[Sejarah] Nasionalisme Sejak Diruntuhkannya Negara Khilafah Tahun 1924

MuslimahNews.com, SEJARAH NASIONALISME — Berakhirnya pemerintahan Islam pada tahun 1924 telah memunculkan banyak negara muslim buatan yang menggunakan asas nasionalisme sebagai dasar pendiriannya. Namun sayang, negara-negara ini justru jauh dari “kemerdekaan” yang diidam-idamkan oleh para pendirinya yang membangkang terhadap Khilafah Utsmaniyah.

Memang benar, janji-janji kemerdekaan dari Barat itu hanyalah satu kebohongan besar yang kenyataannya merupakan perangkap busuk dan jahat yang menjerat kaum muslimin ke dalamnya. Tujuan Barat yang sebenarnya adalah untuk menjajah kaum muslim, baik secara budaya maupun mental.

Namun, ketika Negara Islam menghadang cengkeraman kuku-kuku mereka, para penjajah Barat ini tidak dapat meraih apa-apa kecuali invasi fisik ke dalam negeri-negeri kaum muslimin. Hal ini tercantum dalam pasal 22 Liga Bangsa-Bangsa (LBB) setelah Perang Dunia Pertama.

“Masyarakat-masyarakat tertentu yang sebelumnya merupakan bagian dari kekuasaan Turki telah mencapai satu tahapan perkembangan, di mana keberadaannya sebagai negara merdeka, untuk sementara waktu dapat dianggap sebagai subjek dari pemberian saran-saran administratif, serta pendampingan dari negara-negara pelindungnya, sampai suatu masa jika masyarakat tersebut sudah dianggap mampu berdiri sendiri.”[1]

Tentunya “saran-saran administratif” ini wajib diambil dan dilaksanakan oleh negara-negara yang baru terbentuk itu, yang bagi Inggris dan Prancis artinya tidak jauh beda dengan penjajahan.

Inggris mengambil Irak, Palestina, dan Transjordan. Sementara Prancis mengontrol Suriah dan Lebanon. Apa yang tersisa dari “Negara Arab Merdeka” yang dipimpin oleh Syarif Hussain yang juga dikenal dengan sebutan kerajaan Hijaz, akhirnya pada tahun 1925 diserap ke dalam wilayah yang sekarang ini kita sebut sebagai Saudi Arabia.

Baca juga:  Sejarah Keruntuhan Khilafah

Karena itulah, saat ini kita melihat keadaan kaum muslimin yang tetap saja tertinggal dari negara-negara lain di dunia, sekalipun telah terjadi pembentukan negara-negara nasionalis di tengah dunia Islam.

Walaupun negeri-negeri kaum muslimin sudah tidak menjadi koloni negara-negara Barat (secara fisik, ed.), namun stagnasi dan ketertinggalan umat sudah sedemikian parah, sampai-sampai negeri-negeri muslim itu secara nyata menjadi budak-budak penjajah Barat di bidang ekonomi.

Berbagai macam usaha telah dilakukan sejak saat itu untuk membangkitkan umat, tetapi belum satu pun yang berhasil. Nasionalisme tidak memberikan hasil sedikit pun kecuali serangkaian kegagalan di dunia Islam.

Berikut ini adalah contoh-contoh usaha yang telah dilakukan oleh kaum muslimin di dunia Islam untuk membangkitkan kaum muslimin melalui nasionalisme.

Mesir

Gamal Abdul Nasir (Arab: جمال عبد الناص) adalah salah satu contoh klasik penggerak yang gagal. Nasir mulai berkuasa pada tahun 1954 dan mulai menyebarkan pandangannya tentang Mesir.

Dalam bukunya The Philosophy of Revolution, dia menggariskan tiga peran utama Mesir sebagai pemimpin negara Arab, negeri-negeri muslim, dan negara-negara Afrika kulit hitam dalam meraih kemerdekaannya.

Harapan Nasir untuk menyatukan bangsa Arab lebih banyak berpijak pada nasionalisme Arab. Dia membayangkan bahwa bangsa Arab dapat bersatu hanya dengan adanya kesamaan bahasa, cara berpakaian, dan kesamaan sejarah.

Baca juga:  Rajab, Antara Isra Mikraj dan Keruntuhan Khilafah

Nasir memang mampu menumbuhkan semangat nasionalisme Arab sampai pada taraf yang belum pernah terjadi sebelumnya. Nasionalisasi Terusan Suez pada tahun 1956 dan penggabungan antara Mesir dan Suriah pada tahun 1958 untuk membentuk Republik Arab Bersatu (United Arab Republic), menyatukan dua negara yang paling strategis di kawasan Timur Tengah, semakin melejitkan propaganda semangat “Arabisme”.

Akan tetapi seruan kepada Arabisme ini ternyata juga dibarengi dengan penerapan kebijakan ekonomi sosialis yang makin melumpuhkan negara. Selain itu, seperti disadari oleh umat Islam di kemudian hari, ternyata Nasir tidak lebih dari seorang pion di tengah pertarungan antara Inggris dan Amerika di Timur Tengah. Sekalipun di depan umum Nasir tampak didukung oleh Uni Soviet, tetapi sebenarnya dia agen Amerika.[2]

Pecahnya Republik Arab Bersatu pada tahun 1961 dan kemenangan Israel pada perang 1967, ketika Israel berhasil merampas Gunung Sinai dari tangan Mesir, Dataran Tinggi Golan dari Suriah, dan Tepi Barat dari Yordania, telah mengakhiri Arabisme Nasir.

Eksperimen nasionalistis yang hebat itu pun gagal dan sampai saat ini dunia Arab masih terpisah-pisah dalam banyak negara.

Turki

Turki sebagai pusat pemerintahan Khilafah Utsmaniyah, adalah salah satu negara yang sangat terpengaruh oleh nasionalisme. Pandangan Mustafa Kemal Pasha untuk membentuk sebuah negara berdasarkan nasionalisme memang benar-benar terwujud, tetapi gagal membuat kemajuan yang berarti, baik kebijakan-kebijakan nasionalistis Partai Rakyat Republik (Republican People’s Party) Mustafa Kemal di masa lalu, kebijakan-kebijakan Partai Ibu Pertiwi (Motherland Party) yang sekuler, maupun Partai Masyarakat Demokratis Sosialis (The Socialist Democratic Populist Party) di masa kini; belum dan tidak akan pernah dapat mengembalikan Turki kepada masa kejayaan yang lalu.

Baca juga:  Pseudo-Ideologi Pancasila dalam Pusaran Liberalisme dan Komunisme

Sebaliknya, Turki justru perlahan terperosok ke dalam perselisihan sipil seiring dengan lahirnya nasionalisme Kurdi.

Upaya Mustafa Kemal untuk membangkitkan Turki berdasarkan pada nasionalisme Turki telah melemparkan Turki ke dalam situasi yang memilukan. Wilayah yang dulu dipandang sebagai pusat peradaban dan pemimpin negara-negara dunia, yaitu Negara Islam, sekarang telah berubah menjadi negara yang sakit dan tidak memiliki kekuatan apa pun serta tidak dianggap oleh siapa pun. Tidak diterima oleh negara-negara Eropa, tidak pula oleh negara Timur Tengah.

Nasionalisme tidak memberikan apa pun kepada Turki selain kehinaan. Sekalipun demikian, sungguh mengherankan pemerintah Turki sampai saat ini masih tetap berusaha untuk mempertahankan nasionalisme Turki. [MNews/Rgl]


Catatan kaki:

[1] The Islamic State, Taqiuddin an-Nabhani, hal 10, Al-Khilafah Publication.

[2] Miles Copeland, dalam bukunya, The Game Player menyebutkan bahwa keterlibatan Nasir bersama dengan CIA telah dimulai sebelum terjadinya kudeta yang melempar Raja Farouk dari kekuasaannya pada bulan Juli 1952. Selanjutnya CIA membantu membentuk mukhabarat (Dinas Intelijen), CIA juga mendorong untuk reorganisasi Kementerian Dalam Negeri serta memberikan perlindungan terhadap Nasir dari usaha-usaha pembunuhan.


Sumber: Sejarah Nasionalisme di Dunia Islam, Shabir Ahmed dan Abid Karim.

Tinggalkan Balasan