Jangan Salah Mengelola Cinta (Pelajaran dari Fenomena “BTS Meal”)


Penulis: Dedeh Wahidah Achmad


MuslimahNews.com, FOKUS — Pada Rabu (9/6/2021), gerai makanan cepat saji McDonald’s meluncurkan BTS Meal. Akibatnya, gerai McD diserbu oleh para ojek online dan para penggemar grup K-Pop, BTS. (Republika.co.id)

BTS Meal sebenarnya hanya paket makanan yang sudah biasa dijual gerai ini. Yang membedakan adalah tambahan kemasan makanan berwarna ungu dan dilabeli grup K-Pop yang sedang digandrungi di berbagai belahan bumi, termasuk di negeri ini.

Yang mengherankan, ada sejumlah orang yang menjual kembali produk tersebut dengan harga yang relatif mahal. Hal itu terungkap dari unggahan akun @dramaojol.id.

Seperti yang diberitakan liputan6.com, dalam unggahan itu tampak ada empat item yang dijual, seperti kertas pembungkus warna cokelat, tempat minuman, boks nugget, dan dua tempat saus (saus tomat dan saus sambal).

Harga untuk empat item itu cukup mahal, yakni mencapai Rp150 ribu dengan embel-embel bebas ongkos kirim. Bahkan, ada juga yang menjualnya hingga seharga Rp599 ribu.

Ada apa dengan mereka para penggemar grup K-Pop, khususnya generasi muda muslim di negeri ini? Apakah mereka sudah kebanyakan uang, sehingga tidak lagi mempertimbangkan harga sebuah produk? Atau mereka salah dalam mengelola rasa suka dan cinta, sehingga mengidolakan secara membabi buta?

Kapitalisme Sekularisme Merusak Konsep Hidup Generasi Muslim

Allah Swt. telah menetapkan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya (QS 51:56). Setiap aktivitas manusia di dunia ini semestinya dilakukan dalam rangka meraih rida-Nya. Karenanya, tidak boleh lepas dari dua syarat, yakni harus diniatkan karena Allah Swt. dan dilakukan sesuai dengan syariat-Nya.

Terkait fenomena BTS Meal, tampak bahwa tujuan hidup generasi muda muslim banyak yang sudah terbelokkan ke arah konsep yang ditanamkan paham sekuler kapitalisme. Ajaran agama sama sekali tidak dipedulikan dalam menentukan boleh tidaknya suatu perbuatan dilakukan. Yang dominan dalam memilihnya adalah semata meraih nilai materi dan memenuhi keinginan sesaat, serta jauh dari harapan mendapat rida Allah Swt..

Generasi muda juga menjadi target para pemilik modal untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Antusiasme dan pengidolaan luar biasa dari para penggemar BTS segera dimanfaatkan dengan meluncurkan berbagai produk yang dikaitkan grup K-Pop tersebut.

Mereka dengan jeli menggunakan kondisi ini tanpa mempertimbangkan dampak negatif yang akan datang, seperti paparan virus Covid-19 akibat kerumunan misalnya. Jadi, sejatinya yang diuntungkan dari fenomena ini adalah para kapitalis.

Salah dalam Memberikan Cinta dan Keliru Memilih Idola

Psikolog Binus Unversity, Muhamad Nanang Suprayogi, Ph.D. mengatakan, fenomena viralnya BTS meal ini terjadi akibat seseorang tengah mengidolakan orang lain yang dipengaruhi oleh media sosial (medsos).

Baca juga:  Memberi Arah Militansi Remaja

“Kalau dalam istilahnya disebut konformitas, ikut-ikutan. Ingin sama dengan yang lain. Misalnya, dia dapat, aku juga harus dapat. Jadi, ada pengakuan aku penggemarnya kalau aku bisa mendapatkan suatu barang,” kata Nanang sebagaimana dilansir dari Republika.co.id, Rabu (9/6/2021).

Dalam kehidupan sekarang—yang didominasi sekularisme kapitalisme—, generasi muda kita tidak memiliki panduan yang benar dalam memilih idola. Siapa pun bisa diikuti, sekalipun berperilaku salah dan bertentangan dengan ajaran agamanya, bahkan ada dari kalangan yang tidak meyakini agama. Mereka tidak peduli, yang penting dia suka.

Islam Mengelola Rasa Suka dan Cinta

Rasa suka dan cinta memang bukan urusan logika. Kadang hadir di saat yang tidak terduga, tidak jarang muncul pada orang biasa, namun juga mungkin timbul pada orang yang istimewa. Sungguh, adanya cinta itu tidak bisa diformulakan dengan sebuah teori dan kata-kata.

Namun, bagi seorang muslim, cinta bukan sekadar masalah rasa, tetapi bisa berujung pada surga atau neraka. Mengapa demikian? Karena cinta akan mendorong seseorang melakukan perbuatan sebagai wujud dari cintanya.

Sebagaimana ditunjukkan oleh para Army (sebutan bagi fans BTS, ed.) yang rela mengeluarkan uang hanya untuk membeli produk berlabel pujaannya. Atau oleh para penggemar artis lainnya yang rela antre berjam-jam untuk mendapatkan selembar tiket konser.

Demi idolanya, tidak sedikit yang berani melakukan pelanggaran hukum syariat, seperti meninggalkan salat, campur baur laki-laki dan perempuan, bahkan ada yang menyertainya dengan aktivitas mabuk-mabukan dan seks bebas.

Terkait perkara cinta ini, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa di akhirat kelak seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang dicintainya.

Dari ‘Aisyah ra., Nabi ﷺ bersabda,

لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة

Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari Kiamat nanti.” (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 11/164, Asy Syamilah).

Apa yang akan terjadi pada orang-orang yang mencintai artis yang jelas-jelas tidak beragama Islam atau para pelaku maksiat? Jika berpegang pada hadis di atas, mereka akan memiliki tempat yang sama dengan orang yang dicintainya. Sudah jelas orang kafir dan pelaku maksiat tempat kembalinya adalah neraka jahanam.

Dalam beberapa ayat Al-Qur’an, Allah Swt. menyebutkan bahwa mereka itu jadi bahan bakar neraka (QS Al-Baqarah: 24; Ali Imran: 10). Artinya, pengikutnya pun akan bersama mereka dan bernasib sama, yakni mendapat azab Allah Swt..

Baca juga:  [News] Fanatisme kepada BTS Produk Kapitalisme Sekuler, Menganggapnya sebagai “Religion”?

Karenanya, seorang muslim tidak akan menambatkan cinta dan kasih sayangnya kepada orang yang salah. Tidak mungkin mencintai orang yang akan menjerumuskannya pada pelanggaran aturan-aturan Islam dan yang akan mendatangkan penyesalan dan penderitaan di akhirat kelak.

Allah Swt. menjelaskan hal demikian dalam firman-Nya,

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.(QS Al-Mujadilah: 22)

Sebaliknya, cinta dan kasih sayang itu akan diberikan pada orang yang benar sesuai dengan contoh Rasulullah ﷺ, yang digambarkan Allah Swt. dalam firman-Nya,

Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia (para Sahabat) adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi penyayang di antara sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil. …(QS Al-Fath: 29)

Adapun dorongan untuk mengikuti para Sahabat Nabi ﷺ, disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud ra.,

“Barang siapa di antara kamu yang ingin mengambil teladan, maka hendaknya dia berteladan dengan para Sahabat Rasulullah ﷺ, karena mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di umat ini, paling dalam pemahaman (agamanya), paling jauh dari sikap berlebih-lebihan, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat nabi-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak-jejak mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus.”

Gambaran indah inilah yang akan ditampakkan oleh seorang muslim yang menjadikan Rasulullah ﷺ dan para Sahabat sebagai idola dan teladan dalam hidupnya. Keseharian mereka akan dipenuhi dengan berbagai amalan saleh yang akan mengantarkan pada rida-Nya. Juga terbiasa menjaga diri dari perbuatan sia-sia yang bisa menjerumuskan pada kemaksiatan (Lihat QS 23: 3).

Penentuan yang benar dalam memilih idola akan berbuah balasan yang luar biasa. Demikianlah yang Allah janjikan dalam firman-Nya,

Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan (dikumpulkan) bersama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.(QS An-Nisaa’: 69)

Baca juga:  K-Pop dan Drakor, Inspirasi Fatamorgana

Berbeda sekali dengan generasi produk kapitalisme sekuler yang jauh dari panduan agama. Hidupnya hanya diperuntukkan untuk meraih kesenangan semu berupa diperolehnya nilai materi.

Kebahagiaan hanya sekadar terpenuhinya semua keinginan hawa nafsu sekalipun harus melanggar norma dan aturan agama. Padahal, pilihan tersebut akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Allah Swt. mengingatkan kita dengan firman-Nya,

“Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’am: 32)

Imam al-Alusi rahimahullah mengatakan, “Maksudnya adalah semua perbuatan yang dikhususkan hanya untuk kehidupan dunia ini seperti main-main dan senda gurau, yaitu tidak bermanfaat dan tidak tetap (kekal).” (Tafsir Ruhul Ma’ani 5/293).

Sistem Islam Melahirkan Generasi Pejuang

Berbeda dengan kapitalisme sekularisme, ketika institusi Khilafah hadir dengan penerapan syariat Islam secara kafah, akan lahir generasi khairu ummah.

Pendidikan yang dicanangkan Khilafah akan menghasilkan generasi yang memahami tujuan hidupnya sebagai hamba Allah. Mereka menyadari bahwa di pundaknya ada amanah untuk melanjutkan kemuliaan peradaban Islam sebagai khairu ummah yang akan memimpin dunia (Lihat QS Ali Imran: 110).

Lahirnya generasi pejuang ini bukan sekadar harapan, tetapi sudah tercatat dalam sejarah kegemilangan peradaban Islam. Di antara mereka yang menjadi bukti kebaikan pendidikan Islam seperti Abdullah bin Umar, yang mana beliau ikut antre untuk ikut jihad di Medan Badar dan Uhud, sekalipun usianya masih belia.

Ada pula Muhammad al-Fatih yang memiliki keyakinan kuat atas bisyarah Rasulullah ﷺ bahwa kemenangan akan diberikan Allah pada pemimpin dan pasukan Islam terbaik.

Keyakinan kuat disertai dengan upaya sungguh-sungguh untuk merealisasikannya telah mengantarkan beliau pada kemenangan menaklukkan Konstantinopel yang dijanjikan Rasulullah ﷺ.

Ada kesenjangan yang luar biasa besar antara generasi produk sekuler kapitalisme dan generasi tangguh yang lahir dari rahim sistem Islam. Kesenjangan ini tentu saja tidak boleh dibiarkan karena akan berujung pada kehancuran masa depan generasi muslim.

Harus segera ada perubahan yang dimulai dari perjuangan menghadirkan kembali institusi Khilafah yang akan melindungi dan menjaga seluruh rakyatnya agar sejahtera ketika di dunia dan selamat di kehidupan akhirat. Wallaahu a’lam. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan