikuti si idola. Beberapa waktu lalu misalnya, fan base member BTS turut terjun melakukan penggalangan dana untuk Palestina atas nama BTS ARMY Team Indonesia.

Pada Oktober tahun 2020 lalu juga, K-Popers turut menolak UU Cipta Kerja Omnibus Law dan berhasil mengguncang jagat Twitter hingga trending topic dunia dalam waktu singkat. Potensi yang luar biasa bukan?!

Ya, mereka bergerak ketika ada yang menggerakkan. Mereka berkiprah ketika ada yang memberikan arah. Mereka yakin dan bangga dengan apa yang mereka perbuat. Mereka memiliki potensi remaja sebagaimana remaja pada umumnya.

Baca juga:  Jangan Salah Mengelola Cinta (Pelajaran dari Fenomena "BTS Meal")

Maka, siapa pun yang tergolong pemuda, sebenarnya mereka memiliki sifat-sifat unggul. Pada diri mereka terkumpul kekuatan. Mereka dinamis, adaptif terhadap hal baru, masih berusia belia, masih masa pertumbuhan, ingin menjadi yang pertama, serta sifat unggul lainnya.

Sangat wajar Al Qur’an pun memberikan perhatian kepada masa remaja.

“Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.” (QS Ar-Ruum: 54)

Militansi yang Dibanggakan

Di antara para remaja, ada golongan remaja yang membuat Rasulullah saw. takjub. Mereka telah mampu memilih orientasi hidup yang jelas, bisa membedakan mana yang mengantarkan mereka pada rida Rabb-nya dan mana yang akan menjerumuskan pada murka-Nya.

Rabb-mu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shabwah (kecondongan untuk menyimpang dari kebenaran).” (HR Ahmad)

Dalam sejarah Islam, kaum muda banyak mendominasi medan peperangan menegakkan agama Allah. Ibnu Mas’ud ra. berkata, “Kami ikut berperang bersama Rasulullah, padahal saat itu kami masih muda.” (HR Ahmad)

Sedangkan Al-Syafi’i rahimahullah juga berkata, “Belajarlah sebelum kamu memimpin, apabila kamu telah memimpin, maka tidak ada jalan untuk belajar.” Artinya, masa remaja adalah masa yang tidak akan tergantikan.

Inilah profil generasi muda Islam. Mereka memiliki militansi dengan arah yang jelas, mengisi masa muda dengan kemuliaan, tidak ada kesia-siaan. Mereka ada untuk mewarnai peradaban dengan warna Islam.

Sosok yang Dirindukan

Anak-anak adalah manusia yang lahir dari rahim orang tua mereka. Karakter, sifat, dan kebiasaan mereka dibangun dan ditumbuhkan oleh kedua orang tuanya. Bagaimana seorang anak bisa “jadi”, merupakan proses panjang yang berlangsung dalam hidup mereka.

Baca juga:  Korean Wave, “Role Model” Budaya Liberal dari Timur

Maka, pada dasarnya, mengembalikan kepribadian anak menuju fitrah penciptaannya merupakan perkara yang kuncinya ada di tangan orang tua, selama keduanya hidup bersama mereka dalam makna yang hakiki. Bukan sekadar hidup bersama dalam arti fisik, tanpa kualitas dan kuantitas kedekatan hubungan anak dan orang tua.

Setiap anak meski tanpa mampu mengungkapkan dengan kata, mereka sangat mengharapkan kasih sayang dan perhatian orang tua, tidak ingin digantikan oleh pihak lain. Pun pada anak usia remaja, kebutuhan mereka untuk diakui oleh orang tua sangatlah besar.

Hilangnya harapan anak remaja untuk diakui eksistensinya oleh orang tuanya, mendorong mereka mencari sosok lain yang lebih mewakili harapan mereka. Di titik inilah, remaja merasa perlu kebebasan untuk mencari komunitas sebaya yang saling mengerti antara sesama.

Oleh karena itu, orang tua jangan sampai kehilangan masa berharga ini. Janganlah kesibukan duniawi dan tuntutan kehidupan menjauhkan orang tua dari anak remaja mereka. Agar orang tua tidak “kehilangan” anaknya untuk selamanya.

Suatu ketika, Rasulullah saw. mencium salah seorang cucunya, Hasan bin Ali. Lalu Al-Aqra’ bin Habis yang menyaksikan langsung kejadian itu berkomentar, “Aku memiliki sepuluh orang anak, tapi tak ada satu pun yang biasa kucium.” Lalu Rasulullah saw. menoleh ke arahnya dan menjawab, ”Siapa yang tak sayang, maka tak disayang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Peran Orang Tua

Mengingat luar biasanya potensi remaja dengan kekuatan militansinya yang besar, sudah semestinya para orang tua memberikan perhatian yang besar kepada mereka. Sebab, adanya remaja yang salah orientasi dalam mencurahkan segenap potensi diri, misalnya kecanduan game online, geng motor, menjadi K-Popers, shopaholic, dll., sebenarnya hanya karena mereka menerjemahkan hidup ini tanpa arahan yang benar. Intinya, mereka butuh guru yang bisa membimbing mereka.

Baca juga:  Membentengi Anak dari Pandemi K-Pop

Sekolah formal dengan kurikulum sekuler seperti hari ini, tidak akan bisa menjadi tumpuan harapan bagi proses pembentukan kepribadian islami para remaja. Orang tua harus mengambil porsi lebih besar menjadi guru bagi remaja dibanding porsi sekolah dan lingkungan. Ini tuntutan keimanan dan tuntutan zaman. Tidak ada tawar-menawar.

Bagi orang tua yang anaknya belum “terkontaminasi” lifestyle hedonisme dan permisif, jangan lupa banyak bersyukur. Implementasikan rasa syukur itu dengan menyediakan waktu yang cukup dan rancangan kegiatan positif bersama keluarga. Lingkupi remaja dengan suasana keimanan dan ketaatan di rumah. Berikan ruang bagi remaja untuk mengembangkan potensi diri yang sejalan dengan syariat Islam.

Bagi orang tua yang memiliki remaja yang terpapar lifestyle hedonisme, janganlah memvonis mereka sebagai kriminal. Usia mereka masih belia, masih cukup waktu bagi orang tua untuk membimbing mereka dengan sabar untuk menemukan jati diri mereka sebagai pemuda muslim.

Hendaknya orang tua memikirkan langkah yang sesuai untuk memberi arah pemikiran dan perasaan para remaja agar mereka mampu mengambil keputusan yang benar bagi pilihan hidup mereka.

Pastikan orang tua mampu menjadi figur teladan bagi remaja. Setidaknya, anak memahami bahwa orang tuanya juga sedang berproses menjadi sosok yang diridai Allah, Rabb yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan