[News] Jangan-Jangan, Pemerintah Sudah Menganut Ideologi Transnasional Radikal?

MuslimahNews.com, NASIONAL — Pada puncak peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021 kemarin, Presiden Jokowi mengingatkan masyarakat akan bahaya ideologi transnasional radikal. Ia mengaitkan bahaya tersebut dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat.

Pernyataan Presiden ini sontak menuai polemik di tengah masyarakat. Maklum, presiden tak menjelaskan apa yang ia maksud sebagai ideologi transnasional radikal.

Beberapa pengamat menuding bahwa pernyataan itu sejatinya menunjuk pada pemerintah sendiri. Mereka menyebut bahwa salah satu ideologi transnasional yakni kapitalisme neoliberalisme justru sudah diterapkan sejak lama oleh pemerintahan Indonesia. Khususnya tampak dari kebijakan ekonominya.

Saat dihubungi MNews (1/6/2021), pengamat politik muslimah Iffah Ainur Rochmah menyatakan hal senada. Menurutnya, untuk menanggapi pernyataan Presiden tersebut, kita harus memahami dulu apa yang dimaksudkan.

“Bila term transnasional itu untuk menunjuk pada ide yang menyebar lintas negara, maka kita sepakat bahwa banyak ide berbahaya yang saat ini diimpor dari luar. Ide-ide tersebut memengaruhi serta sudah dipraktikkan oleh individu, bahkan masuk dalam banyak regulasi,” jelasnya.

Iffah mencontohkan, ide liberalisme adalah ide transnasional. Ide ini jelas-jelas telah menghasilkan individu yang doyan seks bebas dan berujung pada maraknya  aborsi.

“Bahkan, membuat pelaku L68eTe marak. Semuanya merupakan kerusakan,” ujarnya.

Baca juga:  Demokrasi Antikritik

Ide kapitalisme juga termasuk ide transnasional yang berbahaya, tambahnya. Bahkan, juga sudah dipraktikkan.

“Lalu apa hasilnya? SDA dikuasai asing. Layanan publik diprivatisasi hingga menyengsarakan rakyat. Bahkan, utang luar negeri yang makin mengkhawatirkan adalah buah busuk praktik kapitalisme ini,” tegasnya.

Iffah pun menekankan, ada ide transnasional yang jarang diakui bahayanya, yaitu demokrasi. Menurutnya, ide yang mendewakan suara terbanyak ini telah melahirkan banyak regulasi yang menyusahkan rakyat.

“Bukankah UU Cipta Kerja lahir dari rahim demokrasi? Bukankah korupsi massal makin tak terkendali juga akibat penerapan demokrasi yang berbiaya politik mahal?” tukasnya.

Mestinya, ia melanjutkan, kita harus mengakui dan menginsyafi—dalam skala individu maupun bangsa—bahwa ideologi transnasional yang sudah mengakar ini (demokrasi, ed.) nyata terbukti menghasilkan banyak kerugian, kerusakan, bahkan mengantarkan pada jurang kehancuran.

Mengarah pada Ide Islam

Iffah menyinyalir, narasi soal ideologi transnasional ini tampaknya memang diarahkan kepada ide-ide yang bersumber dari Islam. Hal ini sejalan dengan apa yang dilansir CNN saat mengonfirmasi pidato Presiden tersebut kepada Jubir Istana, Fazlur Rahman. Fazlur mencontohkan ide transnasional itu adalah ide yang dibawa HT1 atau ide yang bertentangan dengan kebangsaan.

“Apalagi kalau bukan Khilafah ajaran Islam?” tanya Iffah retorik.

Baca juga:  Kapitalisme Amerika Sebabkan Anak-Anak dan Wanita Meninggal Dunia

Karenanya, Iffah mengingatkan publik, narasi ini adalah narasi lama yang terus dinyanyikan kelompok liberal dan terus didaur ulang agar tampak update. Mereka memang terus berusaha agar publik beranggapan bahwa ajaran Islam adalah berbahaya.

“Apa pantas menyebut syariat Islam sebagai ide transnasional yang berbahaya? Apa enggak lancang menganggap perlu waspada terhadap ide Khilafah yang dijelaskan gamblang oleh pada alim fukaha sebagai fikih siyasah?” tanyanya.

Iffah menjelaskan, fikih siyasah adalah kaidah, hukum, dan prinsip-prinsip politik dan pemerintahan menurut tuntunan Islam, sehingga mestinya umat Islam tidak alergi.

“Bahkan umat harus mengevaluasi kenapa bisa terjadi kekacauan politik, ekonomi, kemerosotan kualitas SDM, dan seterusnya, di negeri mayoritas muslim ini?” tegasnya.

Menurutnya, situasi ini terjadi justru karena kita telah mencampakkan ideologi Islam dan malah merangkul serta mengadopsi ide transnasional yang bertentangan Islam. Maka, seorang muslim mestinya sadar bahwa din (agama) ini bukan hanya memberi tuntunan ubudiyah saja, tapi seluruh aspek kehidupan.

“Kita juga harus yakin din ini mampu memberi rahmat bagi seluruh alam bila diadopsi sempurna. Din ini—yakni Islam—adalah ideologi yang memang diposisikan sebagai rival oleh negara pengemban ideologi kapitalisme,” pungkasnya. [MNews/SNA-Gz]

Tinggalkan Balasan