[Sejarah Nasionalisme] Pengaruh Gerakan Misionaris

MuslimahNews.com, SEJARAH NASIONALISME — Gerakan misionaris telah memberikan pengaruh yang sangat merusak di dalam dunia Islam. Apa yang tidak dapat dicapai kaum kafir dalam bilangan ribuan tahun dengan menggunakan kekuatan bersenjata telah dapat diraih oleh kaum misionaris hanya dalam waktu satu abad.

Pertumbuhan aktivitas para misionaris dan penyusupan mereka yang sangat aktif dalam sistem pendidikan dihasilkan dari upaya reformasi yang dilakukan oleh Negara Islam pada abad ke-19. Pendirian sekolah, perguruan tinggi, dan universitas memberi kesempatan bagi kaum misionaris untuk menyusupkan budaya dan pemikiran kufur ke dalam budaya dalam pemikiran Islam. Konsep jihad ofensif diserang, prinsip-prinsip berat tentang kesamaan hak di mata hukum didengung-dengungkan, dan keraguan tentang kesesuaian syariat pada era teknologi dimunculkan. Toleransi agama diajarkan, sekalipun penganut agama-agama ini melanggar batas-batas syara’. Sejarah diajarkan berdasarkan sudut pandang tertentu untuk menyuntikkan rasa kebanggaan diri pada masing-masing kelompok muslim, dan yang terakhir namun tidak kurang rusaknya adalah negara bangsa atau nasional yang diperkenalkan sebagai satu-satunya cara untuk menuju kebangkitan dan kemajuan bagi orang-orang Islam.

Kalangan misionaris telah berhasil menanamkan pengaruh yang mendalam dalam jiwa kaum muslimin. Mereka berhasil menampilkan rasa dendam warga negara terhadap negara Islam atas nama kebebasan beragama yang mampu memulai berbagai macam kegiatan yang terkait dengan keimanan di kalangan orang Islam, Kristen, dan Druze.

Kesalahan Negara Islam di sini adalah sedari awal sudah mengizinkan misionaris untuk bergerak leluasa, serta ketidakmampuannya untuk membalas serangan yang dilancarkan terhadap Islam di kemudian hari. Ini menyebabkan orang-orang seperti Mustafa Kemal [1] dan Rifa’ah Badawi Rafi’ al-Tahtawi [2] tertarik pada pemikiran-pemikiran Barat, yang menjadikan mereka, baik disadari maupun tidak, sebagai antek-antek Barat. Orang-orang seperti inilah yang menjadi sasaran kaum misionaris, dan tentang kebijakan ini tidak perlu ditutup-tutupi lagi, dalam sebuah artikel yang berjudul Nationalism in Islamic Lands Charles R. Watson menyatakan,

“Memang benar tujuan utama kijta adalah untuk menarik individu-individu, namun individu-individu itu hanya dapat diraih dengan memantapkan satu titik orang yang menjadi kontak penghubung terhadap mereka dan di antara orang-orang yang paling memungkinkan untuk dipengaruhi adalah mereka yang hidup dan bergerak di dalam lingkaran nasionalisme.”[3]

Kebanyakan dari orang-orang seperti ini adalah mereka yang memang dididik oleh Barat, atau memiliki hubungan lain dengan negara-negara Eropa. Terpaparnya mereka pada budaya dan pemikiran barat inilah yang membuat mereka terpesona. Mereka memimpikan kebangkitan Islam dengan berdasarkan pemikiran-pemikiran Barat yang memisahkan dien dari urusan negara (sekularisme). Mereka tidak menyadari bahwa bukan dien mereka (Islam) yang bertanggung jawab terhadap segala kemunduran yang mereka alami pada masa akhir-akhir ini. Tetapi kesalahpahaman mereka terhadap dien, serta kesalahan dan penyelewengan dalam menerapkan dien, itulah yang menjadi penyebab kemunduran mereka.

Munculnya orang-orang semacam ini, yang sebagian dari mereka memang dibayar oleh Barat, memungkinkan Barat untuk meluncurkan tahapan akhir dari konspirasinya, yaitu invasi politik ke dunia Islam. Hal ini dilakukan dengan mendukung berbagai ide kebangsaan, yang kemudian diperkuat dengan didirikannya partai-partai politik di Arab dan Turki seperti partai al-Fatat; partai Ittihad ve Terakki Cemiyeti (Komite Persatuan dan Pembaharuan) yang juga dikenal dengan sebutan Turki Muda; dan Partai Jam’iyyat Al Alhd (Partai Perjanjian).

Revolusi melawan Khilafah Utsmani diorganisir dan dibiayai oleh pihak Barat melalui kelompok-kelompok politik nasionalis semacam ini, dan juga melalui beberapa tokoh berpengaruh. Tokoh-tokoh ini misalnya Syarif Hussain di Makkah yang dibayar 200.000 Pound sterling per bulan oleh Kantor Urusan Luar Negeri Inggris, untuk mengampanyekan ide negara Arab merdeka yang dijanjikan kepadanya melalui Letnan Kolonel Sir Henry McMahon, Komisioner Tinggi Inggris untuk Mesir. Dalam korespondensinya untuk Hussain pada tanggal 24 Oktober 1915, McMahon menulis,

“Dua distrik yaitu Mersina dan Alexandretta [sekarang keduanya merupakan wilayah Turki] dan beberapa bagian Suriah yang terhampar di barat Damaskus, Homs, Hama, dan Aleppo, tidak bisa dikatakan sebagai murni Arab, dan mesti dikecualikan dalam batas-batas wilayah yang diminta [oleh Hussain]… Sedangkan untuk wilayah yang terletak di dalam garis-garis perbatasan itu, dimana Inggris bebas bertindak tanpa merugikan kepentingan Prancis sebagai negara sekutunya…, maka Inggris Raya siap untuk mengakui dan mendukung kemerdekaan bangsa Arab.”[4]

Demikianlah benih-benih mematikan nasionalisme ditanamkan di dalam wilayah Negara Islam. Pada awal abad ke-20, wabah nasionalisme telah tersebar ke seluruh penjuru Negara Islam, menggoncangkan Negara dengan hebat, yang sebelumnya tidak pernah terjadi goncangan sedahsyat itu.

Serbuan yang paling akhir dan paling brutal terhadap Negara Islam diluncurkan pada permulaan Perang Dunia I oleh Eropa ketika mereka mengarahkan kekuatannya untuk menguasai negara yang pernah berjaya selama berabad-abad itu. Negara Islam runtuh tanpa bekas. Jenderal Allenby ketika memasuki al-Quds (Jerusalem) pada tahun 1917 mengatakan, “Hari ini perang salib telah berakhir!”

Impian bangsa Eropa yang sangat membenci Negara Islam akhirnya menjadi kenyataan. Kekuatan Eropa selanjutnya meraih bagiannya laksana burung Nasar mengerat potongan daging dari bangkai Negara Islam. Pembagian wilayah ini ditandatangani dalam perjanjian Sykes-Picot.[6] [MNews/Rgl]


Catatan kaki:

[1] Mustafa Kamal (1881-1938) adalah seorang opsir tentara yang sangat terpengaruh budaya barat. Dia merancang seluruh gerakan nasionalisme bertujuan untuk mendirikan negara sekuler Turki. Dia melakukan ini dengan menghapus sistem Khilafah pada tanggal 3 Maret 1924. Bekerja sama dengan Inggris dan Prancis.

[2] Rifa’ah Badawi Rafi’ al-Tahtawi (meninggal tahun 1873) menyerukan paham Wathaniyah (kebangsaan) dan sekularisme. Wathan di sini merujuk kepada wilayah geografis tertentu dan bukan umat Islam. Dasar seruannya ini adalah kebebasan dan gerakannya berpusat di Mesir.

[3] The International Review of Missions vol. 130, no. 50, April 1924 diedit oleh J. H. Oldham dan GA. Gollock, hal 169, Oxford Press.

[4]. The Middle East – The Arab World and its Neighbours, Peters Sluglett and Marion Farouq-Sluglett, hal 12, Times Boooks, 1993.

[5]  The Islamic State by Taqiuddin an-Nabhani hal 198 al-Khilafah publication 1994.

[6] Pada bulan November 1915, Francois Gheorge picot  enderal di Beirut yang terdahulu tiba di London untuk membahas pembagian tanah kaum muslimin dengan Kolonel share  pada bulan Mei 1916 tercapai perjanjian bahwasanya akan dibuat dengan negara Arab datang pertama ada di bawah proteksi Prancis dan berpusat di damaskus sedangkan yang kedua ada di perlindungan Inggris mulai dari Baghdad sampai aqabah Prancis akan mengatur Lebanon mulai dari utara sampai ke selatan iri Inggris akan mengontrol AC dan Haifa sedangkan Palestina akan menjadi tanggung jawab Prancis Inggris dan Rusia secara bersama-sama isi perjanjian rahasia ini secara lebih rinci baru terungkap ketika dipublikasikan oleh orang-orang Bolshevik setelah revolusi bolshevik pada bulan November 1917. [MNews/Rgl]

Sumber: Sejarah Nasionalisme di Dunia Islam, Shabir Ahmed dan Abid Karim.

Tinggalkan Balasan