[Sejarah] Nasionalisme di Saudi Arabia dan Negara Teluk

MuslimahNews.com, SEJARAH NASIONALISME — Saudi Arabia serta negara-negara di kawasan Teluk mencerminkan sebuah kasus klasik nasionalisme yang telah ditanamkan oleh Barat, khususnya Inggris. Suku-suku yang kuat di wilayah ini dimobilisasi untuk bangkit melawan Khilafah Utsmani dengan iming-iming berupa bantuan keuangan dan kemerdekaan negaranya.

Inggris pada awalnya memanfaatkan Syarif Hussain beserta anaknya Faisal dan Abdullah untuk memberontak melawan Khilafah. Revolusi ini terjadi berkat hasutan seorang agen Inggris yang terkenal yaitu TE. Lawrence [1] yang berusaha untuk mengacaukan pasukan-pasukan Negara Islam dan memutuskan komunikasi antara mereka, sementara pasukan Jenderal Allenby terus merangsek dari Mesir di tahun 1917. Namun, ketika Inggris mulai tidak menyukai Syarif Hussain, Inggris menggantinya dengan Abdu al-Aziz bin Saud yang juga didanai oleh Inggris dan usahanya untuk meraih kekuasaan.

Pada akhir tahun 1927, keluarga Saud telah berhasil menguasai sebagian besar Jazirah Arab. Pada tahun yang sama pula diratifikasi perjanjian oleh Inggris yang memberikan kekuasaan penuh kepada keluarga Saud sebagai imbalan atas pengakuannya terhadap kekuasaan Inggris atas kabilah-kabilah Teluk di Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Oman.

Pada tahun 1932, Jazirah Arab diberi nama baru yaitu kerajaan Saudi Arabia. Sejak saat itu, keluarga Saud memegang kendali pemerintahan atas wilayah tersebut, dengan membangun kekuasaannya di atas struktur kesukuan. Keseluruhan pemerintahan dijalankan oleh anggota keluarga Saud, yang saat ini jumlahnya mencapai 5.000 orang.

Baca juga:  [Sejarah] Kaum Misionaris Menebarkan Benih-Benih Nasionalisme

Adapun Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Oman, Inggris juga telah meletakkan agen-agennya sebagai penguasa sejak sebelum runtuhnya Negara Islam pada tahun 1924.

Keluarga Al-Sa’id telah menandatangani perjanjian dengan Inggris pada tahun 1891, keluarga Al-Sabah di Kuwait pada tahun 1889, keluarga Al-Tsani menyusul pada tahun 1915. Masih banyak penguasa daerah Uni Emirat Arab yang juga melakukan hal yang sama.

Pemberian kekuasaan pada keluarga-keluarga yang telah dilakukan oleh Inggris ini sebenarnya sama artinya dengan mengembalikan Jazirah Arab kepada zaman pra-Islam, ketika wilayah ini dikuasai oleh banyak suku atau kabilah.

Bentuk pemerintahan yang semacam ini tidak mampu membangkitkan umat Islam di wilayah tersebut. Justru, pembagian wilayah berdasarkan batas-batas nasionalisme telah memupuskan harapan akan tercapainya suatu kemajuan karena masing-masing penguasa terlalu sibuk untuk mempertahankan kedudukannya.

Walaupun kenyataannya negara-negara di Jazirah Arab memperoleh pendapatan negara dari minyak yang jumlahnya jauh melampaui jumlah yang diperoleh negara-negara Barat, pendapatan itu ternyata tidak mendorong kebangkitan. Uang yang telah didapatkan dari minyak sejak tahun 1940-an itu dipindahkan ke rekening bank-bank di Swiss dan pusat-pusat investasi di negara-negara Barat.

Nasionalisme tidak mampu mengangkat derajat negara-negara ini, tetapi justru menjerumuskan mereka ke dalam cengkeraman orang-orang kafir lebih dalam dari sebelumnya. [MNews/Rgl]

Baca juga:  [Sejarah Nasionalisme] Upaya Kaum Kafir Menghancurkan Ikatan Ideologis

Catatan kaki:

[1] Thomas Edward Lawrence digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam film Lawrence of Arabia. Dalam film itu dia digambarkan sebagai seorang laki-laki yang terjebak dalam konflik antara orang-orang Arab dan Turki. Padahal, Lawrence adalah seorang agen Inggris yang tugasnya mengorganisir pembangkangan bersenjata terhadap Negara Islam.

Sumber: Sejarah Nasionalisme di Dunia Islam, Shabir Ahmed dan Abid Karim

Tinggalkan Balasan