[Tapak Tilas] Pembebasan Wilayah Syam yang Fenomenal


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Selain Irak, kawasan yang menjadi target pembebasan dan dakwah Islam di masa kepemimpinan khalifah Abu Bakar ra. adalah Bilad Asy-Syam alias Suriah.

Kala itu, Syam telah lama menjadi salah satu wilayah pengaruh kekaisaran Romawi atau Bizantium Timur. Namun, persinggungan misi dakwah negara Islam dengan wilayah Syam ini sebetulnya sudah terjadi sejak masa Rasulullah saw.

Foto: Lokasi Bumi Syam, yasyabab.files.wordpress.com

Tepatnya tatkala beliau mulai melebarkan sayap dakwahnya setelah berhasil menstabilkan kondisi internal dan berhasil mengisolir kekuatan Quraisy dari kalangan Yahudi dan bangsa Arab lainnya melalui perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 H.

Hal itu ditandai dengan aktivitas beliau ketika mengutus beberapa delegasi terbaiknya kepada para penguasa negara kafir, baik di jazirah maupun di luar jazirah.

Mereka semua beliau tugasi menyampaikan surat yang berisi ajakan untuk menerima Islam dan atau tunduk kepada kekuasaan Islam.

Merintis Dakwah dan Pembebasan Syam

Di antara delegasi itu ada yang dikirim kepada para penguasa Syam. Namun di tengah jalan mereka dibunuh secara sadis oleh para antek Romawi.

Peristiwa inilah yang melatari terjadinya perang Mu’tah (tahun 8 H) yang sangat fenomenal dan heroik itu.

Mu’tah sendiri ada di perbatasan Sungai Jordan tepatnya di dataran Balqa negeri Syam. Jaraknya lebih dari 1.000 km dari Madinah.

Pada perang ini pasukan Muslim yang jumlahnya hanya 3.000 orang nyaris kalah oleh 100.000 pasukan Romawi yang berkoalisi dengan 100.000 suku-suku Arab Kristen lainnya.

Namun berkat pertolongan Allah, di detik-detik paling kritis saat tiga komandan yang ditunjuk Rasulullah gugur, tampillah sosok Khalid Bin Walid ra.

Dengan kecerdikannya, akhirnya ia berhasil membuat pasukan Muslim mampu menakut-nakuti dan memorak-porandakan pasukan musuh.

Persinggungan berikutnya terjadi pada tahun ke 9 H. Yakni ketika penguasa Romawi sengaja melakukan manuver di bagian Utara jazirah Arab untuk menebus kekalahan mereka pada perang Mu’tah.

Inilah yang melatari perang Tabuk yang tak kalah fenomenal. Karena selain medannya sangat jauh, cuacanya pun sangat ekstrem.

Di perang ini terkumpul pasukan muslim sebanyak 30.000 orang. Mereka berangkat menjemput syahid dengan penuh semangat hingga sampai ke daerah Tabuk yang jaraknya lebih dari 620 km dari kota Madinah.

Di Tabuk inilah mereka berkemah sekitar 20 hari untuk menunggu respon dari pasukan musuh.

Namun alih-alih melawan. Kenyataan ini justru membuat Heraklius, Kaisar Romawi begitu terkejut.

Ia menyadari bahwa kekuatan kaum muslimin tak bisa dipandang sebelah mata. Maka ia pun memutuskan untuk mengurungkan niatnya bertempur dengan pasukan muslimin di Tabuk.

Itulah rintisan awal penaklukan wilayah Syam. Upaya-upaya ini terus dilakukan oleh Rasulullah saw. hingga sebelum wafat pun, beliau sempat memerintahkan Usamah Bin Zaid dan pasukannya melanjutkan misi penaklukan wilayah Syam.

Posisi Strategis Wilayah Syam

Di masa Rasulullah saw., pasukan Muslim memang belum berhasil melakukan pembebasan wilayah Syam.

Baca juga:  Kejam, Gadis Palestina Gugur Syahid Ditembak Penjajah Israel

Namun seluruh upaya ini telah berhasil membangun wibawa negara Islam di kancah politik internasional. Khususnya di hadapan negara adidaya Romawi yang dikenal tak terkalahkan.

Syam sendiri adalah negeri yang sangat subur, terutama dengan hasil pertanian dan buah-buahan. Dikenal pula sebagai negeri para Nabi dan disebut sebagai negeri kebaikan atau negeri yang penuh berkah.

Di sana terdapat tempat suci yang menjadi kiblat pertama umat Islam dan tempat isra’-nya Rasulullah saw., yakni Baitulmaqdis alias Masjidilaqsa. Juga menjadi tempat hijrahnya Nabi Ibrahim serta menjadi pusat kerajaan Sulaiman.

Konon, nama Syam mengacu pada salah satu nama putra Nabi Nuh yang selamat dari musibah banjir, Sam. Dari Sam ini lahir bangsa Semit sebagai moyang penganut agama Yahudi, Nasrani, dan kemudian Islam.

Jika dikonversi ke masa hari ini, wilayah Syam sesungguhnya merujuk kepada beberapa negara yaitu Lebanon, Suriah, Yordania, dan Palestina.

Jadi bisa dibayangkan betapa luas dan strategisnya wilayah ini di kawasan Timur Tengah dan dalam konstelasi politik internasional.

Adapun posisi wilayahnya, Syam terletak di timur Laut Mediterania, barat Sungai Efrat, utara Gurun Arab dan sebelah selatan Pegunungan Taurus. Adapun jarak dari kota Madinah ke pusat kota terbesar Syam yakni Damaskus, sekira lebih dari 1.300 km.

Foto: Mesjid Umayyah di Damaskus pernah jd pusat peradaban Islam, republika.co.id

Saat sayidina Abu Bakar diangkat menjadi khalifah menggantikan Rasulullah, pembebasan wilayah Irak dan Syam pun menjadi salah satu visi politik luar negerinya.

Namun upaya mewujudkan visi ini baru dimulai setelah beliau menyelesaikan problem instabilitas di wilayah kekuasaan Islam, berupa munculnya gerakan riddah, nabi palsu dan  kasus-kasus bughat (pemberontakan).

Baru di sekitar tahun 632 M, beliau mulai membentuk beberapa pasukan ekspedisi untuk menaklukkan imperium Persia yang berpusat di Madain Irak dan membebaskan wilayah Syam dari kekuasaan imperium Romawi.

Pasukan penaklukan Irak dipimpin oleh beberapa komandan yang ditempatkan di berbagai arah.l, dan akhirnya mencapai tujuan menaklukkan Irak melalui perang Yamamah.

Begitu pun dengan misi penaklukan negeri Syam. Khalifah Abu Bakar tampak begitu serius menjalankan misi yang telah dirintis  Rasulullah saw. ini.

Beberapa pasukan dan kepemimpinannya pun disiapkan di berbagai tempat untuk menyerang Syam dari berbagai arah.

Beberapa pasukan itu adalah pasukan yang dipimpin Amru bin ‘Ash, pasukan Al-Walid bin Uqbah, pasukan Ikrimah bin Abu Jahal, pasukan Khalid bin Sa’id bin Al-‘Ash, pasukan Abu Ubaidah al-Jarrah, pasukan Muawiyyah bin Abi Sufyan,  pasukan Yazid bin Abi Sufyan, serta pasukan Surahbil Bin Hasanah, radhiyyallaahu ‘anhum.

Juga termasuk pasukan Khalid Bin Walid dan Mutsanna Bin Haritsah yang terlebih dahulu telah berhasil memenangkan misi penaklukan wilayah Irak yang berbatasan langsung dengan wilayah Syam.

Syam Bebas pada Masa Umar

Semua usaha ini memang belum membuahkan hasil sepenuhnya di masa khalifah Abu Bakar.

Baca juga:  Sistem Ini Tidak Akan Melindungi Muslim Palestina

Namun satu demi satu kota-kota penting di kawasan Syam ditaklukkan, mulai dari gerbang pertama Syam, yakni Bushra, Ajnadayn, Fihl Jordania, Palestina, hingga kota metropolis Damaskus (635 M).

Selanjutnya, kota-kota lain pun ditaklukkan. Hingga di tahun 636 M terjadi Perang dahsyat antara pasukan Muslim dan pasukan Heraklius di Yarmuk. Yakni sebuah daerah di sebelah Timur Yordania yang disebut oleh Philip K. Hitti dalam bukunya History Of Arabs (halaman 189 terjemahan) sebagai daerah paling panas di muka bumi.

Foto: Peta Perang Yarmuk, selasar.comPerang antara 50.000 pasukan Romawi dengan 25.000 pasukan Muslim ini berakhir dengan kemenangan pasukan Muslim, dan momen yang menandai berakhirnya kekuasaan Romawi di wilayah Syam ini justru terjadi di masa kepemimpinan Sayyidina Umar ra..

Maka beliaulah yang mengatur segala sesuatu terkait kepemimpinan di wilayah Syam. Di antaranya, beliau segera mengangkat Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai wali atau gubernur yang mewakili Khalifah dalam aspek politik dan turunannya.

Di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah dan pasukan Khalidlah misi pembebasan kota-kota lain di kawasan Syam disempurnakan.

Hingga Antiokia, Allepo, Qinnasrin, Yerusalem, dan Caesarea dan lainnya benar-benar bisa ditaklukkan di tahun 640 M.

Dampak Pembebasan Syam

Dalam buku yang sama halaman 191, Hitti menggambarkan situasi Syam pasca penaklukan oleh Islam. Ia menuliskan pernyataan yang dinisbahkan pada orang-orang Himsh yang menurutnya merepresentasi pandangan masyarakat Syam (Suriah) secara keseluruhan.

Kami jauh lebih menyukai pemerintahan dan keadilan kalian ketimbang negara penindas dan tiran yang pernah menguasai kami”

Artinya, penduduk Syam sejatinya menyambut positif kehadiran pemerintahan Islam, mengingat selama ini mereka menderita di bawah kekuasaan imperium Romawi.

Hal ini salah satunya disebabkan oleh pemaksaan bangsa Romawi terhadap penduduk asli untuk menganut budaya Hellenistik disertai penerapan kebijakan-kebijakan zalim lainnya.

Adapun ketika Islam datang, mereka justru ditempatkan sejajar dengan warga negara Islam lainnya. Jizyah hanya dipungut dari kalangan yang mampu saja.

Kompensasinya justru jauh lebih besar, berupa jaminan kebebasan menjalankan agama, serta jaminan kesejahteraan, keadilan dan keamanan dari pemerintahan Islam.

Tak heran jika saat Khalifah Umar berkunjung ke Yerusalem, Patrik Kristennya yang bernama Sophronius justru menyerahkan kunci gerbang pintu Yerusalem kepadanya.

Bahkan sebagaimana ditulis Hitti, Sophronius menemani Khalifah Umar yang sudah lanjut usia itu berkeliling ke tempat-tempat suci yang ada di sana.

Hitti juga menceritakan betapa terkejutnya Sophronius melihat kesederhanaan dan busana lusuh yang dikenakan tamu Arab-nya itu, sehingga diriwayatkan bahwa ia berkata kepada orang-orang di sana dalam bahasa Yunani, “Sungguh, inilah kesahajaan dan kegetiran yang dikabarkan oleh Daniel Sang Nabi ketika ia berdiri di tempat suci ini” (hal. 193).

Oleh karenanya, tampak jelas bahwa pembebasan Syam telah membawa dampak yang sangat positif terhadap perkembangan Islam dan dakwahnya.

Baca juga:  Nazreen Nawaz: Anak-anak Ghouta Tidak Memerlukan lagi Resolusi Kosong

Karena menurut Hitti, penaklukan yang cepat dan mudah pada wilayah yang strategis ini telah menaikkan citra Islam di mata dunia dan yang lebih penting lagi, telah menumbuhkan kepercayaan diri akan masa depannya. (Lihat hal. 193)

Faktanya, dari daerah Syam inilah kaum Muslimin mulai membanjiri Mesir, kemudian mereka bergerak membuka seluruh kawasan Afrika Utara.

Ini terjadi, terutama ketika tahun 661 M Damaskus dijadikan sebagai ibu kota negara Khilafah oleh Dinasti Umayyah yang saat itu berkuasa.

Hal ini sejalan dengan yang Hitti katakan, bahwa dengan penetapan Suriah sebagai markas utama kaum muslim ini, pembukaan Islam ke Armenia, Mesopotamia Utara, Georgia, dan Azerbaizan menjadi mungkin. Termasuk pembukaan beberapa wilayah di Asia Kecil.

Bahkan dengan bantuan pasukan dari Syam, Spanyol yang berada di pinggiran benua Eropa pun dapat diambil alih dan masuk dalam kekuasaan Islam.

Hingga di masa-masa setelahnya Spanyol bisa menjadi pusat peradaban Islam yang cemerlang dan tercatat oleh tinta emas sejarah.

Hari ini dan Masa Depan Syam

Syam hari ini memang tak seideal di masa lalu. Hilangnya payung Khilafah telah membuat wilayah ini tercerai berai menjadi beberapa negara bangsa yang tak punya posisi politik di kancah politik internasional.

Bahkan rata-rata berada di bawah bayang-bayang negara kafir penjajah. Hartanya, kehormatannya, kemerdekaannya, semua dijarah.

Kita lihat Lebanon, negeri ini begitu kental dengan sekularisme. Begitu pun dengan Yordania. Sementara Palestina, kondisinya sedang ada dalam cengkeraman penjajah Israel yang didukung negara adidaya.

Adapun Suriah, juga porak-poranda akibat perang saudara yang tak selesai-selesai dan di belakangnya juga ada peran negara adidaya.

Foto: Suriah yang porak-poranda akibat perang, mmc.tirto.id

Tentu saja tak mudah mengembalikan situasi rusak ini ke asalnya. Kemuliaan, persatuan, kehormatan muslim di Syam sejatinya memang ada pada Islam dan institusi penegaknya yakni Khilafah yang kini tiada.

Untuk mewujudkannya kembali tentu membutuhkan kerja keras dan perjuangan dari orang-orang yang karakternya setara dengan generasi awal yang telah membebaskannya.

Karakter mereka itu pernah digambarkan oleh seorang tetua dari bangsa Romawi, saat Heraklius bertanya kepadanya, mengapa kaum muslim bisa menang dan mereka bisa kalah?

Tetua itu menjawab, “Kami kalah disebabkan mereka salat di malam hari, berpuasa di siang hari, mereka menepati janji, mengajak kepada perbuatan makruf mencegah dari perbuatan mungkar dan saling jujur sesama mereka. Sementara kita gemar meminum khamr, berzina, mengerjakan segala yang haram, menyalahi janji, menjarah harta, berbuat kezaliman, menyuruh kepada kemungkaran, melarang dari apa-apa yang Tuhan ridai.”

‘Alaa kulli haalin, sebagaimana bisyarah Rasulullah, masa depan Syam memang akan kembali ke tangan kaum muslimin.

Namun kapan itu tiba? Jawabannya Allaahu A’lam. Lalu, apakah itu terjadi melalui tangan kita dan keturunan kita ? Harapannya, tentu iya. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan