Drama Poligami dan Nikah Dini, Episode Baru Demonisasi Islam?


Penulis: Juanmartin, S.Si., M.Kes.


MuslimahNews.com, OPINI — Pembahasan mengenai poligami dan pernikahan dini sedang mencuat. Dipicu oleh sinetron yang tayang di salah satu stasiun televisi, perbincangan mengenai dua isu yang kerap diangkat untuk melakukan stigma pada syariat Islam kembali hangat diperbincangkan.

Ada beberapa hal yang menjadi sorotan publik. Salah satunya karakter pemain yang memerankan lakon sebagai istri ketiga yang dinilai tak pantas bagi pemeran yang masih berusia 15 tahun.

Meski di tengah perilaku yang serba bebas di kalangan remaja dan beragamnya film, sinetron, maupun drama lain yang juga menyuguhkan berbagai adegan dewasa, sinetron yang sedang ramai diperbincangkan saat ini sepertinya beda.

Beda saat alur ceritanya mengenai poligami. Ini yang sebenarnya menjadi sebab munculnya reaksi berlebihan. Sebab, jika dikatakan adanya adegan tak pantas, bukankah nyaris seluruh drama remaja yang wira-wiri di layar kaca bahkan media sosial konten yang disajikan tak lebih dari kisah yang mengumbar cinta receh penuh hawa nafsu?

Tentu aneh dengan reaksi berbeda yang ditunjukkan publik dan opini yang digulirkan. Belum lagi tanggapan publik terkait alur cerita dari sinetron tersebut dianggap permisif terhadap pernikahan anak.

Anggapan ini tentu perlu dianalisis, agar publik tidak terjebak dalam narasi sesat kaum liberal. Mengingat beberapa tahun terakhir, sejumlah organisasi maupun LSM perempuan ramai menggaungkan opini yang mendiskreditkan pernikahan dini dengan berbagai dalih.

Menikah tentu membutuhkan ilmu dan kesiapan. Namun, mengkritik praktik poligami yang tidak sesuai syariat, serta pernikahan remaja yang dilakukan tanpa ilmu atau karena faktor lain seperti hamil di luar nikah, dan faktor sosial maupun ekonomi, misalnya, tentu bukanlah pijakan yang sahih untuk menghukumi praktik pernikahan poligami dan pernikahan dini yang sesuai syariat.

Hal ini membutuhkan kepekaan agar publik tak mudah ikut arus dalam pusaran narasi sesat yang tujuannya tak lain mengobok-obok syariat, padahal Allah serta Rasul-Nya telah menjelaskan mengenai hal tersebut dalam Al-Qur’an maupun hadis-hadis Rasulullah saw..

Baca juga:  Bagaimana Seharusnya Muslim Menyikapi Poligami

Publik harus cerdas dalam mencermati pusaran opini agar tak reaktif dan pragmatis dalam merespons isu yang digulirkan. Meski berkedok sinetron yang digagas sendiri oleh para pengusung kebebasan dengan menyuguhkan praktik pernikahan yang tidak sesuai tuntunan syariat.

Sebab, tujuan pembuat drama dan pengkritiknya sama saja. Sama-sama menjelek-jelekkan syariat. Beda kubu saja.

Satunya menyuguhkan fakta salah. Kubu lainnya mengkritik dan sibuk membuat tafsiran-tafsiran sesuai selera mereka. Alhasil, hukum yang diusung dari fakta yang salah tersebut menutupi syariat Islam yang mulia.

Mendudukkan Masalah Pernikahan Dini Sesuai Lensa Islam

Dalam kitab Nizhom Ijtima’i karya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dijelaskan bahwa pernikahan merupakan pengaturan hubungan antara unsur kelelakian (adz-dzakuurah/maskulinitas) dengan unsur keperempuanan (al-unuutsah/feminitas).

Dengan kata lain, pernikahan merupakan pengaturan interaksi antara dua jenis kelamin, dengan aturan yang khusus.

Peraturan tersebut mewajibkan agar keturunan dihasilkan hanya dari hubungan perkawinan saja. Melalui perkawinan tersebut, akan terealisasi perkembangbiakan spesies umat manusia. Inilah tujuan pernikahan dalam Islam.

Di sisi lain, Islam menganjurkan para pemuda yang telah mampu untuk menikah. Rasulullah saw bersabda,

Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah mampu menanggung beban, hendaklah segera menikah. Sebab, pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa karena puasa adalah perisai baginya.” (Muttafaq ‘alaih)

Di tengah arus budaya liberal dan kehidupan yang serba bebas seperti saat ini, nyaris sebagian besar remaja kita ikut arus dalam pusaran budaya liberal. Budaya ini dipromosikan secara bebas di berbagai media, terlebih saat perkembangan teknologi digital membawa dunia pada era tanpa batas.

Dengan mudahnya budaya barat masuk ke sudut-sudut rumah dan mengoyak-ngoyak pertahanan remaja muslim. Gejolak masa muda pada akhirnya diaktualisasikan dengan liar tanpa batasan.

Anehnya, pernikahan yang sejatinya merupakan solusi karena munculnya keinginan untuk memenuhi tuntutan naluri nau’ (ketertarikan pada lawan jenis), justru dipersepsi salah.

Baca juga:  Hukum Wanita Menawarkan Diri kepada Laki-laki untuk Dipoligami

Memang, pernikahan bukanlah satu fase yang mudah untuk dilalui. Di sinilah pentingnya negara hadir untuk melakukan edukasi, membantu keluarga sebagai institusi terkecil dalam kehidupan bernegara.

Jika saat ini negara mampu untuk merumuskan kebijakan terkait perlindungan anak, bukan perkara sulit tentunya bagi negara untuk merumuskan kebijakan yang melindungi masa remaja dengan menerapkan aturan interaksi antara laki-laki dan perempuan, termasuk turut serta melakukan edukasi tentang pernikahan begitu seorang anak beranjak balig.

Bukan hanya keluarga, negara memiliki peran besar dalam menyiapkan warganya untuk memasuki jenjang pernikahan, mempersiapkan anak laki-laki sebagai pemimpin, dan anak perempuan sebagai ibu yang dari rahimnya lahir para pelanjut peradaban mulia.

Sayangnya, dalam sistem sekuler seperti saat ini, yang mana negara berlepas tangan dan tak peduli akan kehidupan warganya, telah mengakibatkan terubrak-abriknya tatanan kehidupan masyarakat.

Merebaknya zina, pergaulan bebas, hamil di luar nikah, dan masalah yang melingkupi kehidupan remaja saat ini, tak lepas dari mandulnya peran negara dalam mengatur interaksi di tengah-tengah masyarakat

Padahal, jika paham bahwa institusi keluarga memegang peranan penting untuk mewujudkan satu negara yang tangguh, niscaya negara akan merumuskan kebijakan yang memperkuat pendidikan generasi berbasis institusi keluarga. Keluarga dan negara saling bahu-membahu, mewujudkan generasi sebagai tulang punggung peradaban.

Kontras dengan kondisi saat ini, para pemuda dibiarkan hidup dalam pergaulan bebas. Alih-alih menjadi tulang punggung peradaban, tak sedikit dari mereka yang menjadi budak seks, pecandu narkoba, dan tak paham tujuan hidup.

Poligami dalam Jebakan Perspektif Liberal

Sejak lama, poligami dipersepsikan sebagai pernikahan yang mengumbar syahwat dan hawa nafsu. Kehidupan pernikahan poligami digambarkan sebagai pernikahan yang mendiskreditkan perempuan seraya menganggap praktik poligami sebagai wujud supremasi kaum laki-laki atas perempuan.

Mendudukkan perempuan sebagai pihak yang tertindas memang ampuh memantik reaksi publik, terlebih para pejuang emansipasi.

Membahas praktik poligami yang berpijak pada fakta yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, di mana sebagian besar dilakukan minus ilmu dan modal “selingkuh”, seolah menjadi bumbu penyedap yang membuat pembahasan poligami kian semrawut dan mengobarkan perasaan benci dan justru melemahkan daya pikir.

Baca juga:  [News] "Pembatasan" Poligami, Menata Ulang Institusi Keluarga Muslim?

Syariat tak lagi disertakan dalam timbangan untuk bertindak, yang tersisa hanya rasa benci saat membahas poligami. Maka sudah seharusnya, publik memahami bagaimana Islam mendudukkan poligami ini.

Allah Swt. berfirman dalam kitab-Nya yang mulia,

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja…” (QS An-Nisa: 3)

Ayat ini diturunkan untuk membatasi jumlah istri pada batas maksimal empat orang. Ayat ini juga memerintahkan kepada suami yang melakukan poligami untuk berlaku adil di antara istri-istrinya, sebab berlaku adil adalah syariat. Adil dalam hal ini adalah dalam perkara yang dimampui suami dengan mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya.

Meski harus dipahami pula, adil bukanlah syarat untuk seseorang melakukan poligami. Adil adalah syariat yang dalam pembahasan poligami ini, diwajibkan bagi suami yang melakukannya. Jadi, adil dalam pembahasan ini tidak diposisikan sebagai syarat poligami sebagaimana yang kerap kita dengar.

Lawan dari adil adalah zalim. Maka, seorang suami yang tidak berlaku adil, dianggap telah melakukan kezaliman.

Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda,

“Siapa saja yang mempunyai dua orang istri, lalu ia lebih cenderung kepada salah satu dan mengabaikan yang lain, niscaya ia akan datang pada hari kiamat nanti berjalan sementara salah satu kakinya lumpuh atau pincang.(HR Ibnu Hibban di dalam Sahihnya)

Sudah selayaknya umat memahami segala sesuatu dengan timbangan syariat di tengah gempuran pemikiran dan keinginan kaum liberal untuk melakukan demonisasi ajaran Islam. Umat Islam harus waspada, cermat memindai setiap narasi sesat meski dalam balutan drama sinetron dan cerita fiktif yang disajikan. Wallaahu a’lam. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan