Arwa’ binti Abdul Muththalib, Sang Pembela Rasulullah


Penulis: Ruruh Anjar


MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Tak segan membela Rasulullah, baik di saat ia belum memeluk Islam maupun setelah Islam dalam genggamannya. Meski berada dalam tekanan, keyakinan dan hujahnya mantap. Tiada bergeser sedikit pun untuk memperjuangkan Islam di setiap liku kehidupannya.

Ia adalah Arwa’ binti Abdul Muththalib, bibi Rasulullah. Lahir di Makkah sekitar tahun 560 Masehi dan merupakan putri dari Abdul Muthalib ibn Hasyim dan Fatimah binti Amr yang berasal dari suku Makhzum, suku Quraisy.

Arwa’ adalah salah satu sosok muslimah yang terbuka pada kebenaran, cerdas, dan fasih melantunkan syair.

Pada masa J ahiliah Arwa’ menikah dengan Umair bin Wahab bin Abdi Manaf dan dikaruniai seorang putra bernama Kulaib (dalam referensi lain Thulaib).

Setelah Umair meninggal, ia pun dinikahi oleh Artha’ah bin Syurahbil dan dikaruniai seorang putri bernama Fatimah.

Ahli sejarah berselisih pendapat tentang keislaman Arwa’ dan juga saudarinya, Atikah. Ishaq dan Ibnu Hibban termasuk ulama yang berpendapat bahwa tidak ada seorang pun bibi Rasulullah yang masuk Islam kecuali Shafiyyah.

Namun adapula ulama selain mereka berpendapat bahwa, bibi-bibi Rasulullah yang masuk Islam adalah Shafiyyah dan Arwa’.

Merasakan Keindahan Islam

Momen masuknya Arwa’ ke dalam Islam dimulai saat anaknya Kulaib (Thulaib) bin Umair masuk Islam di rumah al-Arqam bin Abil Arqam al-Makhzumi.

Sepulang dari sana, Kulaib langsung menemui ibunya dan berkata, “(Wahai Ibu), saya telah mengikuti agama Muhammad dan saya memeluk Islam karena Allah.”

Ibunya menjawab, “Sesungguhnya orang yang paling berhak kamu dukung dan bela adalah sepupumu (Muhammad).

Demi Allah, seandainya saya mampu sebagaimana kaum laki-laki, maka saya akan selalu membelanya.”

Kulaib berkata, “Kalau memang demikian, apa yang menghalangi ibu untuk masuk Islam dan menjadi pengikutnya, padahal saudara Ibu, Hamzah bin Abdul Muththalib telah masuk Islam?”

Ibunya menjawab, “Saya mau melihat saudara-saudariku terlebih dahulu. (Kalau mereka masuk Islam), saya akan menjadi salah satu dari mereka (masuk Islam juga).”

Kulaib berkata, “Sesungguhnya saya memohon kepadamu, demi Allah, untuk mendatanginya (Muhammad), memberi salam kepadanya, memercayainya, dan bersaksi bahwa tiada illah yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah.”

Arwa’ pun mengikuti permintaan Kulaib untuk mendatangi Rasulullah dan kemudian memeluk Islam.

Dengan Islam, Arwa binti Abdul Muththalib semakin merasakan keindahan iman.

Ia pun menjadi perempuan yang paling gigih membela Rasulullah serta meminta putranya untuk selalu menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.

Pembelaannya kepada Rasulullah

Pernah suatu hari dikisahkan, Abu Jahal telah mempersiapkan sekelompok orang kafir Makkah untuk menganiaya Rasulullah.

Mendengar hal itu, Kulaib bin Umair langsung pergi menemui Abu Jahal lalu memukulnya hingga kulit Abu Jahal terkelupas. Seketika itu juga gerombolan tersebut menyeret Kulaib dan mengikatnya.

Tetapi tak lama kemudian, datanglah Abu Lahab membebaskannya.

Kemudian mereka memberitahu perilaku Kulaib tersebut kepada ibunya seraya berseru, “Wahai Arwa, tahukah engkau bahwa putramu telah menjadi pembela Muhammad?”

Dengan tegas Arwa’ menjawab, “Hari yang terbaik bagi Kulaib adalah hari di mana dia membela putra pamannya (Muhammad), karena memang apa yang dia bawa adalah kebenaran yang datangnya dari Allah!”

Mereka tercenung dan bertanya, “Kalau begitu, engkau juga pengikut Muhammad?”

Arwa’ menjawab, “Benar!”

Mendengar hal tersebut, sebagian orang-orang kafir melaporkan keislaman Arwa’ kepada Abu Lahab.

Datanglah Abu Lahab menemui Arwa dan berkata, “Sungguh, suatu berita yang mengejutkan atas kamu, karena telah mengikuti Muhammad dan meninggalkan agama Abdul Muththalib!”

Arwa’ menjawab dengan tenang, “Memang sudah seharusnya demikian. Sekarang, berdirilah di samping putra saudaramu (Muhammad) untuk menolong dan membelanya. Apabila sudah jelas perkaranya (kebenaran Muhammad bagimu), maka kamu boleh memilih antara ikut dengannya atau kamu tetap dalam agamamu.”

Sambil berpaling pergi, Abu Lahab menegaskan, “Kami mempunyai kekuasaan dan kekuatan besar di Arab, yang secara bersama-sama menentang kedatangan agama baru.”

Arwa’ menimpali sanggahan Abu Lahab dengan tegar seraya melantunkan syair:

“Sesungguhnya Kulaib telah menolong putra pamannya. Ia (Kulaib) juga Rasulullah dalam lindungan-Nya dan ia infakkan hartanya untuk perjuangannya. Berlinanglah air mataku dan memang sudah selayaknya untuk berlinang lantaran (bapakku) yang enggan menerima kebenaran karena rasa malu.”

Argumentasi yang dilontarkan Arwa’ atas tekanan yang dilontarkan dari Abu Jahal, Abu Lahab dan pembesar Quraisy, menunjukkan keberaniannya dalam membela Rasulullah Saw.

Saat Rasulullah wafat, Arwa’ pun merasakan duka yang mendalam tersebab kecintaannya sekaligus ia pun menyadari bahwa hal tersebut menandakan berhentinya wahyu dari langit.

Lalu Arwa’ menorehkan puisi atas kematian Rasulullah tersebut, “Wahai Rasulullah, bukankah kau harapan kami.

Kehadiranmu bagi kami adalah kebaikan. Dan jangan kau biarkan menjadi kering. Setiap detak jantungku hanya mengingat Muhammad dan betapa kesedihan menahan rindu terkumpul dalam diriku setelah kau tiada, wahai Nabi.”

Pada tahun 15 H di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, Arwa’ binti Abdul Muththalib menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Ia telah membekali kehidupannya dengan mencurahkan dukungan dan pembelaan terhadap perjuangan Rasulullah. Bahkan mengajak orang-orang di sekitarnya turut menerima kebenaran Islam.

Kisahnya ini memberikan gambaran keberanian dan ketegaran seorang muslimah dalam perjuangan menegakkan Islam.

Meski tekanan datang bertubi-tubi, keistikamahannya menjadi teladan, agar tak surut ke belakang dalam menempuh jalan dakwah nan terjal ini. Wallahu a’lam. [MNews/Juan]

*Disarikan dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan