[Nafsiyah] Berkecukupan atau Bersabar, Mana yang Lebih Baik?

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Setiap insan tentu berharap hidup dalam berkecukupan. Ketika Allah memenuhi segala kebutuhannya, memudahkan segala urusannya, dan bisa bersedekah untuk meringankan beban hidup saudaranya, tentu hal ini merupakan harapan yang ideal untuk didapatkan.

Namun, manakah yang lebih baik di hadapan Allah? Berkecukupan (hartawan) yang bersyukur atau duafa yang bersabar?

Ternyata, keduanya ialah baik dan berpahala dalam timbangan Allah Swt… Sebagaimana firman Allah Swt., “ …Dan, Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik…” (QS Al-Hadid: 10)

Kebaikan para duafa yang sabar atau fakir yang tegar, memiliki tempat tersendiri dalam masyarakat muslim. Rasulullah saw. juga telah menegaskan dalam beberapa hadis tentang kemuliaan kaum duafa yang sabar.

Antara lain hadis dari Anas bin Malik ra., Rasul berdoa,

“Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama dengan orang-orang yang miskin pada Hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi)

Dalam hadis Rasul yang lain,

“Maukah kuberi tahu kepada kalian siapakah ahli surga? Mereka adalah setiap orang yang lemah dan dianggap lemah oleh para manusia, tetapi jika bersumpah atas nama Allah, Allah pasti mengabulkan apa yang disumpahkan. Maukah kuberi tahu pada kalian siapakah ahli neraka? Mereka adalah setiap orang yang keras, kikir, gemar mengumpulkan harta, dan sombong.” (HR Bukhari)

Baca juga:  [Nafsiyah] Rezeki dari Allah, Yakinkah Kita?

Namun, manakah yang lebih prioritas antara hartawan yang bersyukur atau duafa yang bersabar? Memiliki kemampuan finansial dan bersyukur itu lebih prioritas daripada menjadi duafa (terbatas secara finansial) dan bersabar. Sebab, memiliki kemampuan finansial bisa lebih banyak memberi kepada pihak lain.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra., dia berkata,

“Aku pernah mendengar Rasul Saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan rajin beribadah secara diam-diam.'” (HR Muslim)

Dalam hadis yang lain, dari Abdullah bin Mas’ud ra., Nabi saw. biasa berdoa,

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta hidayah, ketakwaan, iffah, dan kecukupan dalam finansial kepada Engkau.” (HR Muslim)

Masyaallah, kita akhirnya dapat memprioritaskan untuk berusaha hidup dalam berkecukupan dan bersyukur, karena kita memahami bahwa sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang saleh.

Harta di tangan hamba yang saleh akan berkah lewat sedekah, infak, dan dibelanjakan pada jalan kebaikan karena mengharap rida Allah subhanahu wa ta’ala.

Kita mengharapkan makin bertambah harta, makin bertambah pula ketaatan kepada Allah Swt., bukan sebaliknya. Motivasi untuk mendapatkan harta harus benar sejak awal agar harta menjadi alat untuk beribadah kepada Allah Swt.. Cara mendapatkannya juga harus halal agar bisa bersyukur kepada Allah SWT.

Baca juga:  [Nafsiyah] Rezeki dari Allah, Yakinkah Kita?

Maka, dalam Islam, menjadi orang yang berkecukupan dan bersyukur menempati prioritas pertama. Sebagai muslim, kita akan terus senantiasa menghadirkan azam dan niat yang ikhlas untuk mendapatkan harta yang halal, berkah, dan bermanfaat.

Setiap nikmat harta yang didapatkan tidak melalaikan, melainkan menambah rasa syukur dan ketaatan kepada Allah Swt..

Semoga kita semua dimampukan Allah Swt. untuk menjadi hambanya yang berkecukupan dan bersyukur untuk menolong agama-Nya. Aamiin. [MNews/Rnd]

Tinggalkan Balasan