[Sejarah Nasionalisme] Strategi Inggris Menjadikan Arab Lemah dan Berpecah Belah

MuslimahNews.com, SEJARAH NASIONALISME — Apa yang kita inginkan bukanlah Arabia Bersatu, tetapi Arabia yang lemah dan terpecah belah, terbagi dalam sebanyak mungkin pemerintah-pemerintah kecil di bawah kekuasaan kita tetapi tetap tidak mampu melakukan koordinasi untuk melawan kita, untuk membentuk negara penyangga melawan kekuatan di Barat. (A memorandum from the British Foreign Department of Government of India: Britain, India and Arabs, hlm. 62)

Inggris telah berusaha untuk menghasut Arab dengan nasionalismenya agar melawan kekuasaan Turki sejak awal Perang Dunia I. Impian mereka adalah untuk mengalihkan loyalitas kaum muslimin Arab dari Sultan Utsmani, yang biasanya dijuluki sebagai Khalifah atau pengganti Nabi Muhammad, kepada Hussein bin Ali, syarif di Makkah sekaligus juga seorang antek Inggris.

Secara lebih luas, visi mereka adalah untuk mengubah dunia Arab menjadi superior dengan gaya India-Inggris baik agamanya, maupun budayanya yang berkembang di bawah cengkeraman kuat kuku-kuku Inggris. Dalam tulisannya yang sangat terkenal, TE Lawrence berkata, “Ambisi saya adalah bahwa negeri Arab menjadi jajahan kita yang pertama, tetapi bukan koloni berkulit coklat yang terakhir.”

Keluarga penguasa As-Sabbah memerintah dalam masa yang lama di bawah kontrol Inggris, yang menjadikannya negara protektorat tahun 1897 dan baru meninggalkannya pada tahun 1961. Keluarga Saud di Arabia dan keluarga Hashem di Yordania dulu adalah antek Inggris dan sekarang sudah menjadi antek Amerika. (Los Angeles Times, 2 September 1990) [MNews/Rgl]

Baca juga:  Pengungsi Rohingya Butuh Institusi Khilafah

Sumber: Sejarah Nasionalisme di Dunia Islam, Shabir Ahmad dan Abid Karim

Tinggalkan Balasan