Negara Gagal Atasi Pandemi, Ritel Modern “Harakiri”


Penulis: Endiyah Puji Tristanti


MuslimahNews.com, OPINI — Pandemi, oh, pandemi. Problem kesehatan yang menjadi momok bagi bidang ekonomi. Padahal, pandemi bukan baru pertama terjadi. Namun, pandemi kali ini benar-benar menjadi ujian berat bagi kepemimpinan sekaligus sistem yang dipilih berbagai negeri.

PT Hero Supermarket Tbk. (HERO Group) memutuskan untuk menutup seluruh gerai Giant pada akhir Juli 2021. Penutupan gerai Giant ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memfokuskan bisnisnya ke merek dagang IKEA, Guardian, dan Hero Supermarket yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan Giant. (liputan6.com, 25/5/21)

Kebijakan penutupan dan alih fungsi gerai adalah langkah strategis perusahaan untuk menyikapi pergeseran tren konsumsi serta untuk bertahan di tengah pandemi. Peritel memilih mengembangkan format ritel yang prospektif.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menilai kondisi bisnis ritel masih menjanjikan meskipun selama 15 bulan terakhir bisnis ritel masih belum menunjukkan pemulihan yang signifikan. Ketua Umum Aprindo, Roy Nicholas Mandey mengatakan per Maret 2021 Indeks Penjualan Riil (IPR) masih minus 17,1 persen. Sementara pada bulan April sudah terlihat adanya peningkatan pembelanjaan terutama karena masyarakat sudah menerima THR dari perusahaannya. (kompas.com, 06/05/2021)

Artinya, pemulihan sebenarnya tidak signifikan walaupun ada peningkatan belanja 10% sampai 15% dari bulan sebelumnya. Sebab, THR hanya sekali dalam setahun, sementara belanja masyarakat terus berlangsung sepanjang tahun.

Pandemi yang tak kunjung pergi mendewasakan masyarakat untuk bijak dalam konsumsi dengan cara menekan belanja. Dengan kata lain, daya beli masyarakat menurun.

Ancaman PHK dan Pengangguran

Pada tahun 2020, dalam masa sembilan bulan pandemi, sekitar 1.200 toko atau rata-rata 4-5 toko ritel tercatat tutup per harinya. Pada periode Januari—Maret 2021 tercatat sekitar 90 toko ritel atau 1-2 toko tutup per hari.

Adapun pada tahun 2021, yang gulung tikar bukan ritel gurem bermodal minim, namun ritel modern. Padahal, peritel modern sudah sedemikian berupaya menggunakan dana cadangan, tetap saja dana cadangan itu tidak mampu menahan operasional. Cost lebih besar dari pendapatan.

Data Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK Indonesia) yang menjadi induk Serikat Pekerja Hero Supermarket menyebut bahwa mulanya Giant memiliki karyawan sekitar 15.000 orang. Karena mengalami kerugian, maka sejak dua tahun lalu perusahaan mulai mengurangi karyawan, baik karyawan tetap maupun kontrak.

Bagi karyawan tetap, manajemen di antaranya menawarkan pensiun dini. Sekitar setengahnya sudah keluar. Kini, perusahaan bakal melepas sisanya, yakni mencapai 7.000 karyawan. (cnbcindonesia.com, 28/5/2021)

Tutup ritel, karyawan dirumahkan. Ini sudah rumus, bukan perkara aneh. Bagi perusahaan apa pun keadaannya, keuntungan tetap menjadi prioritas. Bagi perusahaan, penutupan menjadi momen tepat untuk mempekerjakan karyawan baru dengan pekerja lebih muda, serta upah lebih murah.

Adapun bagi negara, PHK yang besar tentu bakal menimbulkan angka pengangguran baru. Pengangguran terbuka yang kini sudah ada bakal bertambah besar.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 8,75 juta orang pada Februari 2021. Jumlah tersebut meningkat 26,26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 6,93 juta orang.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menyebut ada 29,12 juta penduduk usia kerja terdampak pandemi Covid-19. Ia mengakui dampak pandemi berakibat pada jumlah pengangguran terbuka yang mencapai 9,77 juta orang. (wartaekonomi.co.id, 10/2/2021)

Dengan adanya gelombang tutup ritel modern Juli nanti, berapa jumlah pengangguran yang akan datang?

Akibat Inkonsisten dengan Syariat

Badai pandemi mampu menggulung ekonomi. Analisisnya sangat jelas, pasti akibat negara inkonsisten dengan syariat. Penanganan pandemi amburadul. Paradigma kapitalisme “sedikit usaha untuk mendapat laba sebesar-besarnya” menjadi simpul masalah.

Negara tak memerankan fungsinya dalam melakukan riayah/pelayanan kepada masyarakat sebagaimana yang dikehendaki syariat. Negara sekadar melakukan pelayanan pencitraan.

Sejak awal, jalur migrasi virus tidak ditutup total dengan alasan investasi dan ekonomi. Giliran dalam negeri dilanda badai pandemi, kebijakan lockdown secara sporadis diambil oleh negara. Rakyat sendiri, baik sehat maupun sakit, diperlakukan sama. Dibelenggu pergerakannya, termasuk pergerakan ekonomi, sementara negara tak mau memberikan kompensasi.

Rakyat dihadapkan pada pilihan: mati karena Covid-19 atau mati karena kelaparan. Insting bertahan hidup pun menjadi opsi logis. Keluar rumah untuk bertahan hidup menjadi solusi di ranah keluarga. Namun, tidak bisa ditepis juga, akibatnya, “grafik” penyebaran Covid-19 makin meluas lagi tidak mampu dikendalikan.

Solusi syariat atas pandemi sebenarnya sangat cerdas. Negara menjalankan tugasnya untuk menutup semua akses penyebaran pandemi awal kali pandemi terjadi. Warga negara yang sudah mengidap Covid-19 akan dikarantina dengan pelayanan kesehatan terbaik, dipisahkan dengan warga negara yang sehat. Berapa pun biayanya, wajib dikeluarkan oleh negara.

Adapun keluarga yang terdampak, misalnya karena kepala keluarga menjalani karantina medis dan tidak bisa bekerja, maka nafkah diurusi negara sesuai ketetapan Islam. Maka, pandemi tidak akan menghantam sektor ekonomi sebagaimana hari ini.

Sayangnya, kondisi sudah telanjur hancur lebur hanya karena kesombongan penguasa yang enggan untuk mengambil solusi syariat. Bila pandemi tak kunjung usai, ekonomi terus merosot, bagaimana keluar dari semua ini?

Akhiri Kesombongan, Adopsi Solusi Islam

Bukan hanya Indonesia yang babak belur gagal atasi pandemi. Belum ada satu negara pun yang hidup tenang dari ancaman gelombang pandemi susulan. Solusi tambal sulam tak bisa lagi diharapkan.

Allah Swt. sesungguhnya telah berfirman,

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS ar-Ruum: 41)

Bukan hanya butuh dana yang luar biasa besar untuk mengeluarkan dunia dari dampak pandemi, dunia butuh sistem yang tangguh untuk mengakhiri pandemi.

Sistem kapitalisme yang demokratis sebagai sistem buatan manusia terbukti gagal menghadapi pandemi dan salah memberikan solusi.

Tersisa satu sistem dunia, yakni sistem Islam untuk mengangkat manusia di seluruh dunia keluar dari kondisi buruk akibat kesalahan solusi kapitalisme dalam mengatasi pandemi. Solusi Islam mengharuskan adanya sebuah negara hakiki yang mengadopsi seluruh syariat Islam dan menerapkannya secara total di seluruh wilayah kaum muslimin.

Pandemi yang telah meluas mendunia, membutuhkan negara yang mendunia pula. Bukan negara dengan sekat-sekat bangsa yang memiliki keterbatasan untuk membuat kebijakan yang bersifat global dalam menyelamatkan nyawa enam miliar lebih manusia.

Allah Swt. Yang Maha Pengasih dan Penyayang berfirman,

“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan karena perbuatannya.”  (QS al A’raf: 96)

Hanya pikiran sombong manusia-manusia yang mabuk sekularisme yang menolak solusi Islam mewujud dalam institusi negara Khilafah. Menunda-nunda mengambil solusi Islam hanya menambah besar kehancuran yang terjadi.

Pilihan ada pada masyarakat: membiarkan penerapan sistem kapitalisme atau aktif mewujudkan perubahan untuk menerapkan sistem Islam.

Siapa saja yang bertakwa pada Allah, akan Allah berikan padanya jalan keluar dan rezeki yang tidak terduga, dan siapa yang bertawakal pada Allah, maka Allah akan cukupi (kebutuhannya).” (QS at Thalaq: 2—3) [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan