Perjuangan Palestina Bukan Gerakan Nasionalisme


Penulis: Wiwing Noeraini


MuslimahNews.com, FOKUS — Kepedulian muslim Indonesia terhadap saudaranya seakidah, muslim Palestina, patutlah diacungi jempol. Bantuan dana terus digalang, doa pun mengalir, berbagai seruan mengirim pasukan untuk mengusir tentara Israel laknatullah ‘alaihi menggema. Semuanya peduli, karena mereka adalah muslim, mereka saudara kita. Allah yang menyatakan demikian (lihat QS Al-Hujurat [13]: 10).

Terlebih, masalah Palestina bukan hanya masalah rakyat Palestina, tapi masalah kaum muslimin seluruhnya. Membela Palestina adalah masalah akidah, masalah agama. Palestina adalah negeri yang tak bisa dipisahkan dengan ajaran Islam.

Namun sayang, ada sebagian pihak yang menganggap bahwa perjuangan membebaskan Palestina hanyalah gerakan nasionalisme rakyat Palestina. Sehingga, yang bisa kita lakukan cukup mendukung kemerdekaan Palestina, tak lebih.

Pendapat demikian disampaikan oleh Wakil Direktur Eksekutif International Conference of Islamic Scholars (ICIS) K.H. Khariri Makmun Lc., M.A., “… kita meminta masyarakat untuk kembali kepada sikap pemerintah. Mendukung langkah-langkah pemerintah yang mendukung Palestina melalui nasionalisme Palestina,” ujarnya.[1]

Pendapat senada disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Muayyad Windan, Sukoharjo Drs. K.H. Mohammad Dian Nafi, M.Pd. yang mengatakan bahwa perjuangan Palestina hendaknya dibaca sebagai gerakan nasionalisme rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai negara yang berdaulat.

Bangsa Palestina sedang berjuang untuk memulihkan kedaulatan politiknya sebagai bangsa yang merdeka. Untuk perjuangan itu penumbuhan kerukunan kebangsaan Palestina tentu menjadi keniscayaan,” ujar Mohammad Dian Nafi di Sukoharjo, sebagaimana rilisnya, Selasa (25/5/2021).[2]

Menyalahi Fakta Sejarah

Menjadikan perjuangan pembebasan Palestina hanya sebagai gerakan nasionalisme rakyat Palestina adalah menyalahi fakta sejarah. Sejak Khalifah Umar bin Khaththab ra. menaklukkan wilayah ini dan menggabungkannya dalam bagian Negara Khilafah Islamiah, sejak saat itu Palestina menjadi milik kaum muslimin seluruhnya, dengan Khilafah sebagai penjaganya.

Dalam sejarah diceritakan bahwa kaum salibis dapat menguasai Yerusalem pada 1099 M dan mendirikan Kerajaan Kristen di atasnya dengan Godfrey dari Boulogne sebagai Pangeran. Maka, kaum muslimin pun berusaha mengambilnya kembali dengan jihad. Hingga pada 1187 M wilayah itu dapat direbut kembali oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Shalahuddin al-Ayyubi melalui Perang Hittin.

Para Khalifah di sepanjang masa Kekhilafahan Islam menjaga dengan sekuat tenaga agar tak ada sejengkal pun tanah Palestina yang jatuh ke tangan musuh musuh Islam.

Lihatlah, bagaimana pernyataan Khalifah Sultan Abdul Hamid II ketika Theodore Hertz mendatanginya dan berusaha membujuk dan menyuap Khalifah dengan uang sebesar 150 juta Pound sterling (setara Rp3 triliun) untuk mendapatkan tanah Palestina.

Baca juga:  Gaza Kembali Terluka, Siapa Sudi Membela?!

Sultan Abdul Hamid II menolak. Ia berkata, “Aku tidak dapat memberikan walau sejengkal dari tanah ini (Palestina) karena ia bukan milikku. Ia adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi bumi ini. Mereka telah membasahi tanahnya dengan darah-darah mereka.”

Sungguh, Khalifah Abdul Hamid berusaha menjaga Palestina dengan penjagaan yang luar biasa karena menyadari bahwa Palestina bukan hanya urusan penduduknya tapi juga urusan kaum muslimin di bawah kepemimpinannya.

Maka jelaslah, perjuangan pembebasan Palestina dari dulu hingga sekarang, bahkan hingga seterusnya bukanlah gerakan nasionalisme, tapi perjuangan Islam.

Klaim bahwa perjuangan Palestina adalah gerakan nasionalisme rakyat Palestina hakikatnya untuk membentuk opini bahwa solusi Palestina adalah cukup dengan memberikannya kemerdekaan dan berdampingan secara damai dengan negara Israel (solusi dua negara). Padahal, solusi yang demikian sama saja dengan kita biarkan tanah Palestina direbut oleh Yahudi dan menyisakan sedikit untuk rakyat Palestina. Tentu ini adalah solusi yang batil dan tidak sesuai dengan Islam. Tanah Palestina adalah tanah milik kaum muslimin, maka harus dikembalikan kepada kaum muslimin seluruhnya.

Hari ini, Palestina sudah tak memiliki lagi junnah atau perisainya. Penjaganya yaitu Khilafah telah tiada. Inilah penyebab kaum muslimin tak mampu mengambil kembali Palestina. Bahkan, sebagian umat Islam pun terjebak dengan solusi nasionalisme dalam penyelesaian Palestina.

Ukhuwah Islamiah, Ikatan Suci

Dulu, umat ini bersatu menjadi sebuah negara besar, kuat serta tangguh tak terkalahkan, yaitu negara Khilafah Islamiah. Kaum muslimin yang berada di berbagai wilayah bergabung menjadi satu, semua dalam penjagaan dan perlindungan negara Khilafah. Demikian juga Palestina, berada dalam keadaan aman dan terjaga dari tangan tangan musuh Islam.

Khilafah telah menyatukan umat manusia dari berbagai suku, ras, bangsa, dan negara dengan ikatan akidah. Mereka memegang erat tali agama Allah dengan sekuat kuatnya. Mereka paham sekali bahwa Allah Swt. memerintahkan yang demikian.

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.(QS Ali Imran [3] : 103)

Baca juga:  Pembebasan Masjidilaqsa

Ukhuwah islamiah menjadi ikatan suci yang tak kenal batas-batas wilayah. Setiap muslim meyakini bahwa sesama muslim adalah bersaudara dan mereka ibarat satu tubuh.

Lihatlah, saat Perang Salib di Palestina, Shalahuddin al-Ayyubi datang dari Mesir untuk membebaskan wilayah tersebut (1187 M). Yusuf bin Tasifin juga melakukan hal yang sama, ketika kaum Salibis menduduki Andalusia, Spanyol (1109 M).

Bantuan Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki juga diberikan kepada Kesultanan Aceh saat berjuang mengusir Belanda. Sungguh, hanya Khilafah yang mampu menjadi penjaga ukhuwah Islamiyah.

Nasionalisme, Penghancur Ukhuwah

Selama 1.300 tahun lebih masa Kekhilafahan Islam, negara-negara kafir Barat selalu berusaha menjatuhkan Khilafah dengan berbagai cara. Sudah tak terhitung berapa kali terjadi peperangan antara pasukan negara Khilafah dengan pasukan negara-negara kafir tersebut. Namun, berbagai peperangan ini tak mampu sedikit pun menggoyahkan kekuasaan Islam di bawah kepemimpinan Khalifah.

Maka, mereka pun berpikir keras, hingga akhirnya menemukan cara jitu menghancurkan Khilafah, yaitu dengan melemahkannya kemudian memecah belah persatuan umatnya. Dihembuskanlah ide nasionalisme yang menanamkan kecintaan kepada tanah air dan bangsa lebih daripada kecintaan kepada Allah dan agama-Nya.  Akhirnya, ikatan akidah itu perlahan lenyap tergantikan dengan ikatan nasionalisme. Barat pun menciptakan garis-garis imajinatif untuk memecah belah umat, yaitu nation state (negara bangsa).

Nasionalisme muncul dibawa para misionaris Barat (Inggris, Prancis, dan Amerika) pada akhir abad ke-16. Gerakan misionaris ini menghasilkan dua hal. Pertama, menjauhkan kaum muslimin dari pemahaman yang benar tentang Islam, dengan memasukkan keraguan dan menyuntikkannya ke dalam benak kaum muslimin untuk memengaruhi akidah mereka. Kedua, untuk menciptakan kesenjangan antara orang-orang Turki, Persia, dan Arab, sebagai benih awal menanamkan racun nasionalisme.

Barat—di bawah kepemimpinan Inggris—makin gencar menyerukan nasionalisme untuk memerangi persatuan kaum muslimin. Di pemerintahan pusat kaum muslimin di Turki, khususnya kepada para pemuda, didengungkan bahwa mereka harus bersatu berdasarkan nasionalisme Turki, jangan mau menanggung beban negara lain seperti Arab, India,, Mesir dan sebagainya. Sementara, untuk wilayah-wilayah di luar Turki mereka menyerukan kemerdekaan, jangan mau dijajah Turki yang diktator.

Baca juga:  [Sejarah Nasionalisme] Upaya Kaum Kafir Menghancurkan Ikatan Ideologis

Gerakan ini berhasil pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Berbagai organisasi yang mempersiapkan pemisahan dari Turki Utsmani mulai bermunculan. Organisasi-organisasi tersebut antara lain adalah Partai Al-Fatah Turki, Partai Persatuan dan Pembaharuan (juga dikenal dengan sebutan Turki Muda), Partai Kemerdekaan Arab, dan Partai Perjanjian (Al-Ahd).

Revolusi melawan Turki Utsmani ini diorganisir dan dibiayai oleh Barat. Demikian juga dengan tokoh-tokoh kuncinya, misalnya Syarif Hussain di Makkah yang dibayar 200.000 pound sebulan oleh Kantor Urusan Luar Negeri Inggris untuk menyebarkan nasionalisme dan kemerdekaan Arab. Bayaran sebesar itu dijanjikan kepadanya melalui Mc Mohan, Komisioner tinggi Inggris di Mesir pada tahun 1916.[3]

Gerakan nasionalisme betul-betul mencapai hasilnya pada tahun 1924, hingga memecah belah persatuan Khilafah Utsmaniyah menjadi lebih dari 51 negara. Setelah Khilafah Utsmaniyah hancur, agar Turki tetap mengemban nasionalisme, maka diganti dengan Republik Turki (sekuler) yang dijaga ketat oleh militer yang sangat kuat. Dan akhirnya, Islam dipisahkan dari kehidupan dan hukum Islam diharamkan mengatur urusan publik.

Untuk mempertahankan hegemoninya terhadap dunia Islam, Barat dan Yahudi sampai sekarang tetap menjaga sekularisme dan ide-ide turunannya yang lain. Mereka tetap ”menjaga” perpecahan yang telah diciptakan pada umat Islam serta menghalangi bangkitnya kekuatan Islam dan tegaknya Daulah Khilafah Islamiah.

Persekongkolan antara Yahudi dan Barat di bawah pimpinan Inggris dalam penghancurk=an Khilafah Islamiah sungguh tersusun secara sistematis dan rapi. Mereka menebarkan racun yang mematikan yaitu ide-ide yang merusak berupa demokrasi, nasionalisme serta toleransi terhadap berdirinya negara Israel. Ibarat seperti racun berbalut madu, semuanya dibungkus dengan madu sehingga kaum muslimin tidak mengetahui racunnya.

Akhirnya, Khilafah Islamiah hancur. Hilanglah sistem pemerintahan yang mempersatukan seluruh kaum muslimin dan menerapkan seluruh hukum Islam. Ukhuwah islamiah musnah, kaum muslimin pun berpecah belah. Negeri-negeri kaum muslimin menjadi negara yang lemah di bawah dominasi dan hegemoni negara kafir Barat. Inilah yang diharapkan Barat dengan nasionalisme.

Maka, tak seharusnya perjuangan pembebasan Palestina dibingkai dengan nasionalisme. Sebaliknya, hendaklah perjuangan ini terus dibingkai dalam perjuangan penegakan Khilafah karena itulah solusi tuntas bagi Palestina. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews/Gz]

Referensi:

https://www.antaranews.com/berita/2180142/kh-khariri-waspadai-narasi-khilafah-di-konflik-palestina

https://s[dot]id/BiKrc

Shabir Ahmed dan Abid Karim, Akar Nasionalisme di dunia Islam, Bangil Jatim, Al Izzah, tahun 1997, cetakan pertama hal. 53

Tinggalkan Balasan