[News] Solidaritas yang Kuat terhadap Palestina Belum Menyentuh Akar Masalahnya

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — Krisis Palestina mendapat dukungan dari masyarakat global dengan beragam bentuk solidaritas. Seperti yang terjadi di Malaysia, aktivis muslimah Malaysia Dr. Sumayyah menyatakan Malaysia termasuk negara peringkat tertinggi yang bergerak di media sosial dalam merespons krisis Palestina. Tidak hanya di kalangan muslim, tetapi juga di kalangan nonmuslim hingga memunculkan persatuan.

Ia menggambarkan, segala cara dilakukan untuk membela Palestina meski tidak mampu berangkat ke sana. Kumpulan hacker memasuki ratusan website Israel, berupaya memasuki segala pertahanan yang mampu dicapai. Bahkan kemudian mencoba menghubungi influencer Yahudi di Israel untuk menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan salah.

“Ternyata warga Yahudi di sana memang diberikan pemahaman yang salah oleh pemerintahnya. Sehingga, mereka merasa kemenangan yang mereka dapatkan dengan menjajah Palestina adalah kemenangan yang legal dan menjadi hak mereka. Pemahaman itulah yang terus ditancapkan ke dalam diri mereka, sehingga mereka makin keras mengatakan Palestina yang bersalah,” ujarnya.

Respons Kerajaan Malaysia sendiri adalah mengecam tindakan Yahudi Israel yang disebutnya sebagai kecaman tegas meminta Israel menghentikan serangan. Tapi sekadar itu, ia menyayangkan pada saat Erdogan menghubungi pemimpin negeri-negeri kaum muslimin untuk membicarakan solusi Palestina, yang dihasilkan tak lepas dari solusi dua negara.

Baca juga:  Menyoal Kontribusi Nyata untuk Palestina

Menurutnya, ini bukan penyelesaian tuntas terhadap isu Palestina-Israel. Solidaritas yang ada cukup kuat, tapi untuk memahami isu ini masih sangat lemah dari sudut pandang politik.

Kemudian, ukhuwah islamiah di kalangan umat Islam diikat dengan kalimat laa ilaaha ilallah muhammadarrasulullah.

“Dengan kalimat inilah Rasulullah menjadikan kita ibarat satu tubuh, di mana pun berada. Sebuah ikatan yang sangat kuat, seperti ikatan antara Aus dan Khazraj, Anshar dan Muhajirin, mampu mengikat 2/3 dunia melalui Khilafah yang telah diruntuhkan lebih dari 100 tahun lalu. Inilah perkara yang harus dipahami untuk menyelesaikan masalah Palestina,” jelasnya.

Ia mengkritisi adanya gencatan senjata yang digadang-gadang sebagai kemenangan Palestina yang menjadikan dukungan kepada Palestina mulai menurun.

“Padahal, tak sampai 24 jam, Israel kembali menyerang. Inilah sebenarnya kemenangan yang tidak hakiki. Solusi yang ditawarkan tidak sampai pada kunci utama yang menyelesaikan krisis ini,” urainya.

Gencatan senjata sudah dilakukan banyak kali antara Palestina-Israel. Solusi dua negara bukanlah solusi hakiki melainkan pengkhianatan besar, karena “seolah-olah” umat Islam ini menyerahkan tanah umat Islam kepada entitas Yahudi dan menyetujui keberadaan Israel.

“Padahal entitas mereka dilaknat Allah,” tegasnya.

Jadi, solusi dua negara bukan penyelesaian, melainkan justru akar masalahnya. Dengan solusi dua negara inilah Israel dicangkokkan di Palestina sejak awal.

Baca juga:  Muslim Rohingya Ditemukan di Pantai Malaysia

“Bila kita sudah memahami hal tersebut, yang harus diselesaikan adalah akar masalahnya (yakni tentang solusi dua negara). Oleh sebab itu, umat Islam tidak boleh mengambil hal tersebut,” tukasnya.

Ia pun menyoal tentang kemerdekaan nasional yang juga dianggap menjadi solusi. Menurutnya, jika melihat pada aksi-aksi demonstrasi, terdapat bendera Palestina yang turut dikibarkan. Dapat terlihat bahwa kita adalah satu tubuh, tetapi dipisahkan oleh bendera yang berbeda-beda.

“Kita terkotakkan dalam sekat nasionalisme, dan kita harus keluar dari sekat itu. Apabila kita menyatakan diri kita adalah satu tubuh dalam kalimat laa ilaaha ilallah, seharusnya kita pun berada dalam satu pemerintahan, satu bendera, satu orang pemimpin, satu aturan, dan satu perasaan,” cetusnya.

Sehingga, ia menambahkan, ketika menanggapi isu Palestina, kita ikut merasakan penderitaan saudara kita di sana.

“Juga merasakan bahwa itu adalah tanah kita—kaum muslimin—yang tidak boleh diserahkan kepada Yahudi,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan