[Resensi Buku] Persatuan di Bawah Naungan Khilafah, Menyelamatkan Negeri-Negeri Muslim dari Penjajah


Peresensi: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.


MuslimahNews.com, RESENSI BUKU — Penjajahan, bagaimanapun adalah masa kelam bagi dunia Islam. Apalagi penjajahan fisik, yang meniscayakan terjadinya peperangan yang menindas dan menzalimi.

Penjajahan tentu bukan suasana yang nyaman, apalagi menyenangkan. alih-alih memberikan harapan baru bagi kehidupan, yang justru terjadi setiap penjajahan pasti berbuah krisis. Ironisnya lagi, di sejumlah negeri muslim, penjajahan fisik itu masih terjadi hingga detik ini.

Lihatlah! Wilayah negeri-negeri kaum muslim dari tahun ke tahun makin menyusut. Betapa musuh-musuh Islam telah menerkam dan mencabik-cabik tubuh kaum muslimin beserta negeri-negeri mereka.

Mereka telah menjadi tumbal bagi konsep licik negara bangsa hasil karya negara-negara penjajah. Padahal, tentu saja, tiada satu kaum pun di muka bumi yang rela dijajah.

Buku ini memang tidak tebal. Namun, buku ini sangat cukup menuntun kita untuk menyadari sepenuhnya bahwa sangat urgen memahami permasalahan yang dialami tujuh negeri kaum muslim yang terjajah. Negeri-negeri tersebut adalah Palestina, Kashmir, Chechnya, Afganistan, Siprus, Sudan Selatan, dan Irak.

Ketujuh negeri tersebut hanyalah sampel pembahasan. Karena realitasnya, penjajahan memang terjadi di hampir seluruh dunia Islam, baik secara fisik maupun pemikiran. Jadi, wahai kaum muslimin, jangan kemudian melupakan Rohingya dan mengabaikan Uighur!

Saksikanlah! Krisis multidimensi tak terhindarkan di negeri-negeri muslim itu. Krisis yang tak selesai bahkan hingga beberapa generasi manusia.

Sungguh, negara bangsa tidak lain adalah biang kerok berpecah belahnya dunia Islam. Karena krisis tersebut menimpa saudara-saudara kita seakidah, semestinya juga disadari bahwa negara bangsa adalah solusi yang layak diabaikan.

Terlebih dengan adanya tiga faktor di bawah ini:

  1. Pengkhianatan para penguasa negeri-negeri kaum muslim dan loyalitas yang mereka tunjukkan kepada negara-negara imperialis kafir untuk tetap menjaga kepentingan-kepentingannya.
  2. Tidak adanya sikap serius dari umat Islam untuk melakukan koreksi terhadap para penguasanya; tidak ada upaya yang sungguh-sungguh untuk mengingkari dan mengubah mereka.
  3. Adanya makar/skenario jahat yang berasal dari musuh-musuh Islam yang dirancang selama berabad-abad untuk menghancurkan Islam dan kaum muslim.

Tak pelak, dunia Islam kian terpuruk. Berpecah belahnya dunia Islam adalah kehinaan hakiki. Kondisi ini sangat jauh dari kemuliaan—yang dijanjikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an Al-Karim, bahwa kaum muslimin adalah khairu ummah (umat terbaik).

Inilah sebabnya, kaum muslimin harus senantiasa memperhatikan bahwa masalah terbesar dunia Islam adalah akibat ketiadaan Khilafah. Karena Khilafah adalah institusi politik pemersatu umat Islam, Khilafah adalah junnah (perisai).

Teruskan seruan itu! Kaum muslim di seluruh dunia membutuhkan teriakan keras yang memekakkan telinga, untuk menyadarkan mereka tentang masalah terbesar dalam kehidupan mereka, bahwa penjajahan negeri-negeri muslim oleh negara-negara Barat pengemban ideologi kapitalisme, serta ketiadaan Khilafah, adalah malapetaka yang bertubi-tubi sepanjang abad ini.

Serukan terus! Jangan berhenti berdakwah! Kesadaran dunia Islam akan problematik terbesar mereka dan kebutuhan mereka terhadap Khilafah harus menjadi gayung bersambut bagi menguatnya opini tentang Islam dan Khilafah di berbagai lini umat.

Ini semua semata-mata demi visi masa depan kaum muslimin, agar mereka selalu berjuang dan berusaha keras melenyapkan peradaban Barat yang buruk dan gelap, beserta kebudayaannya yang rusak. Hingga peradaban itu diganti dengan peradaban Islam di bawah naungan Khilafah, yang bersinar terang benderang berkilauan, sehingga kegelapan akan sirna seutuhnya. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan