An-Nawar Binti Malik, Muslimah di Balik Sang Pencatat Wahyu


Penulis: Ruruh Anjar


MuslimahNewa.com, KISAH INSPIRATIF — Intuisi seorang muslimah yang berperan sebagai ibu telah melahirkan cendekiawan muslim kepercayaan Rasulullah dan para sahabat. Mendorong dan memotivasi agar buah hatinya tak pernah lepas dari gelora jihad di jalan Allah.

An-Nawar binti Malik, berasal dari kalangan Anshar dari Bani Najjar. Sejak fajar Islam terbit, ia dan suaminya tak ragu untuk berjalan dan menapaki jalan keimanan. Mereka berdua mendidik anaknya, Zaid bin Tsabit, dengan fondasi Islam yang teguh.

Namun, sebelum peristiwa hijrah Rasulullah ke Madinah, suaminya gugur dalam Perang Bu’ats yang melibatkan suku Aus dan Khazraj.

Kala itu Zaid berusia 5 tahun sehingga menuntut An-Nawar menempa Zaid seorang diri menjadi muslim yang baik dan meraih kesuksesan dunia akhirat.

Menjadi Madrasah Utama bagi Zaid

Berbekal kecerdasan dan kecintaan kepada Islam, An-Nawar menancapkan tsaqafah Islam di dalam dada Zaid. Ia mampu menempatkan dirinya sebagai madrasah utama dan mengalirkan ilmunya ke dalam diri Zaid.

Barakallah, Zaid tumbuh menjadi sosok yang matang dan berkualitas. Cerdas dan jenius.

Pada usianya yang ke-11 tahun, ia pun berhasil menghafal belasan surah Al-Qur’an. Selain itu An-Nawar juga memoles mental Zaid untuk menjadi pejuang.

Baca juga:  Mendidik Calon Ummun wa Rabbatul Bait

Ketika berusia 13 tahun, Zaid bersemangat mendaftarkan diri untuk mengikuti Perang Badar. Alhasil, kehadirannya mengundang perhatian karena tubuhnya yang mungil tidak sepadan dengan pedang ayahnya yang melebihi postur tubuhnya.

Keinginan Zaid tersebut direspons positif oleh Rasulullah, namun Rasulullah tidak mengizinkannya ikut karena aturan perang melarang anak-anak ikut serta.

Dengan bijak, Rasulullah menjelaskan bahwa berperang tidak hanya bermodalkan semangat, tetapi kesiapan fisik dan usia pula. Untuk itu Zaid diminta bersabar beberapa tahun lagi hingga dinyatakan siap berjihad di medan tempur.

Zaid sungguh kecewa dan menangis. Lalu ia mengadukan hal tersebut kepada ibunya. “Rasulullah melarangku berjihad,” rajuknya.

An-Nawar paham dengan gelora semangat jihad di dalam diri anaknya, namun di sisi lain ia pun mengerti dengan kebijakan Rasulullah. Dengan arif, An-Nawar memberikan alternatif jalan perjuangan yang dapat dilakukan Zaid sesuai usianya.

“Jangan bersedih anakku. Jika jihad di medan perang belum boleh dilakukan anak-anak seusiamu, cobalah berjihad dengan jalan lain yakni melalui lisan atau tulisan,” urainya.

Membuka Jalan Zaid Berperan Besar bagi Daulah Islam

An-Nawar tidak sembarang memberi saran kepada anaknya. Ia mengenali potensi besar yang dimiliki Zaid terutama di bidang retorika dan tulis-menulis.

Baca juga:  Khilafah Mencetak Ibu Tangguh

An-Nawar pun berusaha meyakinkan Zaid, “Engkau menguasai dan menghafal Al-Qur’an dengan sempurna, bahkan bisa menuliskannya kembali dengan baik,” tegasnya. Perkataan An-Nawar melegakan hati Zaid dan ia berhenti menangis. Zaid setuju dengan saran ibunya.

Selanjutnya An-Nawar mengajak Zaid menghadap Rasulullah dan menyampaikan kemampuan yang dimiliki Zaid. Rasulullah dengan senang hati mengizinkan Zaid menunjukkan kebolehannya.

Zaid pun melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan sangat merdu hingga Rasulullah terkesima. Sebagai penghargaan, Rasulullah menugaskan Zaid untuk jihad pertamanya yakni mengkaji Kitab Taurat milik orang Yahudi.

“Wahai Zaid, pelajarilah kitab Yahudi untukku karena aku tidak bisa membuat mereka beriman kepada apa yang aku katakan kepada mereka.”

Upaya An-Nawar yang mengajarkan Zaid untuk bekerja keras, membuatnya mudah memahami kitab Taurat. Bahkan melebihi ekspektasi karena Zaid juga mempelajari bahasa kitab tersebut yaitu bahasa Ibrani dan menguasainya. Ia cakap berkomunikasi, membaca, dan menulis dalam bahasa Ibrani sebagaimana penutur aslinya.

Akhirnya, Rasulullah mengangkat Zaid sebagai penerjemah bagi Daulah Islam, penulis wahyu, penulis surah, dan peserta perundingan antara kabilah atau negara asing dengan Daulah Islam.

Setelah Rasulullah wafat pun, Zaid berperan penting di dalam dakwah Islam di masa Kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Salah satunya adalah pengodifikasian Al-Qur’an. Selain itu, Zaid dikenal pula sebagai pakar hadis.  Terdapat sekitar 92 hadis yang ia riwayatkan.

Baca juga:  Mengembalikan Peran Strategis Ibu

Benarlah bahwa peran muslimah sebagai seorang ibu sangat penting bagi anak-anaknya. Menjadi ummu warabbatul ba’it dan madrasatul ‘ula yang harus mengenali dan mengidentifikasi potensi yang hadir di setiap anak.

Karena pada dasarnya, setiap anak itu unik dan memiliki potensi masing-masing sehingga seyogianya digali dan dikembangkan.

Seorang ibu juga sejatinya adalah penjaga peradaban Islam, darinyalah akan tercetak generasi rabbani, generasi khairu ummah yang akan menyebarkan cahaya Islam di setiap pintu penghuni dunia ini. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Juan]

*Disarikan dari berbagasi sumber

Tinggalkan Balasan