[Nafsiyah] Meluaskan Syukur


Oleh: Edgar Hamas


MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Aziz menasihati, “Ikatlah nikmat yang datang padamu dengan syukur pada Allah.”

Syukur itu melegakan. Apa pun keadaannya, seseorang berterima kasih pada Allah dan itu baik buat dirinya dan baik buat rezekinya. Maka, jangan lupa bersyukur hari ini.

Syukur itu bukan kita ucap hanya sesempit ketika mendapat nominal harta, atau pemberian fisik, atau sesuatu yang sifatnya materi.

Syukur ada pada mata yang kembali melihat selepas tidur; pada telinga yang masih mendengar setelah hening panjang; pada darah yang masih mengalir.

Syukur ada pada Ramadan yang kita jumpai; pada sahur dan buka dengan makanan yang cukup; pada kesempatan membaca Al-Qur’an yang hanya sebagian manusia saja diberi taufik membukanya.

Kata Ibnu Qayyim, seiring kita bersyukur, maka rantai keberlimpahan nikmat tidak akan putus. Sebab syukur adalah pengikat nikmat agar ia tak lari.

Ia juga pengetuk pintu rezeki. Itulah barangkali hikmah mengapa dalam hadisnya, Rasulullah menyatakan kalimat “hamdalah” saja bisa memberatkan timbangan amal.

Syukurmu kau yang butuhkan. Supaya lega hati dan lancar kehidupan.

Ayat syukur yang sering kita dengar adalah QS Ibrahim ayat 7,

Baca juga:  Hakikat Kufur Nikmat dan Wujud Syukur

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.'”

Tahukah kamu?

Ayat itu—dalam Tafsir Ath Thabari—adalah arahan Allah pada Bani Israil. Allah memberikan semacam “challenge“, jika mereka mau untuk bersyukur kepada Allah setelah Allah selamatkan mereka dari azab Firaun, maka Allah akan melipatgandakan nikmat-Nya pada mereka.

Tapi ternyata, untuk bersyukur tak semudah itu. Bani Israil yang baru saja diselamatkan, diingatkan tentang betapa hebatnya karunia Allah pada mereka dengan ditenggelamkannya si Firaun; sesampainya di daratan, mereka malah minta dibuatkan berhala. Asli, nyolot banget emang!

Menjadi seorang ahli syukur itu tak bisa dirasakan semua orang. Banyak yang lalai, banyak yang lupa, banyak yang diberi pertolongan di masa sulit, tapi kemudian ia jemawa setelah usai masa-masa krisisnya.

Itulah mengapa Allah berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS Saba: 13)

Maka, maukah kamu jadi yang “sedikit” itu? [MNews/Gz]

Sumber: Channel Telegram @edgarhamas

Tinggalkan Balasan