Ayah Hebat, Pencetak Generasi Tangguh


Penulis: Najmah Saiidah


MuslimahNews.com, FOKUS — Sering kali kita melupakan peran ayah dalam keluarga, terlebih berkaitan dengan kualitas generasi yang akan dibentuk. Sebagian besar pembahasan tentang ayah berkisar pada kewajibannya memberi nafkah terhadap keluarga. Padahal sesungguhnya, seorang ayah pun memiliki peran yang besar dalam mewujudkan generasi tangguh, sebagaimana pentingnya peran ibu.

Ayah, sebagai pemimpin keluarga, memiliki peran yang sangat besar dalam membawa keluarganya pada tujuan yang mulia sebuah keluarga, yakni keluarga yang selalu dalam penjagaan dan rida Allah Ta’ala.

Ayah sebagai Pemimpin dalam Keluarga

Kepemimpinan ayah dalam keluarga merupakan hal yang sangat tegas dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunah. Seorang suami atau ayah adalah pemimpin dalam keluarga, dialah yang paling bertanggung jawab terhadap keluarga tersebut, karena keluarga adalah amanah yang harus dijaga dan diriayah oleh seorang laki-laki dalam hal ini suami atau ayah.

Tanggung jawab yang paling utama dalam memimpin keluarga adalah memberikan pendidikan, keamanan, dan keselamatan terhadap keluarga yang akan membawa keluarga ini kepada surga-Nya Allah Swt..

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR Bukhari)

Terlebih lagi, Allah menjelaskan tanggung jawab terhadap keluarga ini dalam QS At-Tahrim ayat 6,

قوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

“ … Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.

Maknanya adalah:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dengan menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dari api neraka, yakni dari murka Allah yang menyebabkan kamu diseret ke dalam neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; ada manusia yang dibakar dan ada manusia yang menjadi bahan bakar; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka sehingga tidak ada malaikat yang bisa disogok untuk mengurangi atau meringankan hukuman; dan mereka patuh dan disiplin selalu mengerjakan apa yang diperintahkan Allah.”

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah. Mereka juga diperintahkan untuk mengajarkan kepada keluarganya agar taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka. Keluarga merupakan amanat yang harus dipelihara kesejahteraannya, baik raga maupun jiwanya.

Secara umum, objek ayat ini adalah setiap mukmin. Namun, perintah ini juga mengarah kepada orang yang paling bertanggung jawab terhadap keluarga, yaitu ayah.

Kepala keluarga berkewajiban untuk memastikan diri dan keluarganya tercegah dari neraka, hal ini menunjukkan bahwa orientasi penjagaan tersebut bukan hanya penjagaan yang bersifat duniawi, tapi juga bersifat ukhrawi.

Meski seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, seorang suami atau ayahlah yang menjadi penanggung jawab atas pendidikan istri dan anaknya. Bukan hanya berkaitan dengan biaya pendidikannya semata, tetapi terkait materi dan muatan pendidikannya itu sendiri juga.

Sehingga, tidak benar jika pendidikan anak hanya dibebankan pada seorang ibu. Ayah pun memiliki andil besar untuk menentukan pendidikan anak-anaknya agar menjadi generasi yang kukuh keimanannya, memiliki kepribadian Islam yang andal, cerdas, dan siap berjuang untuk Islam dan kaum muslimin.

Dalam menjalankan perannya, seorang ayah tidak boleh bersikap masa bodoh, keras, kaku, dan kasar terhadap keluarganya. Bahkan sebaliknya, ia harus mengenakan perhiasan akhlak yang mulia, penuh kelembutan, dan kasih sayang.

Sikap lemah lembut ini merupakan rahmat dari Allah Swt. sebagaimana kalam-Nya ketika memuji Rasul-Nya yang mulia,

“Karena disebabkan rahmat Allahlah engkau dapat bersikap lemah lembut dan lunak kepada mereka. Sekiranya engkau itu adalah seorang yang kaku, keras lagi berhati kasar, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS Ali Imran [3]: 159)

Pelajaran Berharga

Allah Swt. telah mengisahkan seorang ayah bernama Luqman dan kehidupannya diabadikan dalam Al-Qur’an. Beberapa ayat di dalamnya menggambarkan bagaimana cara ia mendidik anaknya.

Pendidikan Luqman kepada anaknya termuat dalam nasihat-nasihatnya di dalam QS Luqman: 13—19. Di antaranya adalah jangan menyekutukan Allah, senantiasa berbuat baik kepada orang tua, jangan mengikutinya (orang tua) jika untuk menyekutukan Allah, bahwa dalam kebaikan dan keburukan meski sebesar biji sawi akan ada balasannya.

Selanjutnya, menjaga salat dan menunaikan zakat, berdakwah kepada kebaikan, mencegah melakukan hal yang mungkar, dan bersabar ketika mengalami kesulitan dalam berdakwah, jangan memalingkan muka karena sombong, dan jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh, dan yang terakhir sederhana dalam berjalan dan jangan mengeraskan suara.

Maasyaa Allah, luar biasa pendidikan yang dilakukan oleh Luqman, seorang ayah kepada putranya. Ini menandakan bahwa ayah pun memiliki tanggung jawab terhadap masa depan anak-anaknya.

Lebih dari itu, Rasulullah saw. telah memberikan contoh terbaik bagi kita dalam memperlakukan anak, tidak hanya aspek intelektual dan kecerdasan yang perlu ditanamkan pada anak, akan tetapi aspek adab dan pola jiwa pun merupakan hal penting pula. Sehingga, perhatian ayah bunda terhadap anak-anaknya pun menjadi aspek yang penting harus dimunculkan.

Demikianlah tuntunan Rasulullah saw. ini. Sudah seharusnya seorang suami menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dalam rumah tangga, ia mendidik dan membina istri dan anak-anaknya dengan makruf, berusaha keras untuk bisa memberikan nafkah yang bisa mencukupi anggota keluarganya,  serta bergaul dengan penuh kelembutan dan kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya.

Sebagaimana istrinya pun diperintah untuk taat kepadanya dalam perkara yang baik, juga anak-anak yang taat dan patuh kepada kedua orang tuanya. Sehingga, akan terwujud ketenangan di antara seluruh anggota keluarganya dan abadilah ikatan cinta dan kasih sayang di antara mereka.

Untuk Ayah Renungkan

Ibnu Qayyim rahimahullah telah mengingatkan para ayah, dalam kitab Tuhfatul Maudud 1/242 secara tegas ia mengatakan bahwa penyebab utama rusaknya generasi hari ini adalah karena ayah.

Beliau mengatakan,

Betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan memfasilitasi syahwat (keinginannya), sementara dia mengira telah memuliakannya padahal dia telah merendahkannya.

Dia juga mengira telah menyayanginya, padahal dia telah menzaliminya. Maka, hilanglah bagiannya pada anak itu di dunia dan akhirat. Jika Anda amati kerusakan pada anak-anak, penyebab utamanya adalah ayah.

Imam Ibnu Qayyim sesungguhnya tidak hendak menyudutkan kita, tapi justru mengingatkan kita semua—terutama para ayah—agar kita introspeksi diri.

Apakah kita sudah benar-benar memberi perhatian kepada mereka, memperhatikan mereka? Sudahkah mendidik anak-anak kita dengan baik sesuai tuntunan Rasulullah saw.? Apakah kita sudah memenuhi impian dan harapan mereka terhadap kita, orang tuanya?

Bisa jadi, kadang sebagai orang tua justru yang terjadi adalah memaksakan kehendak kita kepada anak-anak kita dan jarang mendengarkan bahkan bertanya apa harapan dan keinginan mereka. Astaghfirullah…

Bagaimanapun, seorang anak akan senantiasa membutuhkan seorang ayah, bukan terkait kebutuhan materi semata. Tetapi perhatiannya, bimbingan, nasihatnya, bahkan senyumannya, hingga dekapan hangat penuh kasih sayang atau gendongannya walaupun beberapa saat saja.

Rasulullah saw. mencontohkan untuk kita semua, dari Abdullah bin Ja’far ra. berkata,

“Apabila Rasulullah saw. pulang dari suatu bepergian, biasanya beliau disambut oleh anak-anak anggota keluarganya. Suatu hari beliau pulang dari bepergian dan aku lebih dahulu menyambut beliau. Lalu aku digendong beliau. Kemudian salah seorang anak Fathimah ra. menyambutnya. Dia pun digendongnya di belakang. Kemudian kami bertiga memasuki kota Madinah di atas binatang tunggangan.” (HR Muslim 4455)

Hal ini yang kadang dilupakan oleh seorang ayah. Padahal sesungguhnya ayah—bersama dengan ibu—memiliki peran penting dalam proses pendidikan anak

Sehingga, terbentuklah kepribadian Islam yang tinggi dan terus meninggi. Hingga terwujud generasi yang andal, generasi yang menjadikan kecintaan kepada Allah di atas segalanya, menjadikan rida Allah sebagai tujuannya. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan