Kapan Sesuatu Menjadi Berhala?


Penulis: Kiai Utsman Zahid as-Sidany


MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Tentu sangat naif ketika kata berhala dibatasi pada arti patung. Berhala jauh lebih umum daripada patung.

Patung yang disembah adalah berhala. Sedangkan patung kuda yang hanya menjadi hiasan di sudut kota—meski hukumnya haram—dia bukan berhala. Sebaliknya, pohon besar yang disembah, dia bukan patung, tapi dia berhala. Jadi, berhala adalah ma’bud siwaAllah (yang disembah selain Allah).

Allah berfirman,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادࣰا یُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِۖ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengambil/menjadikan andad/sembahan selain Allah; mereka mencintai sembahan-sembahan itu seperti orang-orang mukmin mencintai Allah.” (QS Al-Baqarah: 165)

Kata “andad” merupakan jamak dari kata “nidd“. Para ulama mengatakan makna kata “nidd” adalah nazhir (yang menyerupai) , al-‘idl (yang selevel), al-mitsl (yang serupa/sama). Jadi, arti dari kata “nidd” adalah sekutu, pesaing, dan rival, yang kata Ibn Asyur secara lazim memberi pengertian “melawan” dan “menentang” Allah.


Berikut beberapa kutipan tafsir yang menjelaskan maksud kata “andad“:

1. Al-Biqa’i dalam Nazhm ad-Durar mengatakan,

﴿ومِنَ النّاسِ مَن يَتَّخِذُ﴾ وهم مَن لا يَعْقِلُ ﴿مِن دُونِ اللَّهِ﴾ الَّذِي لا كُفُؤَ لَهُ مَعَ وُضُوحِ الأدِلَّةِ ﴿أنْدادًا﴾ مِمّا خَلَقَهُ، ادَّعَوْا أنَّهم شُرَكاؤُهُ، أعَمُّ مِن أنْ يَكُونُوا أصْنامًا أوْ رُؤَساءَ يُقَلِّدُونَهم في الكُفْرِ بِاللَّهِ والتَّحْرِيمِ والتَّحْلِيلِ مِن غَيْرِ أمَرَ اللَّهُ

Intinya:Andad” lebih umum dari sekadar patung yang disembah atau para penguasa yang mereka ikuti dalam kufur kepada Allah, mengharamkan dan menghalalkan tanpa adanya perintah (landasan/dalil) dari Allah.

Jadi: Patung yang disembah adalah berhala. Penguasa yang menghalalkan dan mengharamkan dari hawa nafsu atau apa pun namanya, selain syariat Allah, adalah juga andad/sembahan alias berhala.

2. Ath-Thabari:

فقال بعضهم: هي آلهتهم التي كانوا يعبدونها من دون الله.

وقال آخرون: بل”الأنداد” في هذا الموضع، إنما هم سادتهم الذين كانوا يطيعونهم في معصية الله تعالى ذكره.

Keterangan: Mirip dengan keterangan Al-Biqa’i. Yakni, patung yang disembah adalah andad. Penguasa atau pemimpin yang ditaati dalam kemaksiatan kepada Allah juga andad.

3. Al-Baidhawi:

وَمِنَ النّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أنْدادًا﴾ مِنَ الأصْنامِ. وقِيلَ مِنَ الرُّؤَساءِ الَّذِينَ كانُوا يُطِيعُونَهم لِقَوْلِهِ تَعالى: ﴿إذْ تَبَرَّأ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا﴾ ولَعَلَّ المُرادَ أعَمُّ مِنهُما وهو ما يَشْغَلُهُ عَنِ اللَّهِ

Keterangan: Andad lebih umum dari sekadar patung atau pemimpin yang ditaati dalam kemaksiatan.

4. Ar-Razi mengatakan,

واخْتَلَفُوا في المُرادِ بِالأنْدادِ عَلى أقْوالٍ:

أحَدُها: أنَّها هي الأوْثانُ الَّتِي اتَّخَذُوها آلِهَةً لِتُقَرِّبَهَمْ إلى اللَّهِ زُلْفى، ورَجَوْا مِن عِنْدِها النَّفْعَ والضُّرَّ، وقَصَدُوها بِالمَسائِلِ، ونَذَرُوا لَها النُّذُورَ، وقَرَّبُوا لَها القَرابِينَ، وهو قَوْلُ أكْثَرِ المُفَسِّرِينَ، وعَلى هَذا الأصْنامُ أنْدادٌ بَعْضُها لِبَعْضٍ، أيْ أمْثالٌ لَيْسَ إنَّها أنْدادًا لِلَّهِ، أوِ المَعْنى: إنَّها أنْدادٌ لِلَّهِ تَعالى بِحَسَبِ ظُنُونِهِمُ الفاسِدَةِ.

وثانِيها: أنَّهُمُ السّادَةُ الَّذِينَ كانُوا يُطِيعُونَهم فَيُحِلُّونَ لِمَكانِ طاعَتِهِمْ ما حَرَّمَ اللَّهُ، ويُحَرِّمُونَ ما أحَلَّ اللَّهُ، عَنِ السُّدِّيِّ. والقائِلُونَ بِهَذا القَوْلِ رَجَّحُوا هَذا القَوْلَ عَلى الأوَّلِ مِن وُجُوهٍ:

الأوَّلُ: أنَّ قَوْلَهُ: ﴿يُحِبُّونَهم كَحُبِّ اللَّهِ﴾ الهاءُ والمِيمُ فِيهِ ضَمِيرُ العُقَلاءِ.

الثّانِي: أنَّهُ يَبْعُدُ أنَّهم كانُوا يُحِبُّونَ الأصْنامَ كَمَحَبَّتِهِمُ اللَّهِ تَعالى مَعَ عِلْمِهِمْ بِأنَّها لا تَضُرُّ ولا تَنْفَعُ.

الثّالِثُ: أنَّ اللَّهَ تَعالى ذَكَرَهُ بَعْدَ هَذِهِ الآيَةِ: ﴿إذْ تَبَرَّأ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا﴾ [البقرة: ١٦٦] وذَلِكَ لا يَلِيقُ إلّا بِمَنِ اتَّخَذَ الرِّجالَ أنْدادًا وأمْثالًا لِلَّهِ تَعالى، يَلْتَزِمُونَ مِن تَعْظِيمِهِمْ والِانْقِيادِ لَهم ما يَلْتَزِمُهُ المُؤْمِنُونَ مِنَ الِانْقِيادِ لِلَّهِ تَعالى.

Intinya: Ada beberapa tafsir untuk kata andad. Patung yang disembah, penguasa atau pemimpin yang ditaati yang menghalalkan dan mengarahkan bukan berdasar wahyu, jelas merupakan andad. Di sini Ar-Razi condong pada pendapat bahwa “andad” di sini adalah para penguasa yang menghalalkan dan mengharamkan tanpa landasan wahyu.


Begitu makna andad. Coba kita kemukakan ayat lain yang juga bicara andad. Allah berfirman,

فَلَا تَجۡعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادࣰا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ﴾ [البقرة ٢٢]

Inti ayat: Allahlah pencipta langit dan bumi, pemberian rezeki, Mahakuasa, maka Allah murka jika ada manusia menjadikan andad (sembahan) selain Allah.


Mari kita sekarang perhatikan di tengah-tengah kehidupan modern kita, termasuk di negeri ini, apakah ada manusia yang menjadikan andad/sembahan selain Allah? Jawabannya pasti ada.

Alhamdulillah, di negeri ini tidak banyak yang menjadikan patung sebagai andad. Tapi, ada tidak, sesuatu (bisa orang, bisa juga ide atau gagasan, atau apa saja) yang “dihargamatikan”, dijadikan sebagai pesaing-pesaing Allah, atau disejajarkan dengan Allah dalam mengharamkan dan menghalalkan, dijadikan pesaing bagi Allah dalam melahirkan hukum, dijadikan pesaing sekaligus penentang hukum-hukum dan syariat Allah?

Adakah di negeri ini, sesuatu yang dikultuskan, entah atas nama kesepakatan nenek moyang atau yang lain, yang kemudian bagi yang menentangnya bisa dihukum penjara, dikriminalkan, bahkan layak diusir dari negeri ini?

Jika jawaban dari pertanyaan di atas: ada, itulah yang kita sebut berhala modern. Wallahu a’lam. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan