Tumbangnya Bisnis Ritel, Bagaimana Peran Negara?


Penulis: Muthiah Haniif


MuslimahNews.com, FOKUS — Keputusan PT Hero Supermarket Tbk., salah satu perusahaan ritel raksasa, untuk menutup seluruh gerai Giant di akhir Juli mendatang, cukup melengkapi wajah buram potret perekonomian seiring berlarutnya wabah pandemi.

Sebenarnya, bertumbangannya bisnis ritel telah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Gerai Giant pun sudah ada sejumlah 26 buah yang ditutup pada 2018. Lalu, ada juga penutupan gerai 7-Eleven, 25 gerai PT Matahari Department Store Tbk, dan Ramayana.

Ada pula manajemen Golden Trully yang memutuskan menutup seluruh gerai luring/offline dan memusatkan perhatian pada penjualan secara daring/online. Sedangkan Manajemen Centro Department Store menutup salah satu gerainya setelah mengalami gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Pajak Pembayaran Utang, selain karena imbas pandemi.

Tak hanya perusahaan ritel besar, jumlah ritel menengah ke bawah yang tumbang justru lebih banyak, yaitu sekitar 1250-1300 toko se-Indonesia (Data Aprindo bulan Maret 2021).

Ada beberapa hal yang ditengarai menjadi penyebab tumbangnya bisnis ritel, yaitu:

1. Disrupsi ekonomi (peralihan ekonomi menuju era digitalisasi) telah mengubah perilaku belanja masyarakat kepada belanja daring. Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE Indonesia), Yusuf Rendy Manilet, bisnis ritel harus bersaing dengan e-commerce yang menawarkan promosi harga dan kemudahan. (ekbis.sindonews.com).

2. Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Terbatasnya aktivitas masyarakat di luar rumah dan menurunnya daya beli masyarakat menyebabkan omset penjualan bisnis ritel menurun.

Pemasukan dari hasil penjualan sangat tak memadai dibanding pengeluaran untuk pemeliharaan aset dan biaya operasional. Akibatnya satu per satu bisnis ritel mengalami kehancuran.

Berlarutnya pandemi juga menyebabkan ketakpastian iklim usaha. Akibatnya, para pengusaha tidak bisa merancang langkah untuk keberlangsungan dan pertumbuhan usahanya.

3. Minim peran negara. Roy N. Mandey (Ketua Umum APRINDO) menyatakan, saat peritel mengalami pukulan berat awal pandemi, mereka justru kesulitan mengakses stimulus dan insentif pemerintah, seperti relaksasi kredit dan insentif listrik. Bahkan terkait penyediaan keperluan protokol kesehatan, semua harus diusahakan sendiri.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey mengungkapkan bahwa penutupan gerai ritel modern akan memberikan multiplier effect yang besar, berupa:

1. Pemasukan negara berkurang.

2. Diklaim berpotensi mematikan UMKM. Pasalnya, banyak UMKM yang mengandalkan ritel modern untuk memasarkan produknya.

3. Terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran yang berdampak pada hilangnya daya beli masyarakat.

4. Memperburuk krisis ekonomi.

Akibat Kapitalisme

Penurunan penjualan bisnis ritel merupakan salah satu gejala resesi ekonomi di suatu negara. Saat ini, gejala resesi menimpa hampir seluruh dunia, termasuk Inggris dan Amerika. Bahkan mulai dirasakan sejak tahun 2019.

Jika kita menilik sistem ekonomi kapitalisme yang kini menguasai dunia, resesi ekonomi merupakan hal yang berulang dan terjadi secara periodik. Hal ini membuktikan kerapuhan sistem ekonomi tersebut. Sebab sistem ini dibangun dari struktur ekonomi yang semu, yaitu nonriil (pasar modal, bursa saham, perbankan). Ditambah penggunaan mata uang berbasis dolar (fiat money) yang rentan berfluktuasi.

Minimnya peran negara dalam sistem kapitalisme juga berperan besar atas kehancuran ekonomi dan berlarutnya pandemi yang berujung pada kesengsaraan rakyat.

Bagaimana dengan Sistem Islam?

Islam memandang negara hadir sebagai pelaksana syariat Islam secara menyeluruh, termasuk dalam sistem ekonomi. Sistem ekonomi Islam merupakan sistem anti riba dan fokus terhadap sektor ekonomi riil.

Negara Islam akan mengawasi keberlangsungan sektor perdagangan seperti ritel agar tidak terjadi monopoli pasar, persaingan tak sehat dan berbagai distorsi pasar lainnya.

Negara juga tidak membebani para pelaku usaha dengan berbagai pajak/cukai dan pungutan di luar ketentuan syariat, memberikan insentif saat terjadi bencana, dan memberikan perlindungan dari hegemoni raksasa ekonomi dunia (baik dalam hal kebijakan maupun penguasaan teknologi digital).

Sebagai pelindung rakyat, negara tak akan membiarkan wabah pandemi berkepanjangan. Dengan resep penanganan pandemi ala Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, negara sigap menghentikan penyebaran wabah di dalam negerinya.

Krisis ekonomi akibat pandemi tak akan melanda jika sejak awal negara sigap menghadapi serangan Covid-19 dengan melakukan karantina ala Islam.

Dengan demikian, berbeda dengan kondisi saat ini, jelaslah bahwa dengan penerapan sistem ekonomi Islam yang terintegrasi oleh negara, perekonomian rakyat tak mudah goyah diterpa krisis, pun ketika mengalami krisis akan mudah untuk bangkit kembali. Wallahu a’lam. [MNews/Tim WAG]

Materi ini merupakan pengantar diskusi WAG pada Ahad, 6/6/2021.

Tinggalkan Balasan