[News] Perubahan Politik Entitas Yahudi, Tidak Mengubah Sikap terhadap Palestina

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — Oposisi Israel telah membentuk koalisi baru untuk pemerintahan baru, yang akan menggulingkan Benjamin Netanyahu dari kekuasaan selama 12 tahun.

Menurut seorang psikolog asal Palestina ini adalah akhir era kelam Netanyahu. “Namun, di sisi lain, ini awal dari era kegelapan baru. Koalisi baru tidak akan berbeda dari (pemimpin) yang sebelumnya. Israel masih menduduki Palestina. Kami belum melihat akhir dari pendudukan di tahun mendatang,” ujarnya.

“Kami telah banyak menyaksikan pemimpin Israel, tetapi pembangunan permukiman (Yahudi) baru dan kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza tetap berlanjut,” tambahnya pesimis

Basem abu Shanab, seorang guru di Gaza, juga menyatakan senang bahwa penjahat Netanyahu tidak akan berkuasa lagi. Ini adalah akhir dari setiap penjahat. Tapi (Naftali) Bennett dan (Yair) Lapid adalah dua pemimpin Israel yang berencana untuk merotasi kantor perdana menteri dan tidak akan mampu membawa perubahan nyata dalam hubungan dengan Palestina.

“Kami akan tetap seperti sebelumnya, berada dalam hubungan konfrontatif dengan pendudukan, terlepas dari siapa perdana menterinya, karena pengalaman sebelumnya mengatakan tidak ada perbedaan nyata dalam kebijakan Israel terhadap Palestina,” terangnya (Kompas.com, 5/6/2021).

Tidak Akan Menghentikan Aktivitas Pemukiman

Dilansir dari salah satu media ideologis Palestina (5/6/2021), hal ini tampak dari sikap Naftali Bennett dalam wawancara TV pertamanya di saluran 12, setelah penandatanganan perjanjian koalisi, yang menyatakan pemerintahnya tidak akan menghentikan aktivitas pemukiman di Tepi Barat. Pemerintahnya juga akan melancarkan operasi militer di Gaza atau Lebanon jika perlu.

Menurut media ini, ungkapan-ungkapan jahat yang diucapkan Bennett ini berasal dari dadanya yang dengki dan arogan, yang pernah menggambarkan masalah Palestina sebagai “serpihan di belakang.”

Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan kedangkalan mereka yang mengandalkan perubahan penguasa atau koalisi yang dibentuk dalam entitas Yahudi. Hal ini sesungguhnya untuk memudahkan mereka mengambil kebijakan kriminal terhadap rakyat Palestina.

Padahal, tulisnya, perubahan formasi pemerintahan dalam entitas Yahudi tidak memengaruhi kebijakan pembunuhan, pemukiman dan pemindahan yang penuh kebencian. Kecuali ada keadaan dan liputan internasional yang memungkinkan untuk itu dan sejauh yang diperlukan oleh rencana politik yang bertujuan untuk menghentikan masalah tersebut. Bahkan jika itu membutuhkan dimulainya kembali negosiasi dan kontrol kriminalitas, dan itulah masalahnya.

Tetap Fokus Mendobrak Penghalang

Disebutnya, adalah menyesatkan jika beberapa lingkaran politik di Palestina dan luar negeri mengandalkan perubahan politik dalam entitas Yahudi. Serta mengandalkan koalisi baru yang dipimpin oleh partai-partai sayap kanan tersebut. Yang sebenarnya paling penuh kebencian dan justru mendukung pemukiman, serta pencaplokan Tepi Barat.

Ditekankannya, agar media yang jujur ​​dan sadar tetap fokus mendesak negara dan orang-orang yang berkuasa di dalamnya, serta bergegas memobilisasinya untuk mendobrak hambatan dan penghalang, kemudian menjatuhkan rezim berkuasa yang melindungi entitas Yahudi.

Juga untuk tidak memedulikan apa yang diopinikan oleh beberapa rezim dalam lingkaran politik dan media bahwa perubahan politik internal dalam entitas Yahudi dapat menghentikan kejahatan terhadap rakyat Palestina dan mencegah pembantaian terhadap mereka. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan