[News] Sokongan kepada Israel, Pengingkaran terhadap Realitas dan Jati Diri Muslim

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — Aktivis muslimah, Ustazah Iffah Ainur Rochmah menyampaikan, di Indonesia secara lugas ada yang berani menyatakan sokongan kepada Israel.

Berdasarkan survei SMRC akhir Mei lalu, setelah gencatan senjata agresi Israel ada 2% responden yang menyatakan dukungan terhadap Israel dengan alasan mereka punya hak membela diri dan agresi ini dipicu persoalan kelompok di Palestina.

Ia menilai tahun 2021 menandai sebuah babak baru bagaimana peta solidaritas umat Islam di Indonesia sekaligus peta dunia internasional dan masyarakat umum terhadap persoalan Palestina.

“Ada fenomena pernyataan yang vulgar mendukung Israel. Bahkan mereka terus berkampanye provokatif agar  melihat persoalan ini dari sudut pandang Israel,” terangnya.

Ia melihat ada aspek lain yang bisa digali, yaitu wujud kesadaran yang makin utuh terhadap krisis Palestina dan harapan mendapat gambaran yang sempurna tentang solusi Islam.

Hanya saja ia menyayangkan, ada mantan pejabat yang menyatakan kenapa harus menganggap persoalan Palestina ini persoalan yang besar atau bahwa negara kita juga banyak persoalan. Pejabat itu juga menyatakan, kalau menganggap di sana butuh bantuan, di sini juga butuh bantuan; kalau menggalang dana untuk Palestina, di sini juga dana tersebut sangat dibutuhkan.

Maka, Ustazah Iffah menegaskan, pernyataan semacam ini adalah pengingkaran terhadap realitas. Jika dilihat dari survei SMRC, 65% masyarakat menyatakan ini problem penting dan umat Islam harus perhatian dengan persoalan Palestina. Bahkan ketika ditanya apakah ini menyangkut agama, mereka mengiyakan.

“Menariknya lebih dari 75% responden milenial yang mereka sebut sebagai Generasi Z, menyebut ini problem yang menyangkut agama. Mereka yang terhubung dengan media sosial dan mendapat banyak informasi sehingga bisa berkesimpulan seperti itu,” jelasnya.

Baca juga:  [News] Menekan Agresi Israel dengan Menguatkan Kemitraan AS dan Otoritas Palestina?

Ada pula yang menyatakan ini mestinya tidak perlu mendapat perhatian sebesar yang dilakukan masyarakat. Namun dari survei SMRC dikatakan bahwa pemerintah seharusnya berbuat lebih daripada yang sudah dilakukan. Jangan cuma mengecam tetapi action yang lebih nyata untuk membantu saudara-saudara di Palestina.

Ia menyampaikan pernyataan sokongan kepada Israel juga adalah pengingkaran bahwa umat Islam ini satu tubuh. Kalau di sana ada persoalan, maka di Indonesia tidak bisa menganggap tidak ada persoalan atau menganggap ini problem mereka sendiri.

Allah Swt. berfirman, “Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Anfal: 72).

Kaum muslimin Palestina menghadapi agresor dan mereka bertahan mempertahankan tanah ribath, tanah kharaj. Sehingga, menurutnya, mestinya kita membantu mereka. Semua bentuk pertolongan yang dibutuhkan harusnya diupayakan untuk bisa dipenuhi.

Ia menunjukkan, walaupun jumlahnya kecil, akan tetapi dukungan kepada Israel itu kontra dengan detak umat Islam, dan bisa jadi ada kepentingan di baliknya. Meski tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel tetapi Indonesia punya hubungan dagang yang volumenya sedang puncak-puncaknya.

“Pada 2020 volume perdagangan mencapai sekitar 214 juta dolar. Dan 73%-nya adalah ekspor Indonesia,” jelasnya.

“Ini bentuk pengingkaran jati diri sebagai seorang muslim, dan mengingkari realitas bahwa umat Islam di Indonesia ini tidak bisa dipisahkan dari apa yang dirasakan sesama mereka di Palestina,” tambahnya.

Baca juga:  Tank Israel Bombadir Gaza, Dua Warga Palestina Tewas

Penyelesaian Krisis Palestina Butuh Kepemimpinan Berorientasi Hukum Islam

Ustazah Iffah menyampaikan cara menyelesaikan krisis Palestina adalah dengan menghapus eksistensi pendudukan Israel di tanah Palestina. Mereka menggunakan kekuatan fisik, kekuatan militer, kekuatan lobi internasional yang di-backup negara adidaya maka penyelesaiannya tidak mungkin dengan menyerahkannya kepada kemampuan kaum muslimin Palestina kemudian kita sokong dana dan senjata. “Tetapi memang membutuhkan kepemimpinan yang benar-benar berorientasi pada hukum-hukum Islam,” tegasnya.

“Kepemimpinan Islam ini tentu diharapkan muncul dari dunia Islam, muncul dari keinginan seluruh kaum muslimin untuk menerapkan seluruh syariat pada aspek politik dan pemerintahan. Dan kaum muslimin memiliki seorang pemimpin dan mengambil Islam sebagai konstitusi dan perundang-undangannya,” imbuhnya.

Ia menggambarkan saat Islam ditegakkan maka, menurut istilah para fuqaha, kita mengenalnya sebagai sistem Khilafah. Sistem ini terbukti mampu menghalangi musuh-musuh Islam dan kaum muslimin untuk menganeksasi wilayah. Menghalangi mereka mencaplok sebuah wilayah apalagi sampai menduduki secara brutal seperti apa yang dilakukan Israel. Bahkan dalam kondisi sangat lemah, kepemimpinan Islam dalam Khilafah masih menunjukkan kekuatannya untuk tidak menyerahkan tanah Palestina meskipun hanya sejengkal kepada zionis Israel.

Untuk itu, menurutnya, pertemuan pemimpin kaum muslimin saat ini tidak cukup hanya dengan formalitas dan konsolidasi di atas kertas. Harus dipertanyakan oleh publik, karena yang dibutuhkan bukan sekadar diplomasi tapi harus muncul kesamaan persepsi terhadap rekomendasi Islam yang termaktub dalam fikih siyasah.

Jadi pemimpin-pemimpin tersebut sangat layak bertemu dan membahas bahwa sudah terlalu banyak pelanggaran hukum syariat dan pengingkaran terhadap hukum-hukum Allah yang terjadi saat ini. Di dalam pemberlakuan sistem politik sekuler, dalam kebijakan-kebijakan yang tidak merujuk pada syariat. “Dan ini harus diakhiri. Mengakhirinya adalah dengan sebuah spirit ingin mendapatkan solusi hakiki yaitu yang berasal dari Islam. Dan tidak bisa terwujud kalau tidak kembali kepada Islam secara sempurna kecuali dalam sistem kepemimpinan Islam,” urainya.

Baca juga:  [Tapak Tilas] Pembebasan Wilayah Syam yang Fenomenal

Salah satu jalan menapaki terwujudnya kepemimpinan Islam, lanjutnya, adalah dengan kesadaran pemimpin-pemimpin kaum muslimin. Dimulai dengan kesadaran kaum muslimin bahwa yang dikehendaki bukanlah solusi abal-abal atas krisis Palestina, tetapi solusi Islam yang mesti dipahami kaum muslimin yaitu diusirnya Israel dari bumi Palestina. “Sehingga bisa dikembalikan hak tanah kaum muslimin ini kepada pemilik sahnya yaitu kaum muslimin,” ucapnya.

Ia menambahkan jika membutuhkan kekuatan militer, maka seharusnya dikerahkan. Adalah kewajiban bagi setiap yang mengemban amanah kepemimpinan untuk bisa menolong agama Allah. Menolong apa yang diperintahkan Allah dengan menggunakan potensi yang dimiliki, yaitu kekuatan umat, kekuatan politik, dan kekuatan militer  untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah.

“Kalau harus mengirim militer, seluruh pemimpin kaum muslimin harusnya menyadari itu. Kalau hitung-hitungan teori saja memang membenarkan, apalagi di dalam syariat juga diperintahkan untuk itu. Maka ada dua manfaat yaitu menunjukkan solidaritas kepada yang tertindas di Palestina, dan sudah pasti  mendapatkan pahala dan rida Allah. Selanjutnya Allah akan berikan kemenangan kepada siapa saja yang menolong agama-Nya,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan