Zubaida binti Ja’far Al Mansur, Penggagas Dibuatnya Jalur Kufah—Makkah


Penulis: Ruruh Anjar


MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Jejak-jejak keagungan peradaban Islam tak lepas dari peran perempuan. Saat Barat mengekang kehidupan kaum perempuannya, dunia Islam yang berada dalam naungan Kekhilafahan menempatkan perempuan pada posisi mulia.

Tersebutlah Zubaida binti Ja’far al-Mansur. Istri dari khalifah kelima dinasti Abbasiyah, Harun al-Rasyid yang juga merupakan cucu dari khalifah kedua dinasti Abbasiyah, Abu Ja’far Abdullah bin Muhammad al-Mansur.

Perempuan berkarakter kuat ini bernama lahir Amatul Aziz binti Ja’far bin Abi Ja’far al-Mansur (765 M). Ia sangat berpengaruh pada pemerintahan dinasti terbesar Islam tersebut. Panggilan Zubaida diberikan sang kakek karena kulitnya yang putih bersih serta sikapnya yang lembut.

Ia tak hanya dikaruniai paras rupawan, tetapi juga memiliki wawasan yang luas, sikap bijaksana, dan berjiwa pemberani.

Bakat seni pun mengalir dalam darahnya. Ia menulis banyak puisi yang selanjutnya diikutkan dalam pagelaran seni. Keunikan isi puisinya menisbahkannya sebagai salah satu patron seni di Irak.

Begitu akrabnya Zubaida dengan para sastrawan, hingga di kemudian hari muncul anggapan jika kisah 1001 Malam terinspirasi dari kehidupan Sultan Harun dan Zubaida. Padahal, tokoh utamanya, Syahrazad, terlahir dari kehidupan pribadi ibu Sultan Harun, Al-Khayzuran.

Selain mencintai seni, tampuk pemerintahan yang dipegang sang suami turut menjadi perhatian Zubaida.

Sultan Harun memang selalu meminta pertimbangan Zubaida dalam setiap pengambilan keputusan. Alasannya, keputusan Zubaida selalu tepat dan bijak.

Meski diselimuti kehidupan dunia yang penuh kemewahan, tidak membuatnya memanfaatkan untuk sekedar kesenangan nafsunya.

Zubaida juga menegakkan agamanya dan mempersiapkan akhiratnya dengan sungguh-sungguh. Disebutkan bahwa dia adalah seorang ahli fikih, ahli ibadah, dan memiliki 100 jariah (budak perempuan) yang hafal Al-Qur’an dan melantunkan untuknya ayat-ayat Allah.

Setiap hari, Zubaida menggilir mereka dengan menyelesaikan sepersepuluh Al-Qur’an. Kedudukannya di Kedaulatan Abbasiyah digunakan untuk ketaatan dan berinfak yang tidak ditandingi oleh kaum laki-laki.

Kiprahnya mulai dikenal ketika ia melaksanakan haji untuk kelima kalinya. Kala itu wilayah-wilayah yang dilaluinya dari Baghdad ke Makkah sedang ditimpa musim panas ekstrem.

Tentu ini sangat memberatkan perjalanan jemaah haji yang melintas. Bahkan, Makkah dan wilayah sekitarnya pun tak pelak dilanda kekeringan yang sangat parah. Sumber mata air satu-satunya yaitu sumur Zamzam, kapasitas airnya sudah cukup mengkhawatirkan.

Melihat kondisi ini, Zubaida memerintahkan agar sumur Zamzam diperdalam, sekaligus memperbaiki persediaan air di Makkah dan provinsi sekitarnya.

Konon untuk proyek ini saja, ia menghabiskan dana hingga lebih dari 2 juta dinar. Tidak sampai di situ, ia selanjutnya mengarahkan agar dibangun saluran air dari Baghdad hingga Makkah. Berbekal dana jutaan dinar tersebut, proyek saluran air berhasil dirampungkan dengan sangat baik.

Sejak saat itu, tak ada lagi rakyatnya yang khawatir kekurangan air bersih ketika melakukan perjalanan dari Baghdad ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Tak hanya itu, Zubaida juga membangun jalan yang lebarnya 18 meter sejauh 1.500 kilometer. Terbentang dari Kufah di selatan Baghdad menuju Makkah.

Foto: Darb Zubayda atau Jalur Zubaida, egyptianstreets.com

Di sepanjang jalan tersebut, ia membangun sumur-sumur air dan menara api untuk penerangan ketika gulita menjelang.

Jalur ini memiliki peran strategis. Para khalifah dari kekhalifahan Abbasiyah sangat peduli terhadap jalur ini. Mereka membangun berbagai fasilitas, seperti pembangunan tangki air, penggalian sumur, pembangunan kolam, pembangunan menara, dan lainnya.

Mereka bahkan mengangkat wali yang bertanggung jawab atas perbaikan dan pengembangan jalur ini. Jalur yang dibangun ini kemudian disebut sebagai Darb Zubaidah (Arab: درب زبيدة‎).

Sekarang, jalur ini sudah tidak digunakan. Kondisinya pun sudah sangat mengkhawatirkan dan sulit dikenali rangka aslinya.

Namun artefak-artefak pemberhentian (semacam rest area) di sepanjang jalur ini masih bisa ditemui di beberapa tempat.

Hingga di tahun 2015 pemerintah Arab Saudi mendaftarkanZubaida binti Ja’far Al Mansur, Penggagas Dibuatnya Jalur Kufah—Makkah sebagai Situs Warisan Dunia kepada UNESCO.

Tampaklah Islam telah mendorong laki-laki dan perempuan untuk mempelajari alam sekitar dan mengelolanya secara baik. Sehingga dengan keimanannya, ia memahami perannya untuk memberikan manfaat kepada umat tanpa meminta keuntungan. Bahkan terus bersungguh-sungguh belajar, beramar makruf nahi mungkar, serta mengaktualisasikan ilmunya demi kemaslahatan umat.  Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Juan]

*Disarikan dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan