[Hadits Sulthaniyah] ke-34: Imam Laksana Perisai

Hadis mengenai “Beberapa Aspek Penting dalam Pemerintahan dan Persatuan” (Hadis ke-31—39)


MuslimahNews.com, HADITS SULTHANIYAH — Hadis ke-34: “Sesungguhnya seorang Imam (penguasa) itu (bagaikan) perisai. Orang-orang berperang di belakangnya, dan juga berlindung dengannya. Maka jika ia memerintah (berdasarkan) takwa kepada Allah Ta’ala dan berlaku adil, maka baginya pahala. Akan tetapi jika ia memerintah tidak dengan (takwa kepada Allah dan tidak berlaku adil) maka ia akan mendapatkan balasannya.” (HR Muslim No. 3428)

Penjelasan:

a. Imam Nawawi menjelaskan bahwa perisai bermakna sebuah pelindung bagi orang-orang yang berada di belakangnya, karena seorang Imam menjadi sebuah perisai yang melindungi kaum muslim dari musuh-musuh mereka. Perlindungan tersebut dilakukan dengan mengorganisasi tentara, menjaga perbatasan, serta menyerukan jihad fi sabilillah.

b. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa seorang Imam juga berfungsi laksana sebuah perisai, yang melindungi kaum muslim agar mereka tidak saling menganiaya satu dengan yang lain. Hal ini dilakukan dengan menyelesaikan persengketaan di antara mereka, mengangkat para kadi (hakim), serta menerapkan syariat Islam.

c. Kata “innama”–sesungguhnya–menurut kaidah bahasa bermakna pembatasan. Maka, hadis tersebut memberikan batasan bahwa selain imam, tidak ada lagi orang yang dapat menjalankan fungsi sebagai perisai bagi kaum muslim.

Baca juga:  [Hadits Sulthaniyah] ke-31: Pemerintahan, Simpul Islam yang Menjadi Tempat Bergantungnya Perkara-Perkara Lainnya

d. Manakala kita melihat realitas saat ini, ketika kaum muslim menjadi sasaran penganiayaan dan penyiksaan, kita dapat segera memahami bahwa faktor utama di balik serangan dan penganiayaan yang terbuka dan terus-menerus atas kaum muslim tersebut adalah karena tidak ada satu pun penguasa negeri-negeri muslim saat ini yang benar-benar mewakili kepentingan penduduknya, sekaligus mewakili kepentingan Islam. Sebaliknya, sepanjang sejarah Negara Khilafah Islam, negara-negara asing tidak berani sembarangan menumpahkan darah kaum muslim, jika tidak ingin mendapatkan balasan yang setimpal dari Negara Khilafah.

e. Seorang Imam bukanlah manusia yang sempurna. Dia dapat melakukan perbuatan yang hak, yang untuk itu dia mendapatkan pahala. Sebaliknya, dia juga bisa melakukan kezaliman, dan untuk itu harus ada upaya koreksi (muhasabah) terhadap kezaliman tersebut. Demikianlah, Imam bukanlah manusia yang maksum serta tidak terbebas dari kesalahan dan koreksi. [MNews/Gz]


Sumber: Abu Lukman Fathullah, 60 Hadits Sulthaniyah (Hadits-Hadits tentang Penguasa), 2010

Tinggalkan Balasan