[Sejarah Nasionalisme] Misionaris Menyulut Pertikaian Antara Warga Negara

MuslimahNews.com, SEJARAH NASIONALISME — Ketika para misionaris mendapatkan kesempatan untuk mendirikan pusat-pusat kegiatannya di negara Islam, mereka mulai mencari-cari kesempatan untuk melakukan agitasi terhadap warga negara di wilayah negara Islam. Salah satu kesempatan itu adalah ketika Ibrahim Pasha meninggalkan Syam.

Perpindahannya ini telah menyebabkan ketakutan yang berkepanjangan di kalangan rakyat dan anarki pun berkobaran memecah-belah mereka. Delegasi asing, khususnya para misionaris, memanfaatkan kesempatan ini dan mulai menyulut perselisihan.

Para misionaris tersebut dapat melakukan gerakan semacam itu karena mereka tahu kalau negara Utsmani tidak punya banyak pengaruh di Syam pada saat itu.

Satu tahun berikutnya, yaitu pada tahun 1841, keributan serius terjadi di pegunungan Lebanon antara orang-orang Kristen dan orang-orang Druze. Keadaan makin memburuk.

Kemudian, Khilafah Utsmaniyah dibujuk di bawah tekanan dan pengaruh negara asing agar mau membentuk pemerintah baru di Lebanon yang terpisah dari Turki, yang dibagi ke dalam dua provinsi yang terpisah; satu bagian untuk orang-orang Kristen dan bagian yang lain untuk orang Druze.

Khilafah Utsmaniyah menunjuk seorang wali gubernur untuk kedua bagian untuk menghindari cekcok di antara dua sekte tersebut. Meski begitu, sistem ini ternyata tidak berhasil.

Inggris dan Prancis berusaha untuk melibatkan diri ketika para penguasa Turki hendak menyelesaikan setiap huru-hara. Padahal, sebenarnya Inggris dan Prancis jugalah yang membuat keributan itu melalui tangan para agennya di wilayah tersebut, seperti Niven Moore, konsul Inggris di Beirut dan saudaranya, Richard wood.

Perselisihan semacam ini dijadikan alasan bagi Inggris dan Prancis untuk ikut campur dalam urusan Lebanon. Prancis bekerja sama dengan orang Kristen Maronit, sedangkan Inggris bersekongkol dengan orang Druze, akhirnya menyebabkan keributan lagi pada tahun 1845.

Serangan ini meluas sampai ke gereja dan biara. Pencurian, pembunuhan, dan perampokan menjadi hal yang biasa terjadi menyebabkan pemerintah Utsmani memerintahkan Inspektur Urusan Luar Negeri untuk datang ke Lebanon dan menggunakan otoritasnya guna menyelesaikan kerusuhan. Akan tetapi, utusan ini pun tidak dapat berbuat apa-apa, sekalipun ia dapat mengurangi ketegangan di sana.

Sementara itu, kaum misionaris makin mengintensifkan kegiatannya dan pada tahun 1857 orang Maronit mulai menyerukan revolusi dan perjuangan bersenjata. Pendeta Maronit membujuk para petani agar bergerak melawan tuan-tuan tanah dan menyerangnya dengan ganas di wilayah utara.

Demikianlah, revolusi dimulai dan kemudian lambat laun berkembang ke selatan. Para petani Kristen sekarang bangkit melawan tuan tanah Druze, sedangkan Inggris dan Prancis berdiri di belakang menyokong sekutu mereka masing-masing.

Akibatnya, keributan dan kerusuhan merata ke seluruh Lebanon. Orang-orang Druze mulai membantai orang-orang Kristen tanpa pandang bulu, baik pendeta ataupun orang biasa. Keributan ini akhirnya menyebabkan terbunuhnya lebih dari sepuluh ribu orang Kristen dan banyak pula yang terpaksa diungsikan ataupun kehilangan tempat tinggalnya.

Keributan di wilayah Lebanon akhirnya meluas ke seluruh Syam. Di Damaskus, propaganda kejam yang penuh kebencian diembuskan di antara orang-orang Islam dan orang Kristen yang akhirnya menyebabkan orang Islam menyerang daerah orang Kristen pada tahun 1860. Keributan ini disertai dengan perampokan dan perusakan massal, sampai negara terpaksa melakukan intervensi militer untuk mengakhiri kerusuhan tersebut.

Sekalipun negara Khilafah berhasil menenangkan suasana, akan tetapi negara-negara Barat memandang bahwa hal ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk mengadakan intervensi ke Syam dan mengirim kapal-kapal perang di tepi-tepi pantainya.

Pada bulan Agustus 1860, Prancis mulai mengirimkan satu divisi tentaranya ke Beirut yang mulai melakukan aksi memadamkan revolusi.

Demikianlah, Negara Utsmani dilanda berbagai kerusuhan di Suriah dan Lebanon. Penyebabnya sesungguhnya adalah campur tangan negara Barat dalam urusan dalam negeri Khilafah Utsmaniyah. Mereka berhasil memaksa Turki untuk membentuk suatu otonomi terpisah di Suriah, membaginya dalam dua provinsi, dan memberikan hak-hak istimewa kepada Lebanon.

Dari kejadian inilah, akhirnya Lebanon bisa terpisah dari keseluruhan wilayah Syam dan ia pun diberi hak otonomi daerah, diatur oleh pemerintahan daerah yang dipimpin oleh penguasa Kristen, serta dibantu oleh badan administrasi yang mewakili penduduk lokal.

Sejak saat itu, negara-negara asing dapat mengatur urusan di Lebanon dan menjadikannya pusat kegiatan mereka. Karena itulah, maka Lebanon menjadi jembatan penghubung kekuatan asing yang melakukan penyusupan ke dalam jantung negara Islam dan negeri kaum muslimin. [MNews/Rgl]

Sumber: Sejarah Nasionalisme di Dunia Islam, Shabir Ahmed dan Abi Karim

Tinggalkan Balasan